Kamis, 05 September 2013


Belajar Efektif di Perguruan Tinggi


            Kebanyakan orang menganggap belajar di perguruan tinggi berbeda sekali dengan di SMA. Mungkin hal ini sebenarnya terjadi juga pada peralihan setiap jenjang pendidikan, misalnya dari SD ke SMP, dan dari SMP ke SMA, atau jenjang pendidikan lainnya. Bahkan dalam satu jenjang pendidikan saja metode belajar yang digunakan bisa beragam. Agar lebih unggul, suatu SMA mungkin menerapkan metoda belajar hasil penelitian mutakhir. Di samping dianggap dapat menghasilkan anak didik yang lebih unggul, perbedaan metode belajar ini sering juga dianggap sebagai alat promosi. Semangat
kompetisi berperan besar dalam mendorong semua orang ingin lebih unggul.
Kalau dulu perbedaan ini dihadapi dengan “biasa-biasa” saja, secara alamiah, sekarang kelihatannya tidak bisa kita bersikap demikian. Perlu persiapan lebih matang, mengenali dan memahami cara belajar di perguruan tinggi, dan mempelajari cara-cara belajar yang efektif agar hasil belajar maksimal. Apakah orang dulu kurang efektif cara belajarnya ?   Ataukah manusia memang harus selalu meningkatkan segala hal, selalu meningkatkan kemampuannya, selalu mengefektifkan cara-caranya dalam mengerjakan apapun, sampai batas yang entah bagaimana. Keadaan dunia yang serba cepat dan seperti tanpa batas serta berkembang serba sangat cepat mendorong kita harus selalu meningkatkan diri.
Sebetulnya wajar bila apa yang kita pelajari, dan cara kita mempelajarinya berbeda pada tiap tingkat usia yang berbeda. Waktu masih bayi apa yang bisa dipelajari tentu masih sangat terbatas, cara belajar pun masih sangat pasif, menunggu lingkungan yang beraksi, menunggu ayah ibu mengajak bicara atau bermain. Tindakan aktif bayi mungkin hanya menangis untuk menarik perhatian. Semakin bertambah usia, otak dan fisik semakin berkembang, kita semakin mampu lebih aktif dalam segala kegiatan. Keaktifan ini nanti akan menurun lagi bila mendekati akhir usia dan semakin rapuhnya tubuh kita. Jadi tidak masuk logika bila cara belajar di SMA dipertahankan di perguruan tinggi. Perlu penyesuaian.
Dorongan kompetisi, perkembangan pengetahuan dan teknologi yang pesat, perkembangan kemampuan dan kebutuhan sejalan dengan bertambahnya usia, membuat cara belajar yang efektif lebih dibutuhkan lagi. Untuk apa kita belajar selama 3 jam, kalau yang “benar-benar belajar” efektifnya hanya 1 jam. Hanya buang waktu. Untuk apa juga kita mempelajari segala macam hal tapi sebagian besar tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Otak kita juga memiliki kemampuan dalam mengingat dan mencerna informasi yang masuk, sehingga bila dipaksakan juga percuma. Karena metode belajar di setiap lingkungan belajar dan di setiap jenjang pendidikan sangat beragam, begitu pula setiap individu sebenarnya mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda, maka akan lebih efektif bila kita coba mengenali diri kita sendiri, dan cara belajar yang efektif bagi diri kita masing-masing.

