Jumat, 19 Oktober 2012


7 Langit & 7 Malaikat Penjaga

Posted on  by Salik Paramartha
Kisah Sahabat NabiTelah diceritakan oleh Ibnu al-Mubarak tentang seorang laki-laki yang bernama Khalid bin Ma’dan, dimana ia pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal ra., salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw.
“Wahai Mu’adz! Ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang telah engkau dengar langsung dari Rasulullah saw., suatu hadits yang engkau hafal dan selalu engkau ingat setiap harinya disebabkan oleh sangat kerasnya hadits tersebut, sangat halus dan mendalamnya hadits tersebut. Hadits yang manakah yang menurut engkau yang paling penting?”
Kemudian, Khalid bin Ma’dan menggambarkan keadaan Mu’adz sesaat setelah ia mendengar permintaan tersebut, “Mu’adz tiba-tiba saja menangis sedemikian rupa sehingga aku menduga bahwa beliau tidak akan pernah berhenti dari menangisnya. Kemudian, setelah beliau berhenti dari menangis, berkatalah Mu’adz: Baiklah aku akan menceritakannya, aduh betapa rinduku kepada Rasulullah, ingin rasanya aku segera bersua dengan beliau”

Selanjutnya Mu’adz bin Jabal ra. mengisahkan sebagai berikut, “Ketika aku mendatangi Rasulullah saw., beliau sedang menunggangi unta dan beliau menyuruhku untuk naik di belakang beliau. Maka berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut. Sesaat kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, kemudian bersabdalah Rasulullah saw.:”
“Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang memberikan ketentuan (qadha) atas segenap makhluk-Nya menurut kehendak-Nya, ya Mu’adz!”. Aku menjawab, “Labbaik yaa Sayyidal Mursaliin”.
“Wahai Mu’adz! Sekarang akan aku beritakan kepadamu suatu hadits yang jika engkau mengingat dan tetap menjaganya maka (hadits) ini akan memberi manfaat kepadamu di hadhirat Allah, dan jika engkau melalaikan dan tidak menjaga (hadits) ini maka kelak di Hari Qiyamah hujjahmu akan terputus di hadhirat Allah Ta’ala!”
“Wahai Mu’adz! Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menciptakan tujuh Malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh lelangit dan bumi. Pada setiap langit tersebut ada satu Malaikat yang menjaga khazanah, dan setiap pintu dari pintu-pintu lelangit tersebut dijaga oleh seorang Malaikat penjaga, sesuai dengan kadar dan keagungan (jalaalah) pintu tersebut.
Maka naiklah al-Hafadzah (malaikat-malaikat penjaga insan) dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang telah ia lakukan semenjak subuh hari hingga petang hari. Amal perbuatan tersebut tampak bersinar dan menyala-nyala bagaikan sinar matahari, sehingga ketika al-Hafadzah membawa naik amal perbuatan tersebut hingga ke Langit Dunia mereka melipat gandakan dan mensucikan amal tersebut. Dan ketika mereka sampai di pintu Langit Pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya! Akulah ‘Shaahibul Ghiibah’, yang mengawasi perbuatan ghiibah (menggunjing orang), aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal ini melewatiku untuk menuju ke langit yang berikutnya!”
Kemudian naiklah pula al-Hafadzah yang lain dengan membawa amal shalih diantara amal-amal perbuatan seorang hamba. Amal shalih itu bersinar sehingga mereka melipat-gandakan dan mensucikannya. Sehingga ketika amal tersebut sampai di pintu Langit Kedua, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, karena ia dengan amalannya ini hanyalah menghendaki kemanfaatan duniawi belaka! Akulah ‘Malakal Fakhr’, malaikat pengawas kemegahan, aku telah diperintah Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan ini melewatiku menuju ke langit berikutnya, sesungguhnya orang tersebut senantiasa memegahkan dirinya terhadap manusia sesamanya di lingkungan mereka!”. Maka seluruh malaikat mela’nat orang tersebut hingga petang hari.
Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba yang lain. Amal tersebut demikian memuaskan dan memancarkan cahaya yang jernih, berupa amal-amal shadaqah, shalat, shaum, dan berbagai amal bakti (al-birr) yang lainnya. Kecemerlangan amal tersebut telah membuat al-Hafadzah takjub melihatnya, mereka pun melipat-gandakan amal tersebut dan mensucikannya, mereka diizinkan untuk membawanya. Hingga sampailah mereka di pintu Langit Ketiga, maka berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya! Akulah ‘Shaahibil Kibr’, malaikat pengawas kesombongan, aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini lewat dihadapanku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya pemilik amal ini telah berbuat takabbur di hadapan manusia di lingkungan (majelis) mereka!”
Kemudian naiklah al-Hafadzah yang lainnya dengan membawa amal seorang hamba yang sedemikian cemerlang dan terang benderang bagaikan bintang-bintang yang gemerlapan, bagaikan kaukab yang diterpa cahaya. Kegemerlapan amal tersebut berasal dari tasbih, shalat, shaum, haji dan umrah. Diangkatlah amalan tersebut hingga ke pintu Langit Keempat, dan berkatalah Malaikat penjaga pintu langit kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah, punggung, dan perut dari si pemiliknya! Akulah ‘Shaahibul Ujbi’, malaikat pengawas ‘ujub (mentakjubi diri sendiri), aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya si pemilik amal ini jika mengerjakan suatu amal perbuatan maka terdapat ‘ujub (takjub diri) didalamnya!”
Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba hingga mencapai ke Langit Kelima, amalan tersebut bagaikan pengantin putri yang sedang diiring diboyong menuju ke suaminya. Begitu sampai ke pintu Langit Kelima, amalan yang demikian baik berupa jihad, haji dan umrah yang cahayanya menyala-nyala bagaikan sinar matahari. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya dan pikulkanlah pada pundaknya! Akulah ‘Shaahibul Hasad’