Proses belajar tidak lepas dari “ingat dan lupa”. Semakin banyak yang dapat diingat dari apa yang dibaca, atau didengar, atau dilihat, atau dialami, maka semakin banyak pula pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar tersebut. Bila lebih banyak yang terlupakan, maka kita belajar dengan cara yang tidak efektif. Bagaimana meningkatkan jumlah informasi yang dapat kita ingat ?
Manusia ternyata lumayan pelupa. Penelitian H.F. Spitzer (dalam buku How to Study in College oleh Walter Pauk) terhadap 3605 mahasiswa yang belajar dari buku kuliah menunjukkan hal ini. Proses lupa yang terbanyak justeru terjadi selama hari pertama mahasiswa-mahasiswa tersebut belajar. Setelah satu hari, sebanyak 46% materi pelajaran sudah terlupakan, setelah 7 hari, terlupakan 65%, dan 14 hari 79%. Kecepatan lupa kemudian menurun. Setelah 21 hari 81% terlupa, setelah 28 hari 82%, dan setelah 63 hari 83%. Pelajaran yang teringat tinggal 17%. Padahal kita lebih mudah mengingat apa yang kita baca dibanding yang kita dengar. Jadi berapa persen yang ketinggalan di kepala mahasiswa dari kuliah lisan seorang dosen ?
Para ahli tentu saja tidak menyerah. Dari studi mereka diketahui bahwa kelupaan dapat dikurangi bila kita berkonsentrasi penuh berusaha memahami materi pelajaran pada saat pertama menghadapinya, sehingga terbentuk kesan mendalam yang akan tersimpan dalam ingatan. Tidak ada yang teringat bila tidak berkesan. Mengulang pelajaran atau bacaan dapat mengalihkan ingatan jangka pendek keingatan jangka panjang, kata ahlinya. Menyicil bahan pelajaran selama beberapa hari akan lebih nempel dibanding menghabiskannya dalam semalam.
Dalam bukunya Pauk menguraikan 10 prinsip belajar dan mengingat agar efektif. Prinsip pertama adalah ketertarikan pada pelajaran. Kita harus menyenangi bahan pelajaran agar terdorong dan bersemangat untuk mempelajarinya. Bagaimana kalau kita sebel kepada dosen atau pembimbing sehingga sebel pula terhadap pelajarannya ?  Apa boleh buat, kita harus mencari cara agar muncul cinta pada pelajaran ini. Salah satu cara mungkin dengan membentuk kelompok belajar bersama teman-teman yang menyenangkan.
Prinsip kedua adalah kita harus selektif. Artinya kita harus memecah bahan pelajaran yang banyak menjadi beberapa bagian kecil yang lebih mudah diingat. Kita juga perlu membatasi belajar hanya yang penting-penting saja, jangan semua kata mendetail harus diingat. Prinsip ini akan lebih mudah dijalankan bila disertai dengan pemahaman terhadap isi pelajaran dan keterkaitan satu bagian dengan bagian lainnya. Hal ini membutuhkan pandangan lebih luas untuk menangkap keseluruhan jaringan pelajaran, tidak hanya sempit pada detail tertentu.
Prinsip ketiga adalah keinginan untuk mengingat. Keinginan terhadap sesuatu biasanya mendorong kita untuk lebih memperhatikan dan memahaminya. Kejelasan tujuan dan manfaat dari suatu pelajaran akan mendorong membantu tumbuhnya keinginan untuk mempelajarinya. Bila dosen kurang menjelaskannya, mahasiswa perlu berinisiatif mencari tahu apa tujuan dan manfaat dari suatu mata kuliah.
Prinsip keempat adalah pengetahuan yang sudah kita miliki. Informasi baru yang kita tangkap baru nyambung bila sebelumnya kita sudah punya pengetahuan mengenai hal yang sama. Semester pertama dalam perkuliahan biasanya merupakan proses membentuk bank data pengetahuan, agar pada semester selanjutnya mahasiswa dapat membentuk pemahaman dan dapat saling mengaitkan beragam pengetahuan yang diperolehnya.
Prinsip kelima adalah pengorganisasian bahan agar menjadi berarti. Tiap orang bisa punya cara sendiri, yang penting pengorganisasian ini harus menjadi lebih sederhana, baik struktur maupun isinya. Banyak cara mengorganisasikan bahan pelajaran, misalnya dengan mengelompokkan berdasar kesamaan jenis atau sifat.
Prinsip keenam adalah mengungkapkan dengan kata-kata sendiri. Bila kita dapat mengungkapkan materi pelajaran dengan kata-kata kita sendiri, berarti kita sudah ingat dan memahaminya. Cara sederhana untuk melatihnya adalah dengan menutup catatan kita, sisakan hanya judul atau topiknya, lalu ungkapkan isi catatan dengan bersuara. Cara ini lebih efektif dibanding hanya mengulang-ulang membaca catatan atau buku.
Prinsip ketujuh adalah pengonsolidasian. Menurut para psikolog, kesan yang kita peroleh butuh waktu, sekitar 4 detik hingga 15 menit, untuk mengendap dan terkonsolidasi dalam benak kita. Proses ini dapat dibantu dengan mengucapkan atau menuliskan informasi yang kita peroleh, atau dengan mereview catatan segera setelah kuliah selesai.
Prinsip kedelapan adalah memperpendek waktu belajar. Membagi waktu belajar yang panjang menjadi beberapa sesi sering lebih menguntungkan karena membuat kita tidak terlalu lelah sehingga tetap bisa konsentrasi, motivasi juga menjadi lebih tinggi, dan kebosanan bisa terhindarkan. Tapi penerapan prinsip ini perlu memperhatikan kesinambungan bahan pelajaran. Dalam tugas penulisan mungkin prinsip ini tidak cocok, karena bila diputus di tengah jalan ide penulisan bisa terputus dan terlupakan.
Prinsip kesembilan adalah visualisasi mental. Sudah sama kita ketahui bahwa otak kiri menyimpan informasi verbal, sedangkan otak kanan menyimpan informasi visual. Berdasar penelitian Dr. Allan Paivio dari University of Western Ontario, bila kita mengingat informasi hanya dalam bentuk kata-kata saja, maka hanya sebelah otak kita saja yang digunakan. Bila informasi yang sama tersimpan juga dalam bentuk gambar atau sketsa, akan terbentuk kombinasi yang akan sangat kuat teringat. Jadi kita perlu membiasakan diri membuat diagram atau sketsa dari kata-kata.
Prinsip kesepuluh adalah keterkaitan atau hubungan. Caranya dengan mengaitkan informasi baru dengan ingatan yang sudah kita miliki, sehingga terangkai menjadi satu. Dengan demikian, ingatan terhadap informasi lama akan memicu teringatnya informasi baru tersebut.

Di samping 10 prinsip di atas ada alat atau metode yang dikembangkan untuk membantu memudahkan kita mengingat, misalnya mnemonic devices. Metode ini menggunakan kata-kata, ungkapan, kalimat, atau sajak, yang mudah diingat, yang dihubungkan dengan informasi yang sulit diingat.
Sistem 3R merupakan cara belajar yang lebih terstruktur. Langkah pertama adalah membaca (Read), dan membaca ulang sampai tahu apa yang dimaksud pengarang dalam tiap paragraf. Kemudian memberi tanda atau catatan di buku teks atau buku terpisah (Record). Tentu saja perlu selektif. Dan terakhir adalah mengungkapkan dengan kata-kata sendiri sambil menutup bab terkait (Recite). Ada sistem-sistem lain yang mirip dengan 3R, tapi lebih rumit. Bila tertarik dapat dilihat dalam buku How To Study In College, Walter Pauk.

Di samping ingatan yang kuat, badan yang sehat sangat dibutuhkan agar dapat belajar dengan baik. Hal “sepele” ini yang sering diabaikan. Mahasiswa sering menganggap badannya oke-oke saja. Mahasiswa sering lupa makan, atau makan sembarangan dan tidak teratur, dan kurang tidur saat mengerjakan dan mengejar deadline pemasukan tugas. Di samping proses belajar terganggu, cukup sering tiba-tiba jatuh sakit.
Gerakan tubuh dapat memacu aliran darah dan kerja pernapasan, sehingga belajar akan lebih efektif. Penelitian Jensen dan Dabney (2000) merekomendasikan peregangan dan napas yang dalam selama 3 menit untuk tiap periode 1 jam belajar terus menerus. Ahli lain menganjurkan setelah 1-2 jam melakukan kegiatan terkonsentrasi kita istirahat, betul-betul istirahat, selama 5-10 menit.
Tiap orang mempunyai siklus bioritmik masing-masing. Kita perlu mengenali kapan waktu puncak untuk belajar diri kita sendiri, dan menyesuaikannya dengan irama belajar kita. Kita juga perlu mengetahui kecepatan belajar atau mengerjakan tugas masing-masing agar dapat mengatur waktu yang tepat.
Belajar berkelompok akan mendorong mahasiswa lebih aktif mengungkapkan pendapatnya, dengan demikian mahasiswa juga terdorong mempersiapkan diri dengan lebih banyak belajar. Dalam kelompok mahasiswa tidak lagi berpikir seorang diri menghadapi kebuntuan masalahnya, tapi dapat mendiskusikan pemecahan bersama temannya. Cukup banyak mahasiswa yang menghadapi kesulitan belajar, tapi sulit juga berteman dan belajar berkelompok, akan semakin jatuh prestasinya.
Lingkungan tempat belajar berperan besar dalam menentukan keberhasilan proses belajar kita. Suasana ruangan yang tenang biasanya sangat efektif bagi kebanyakan orang untuk berkonsentrasi belajar, tapi mungkin juga tidak demikian bagi orang lain, karena membuatnya ingin tidur. Secara umum, tingkat penerangan, suhu udara, dan kualitas udara yang baik dan tepat akan meningkatkan kemampuan belajar kita. Kita perlu mencari atau menciptakan lingkungan belajar yang sesuai dengan diri kita sendiri.
Iringan musik pada saat belajar juga banyak diyakini dapat merangsang kerja otak sehingga meningkatkan kemampuan belajar. Musik klasik terutama Mozart sudah banyak diterima dapat membantu meningkatkan konsentrasi belajar. Penelitian terakhir yang dilakukan Lernquadrat dari Austria bahkan menyimpulkan lagu-lagu Robbie Williams dan Anastacia adalah yang terbaik yang dapat menstimulasi kemampuan belajar anak, membuat anak dapat lebih berkonsentrasi dan mengingat lebih banyak informasi. Alasannya karena lebih cocok dengan selera anak-anak. Tapi jangan memaksakan diri bila memang anda sama sekali tidak suka musik.
Sebenarnya masih banyak lagi faktor yang dapat mempengaruhi dan meningkatkan efektifitas belajar kita. Tidak ada salahnya kita mencoba menerapkan berbagai cara belajar, tapi jangan memaksakan cara yang ternyata tidak cocok dengan gaya belajar kita. Mungkin yang paling penting adalah cobalah buat proses belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan. Nikmati.

by : Franky L.
d.dan5656@yahoo.com

1 comments:

  1. Nice Info Jangan Lupa Kunjungi Blog Kami http://skripsisurabaya.blogspot.co.id/

    BalasHapus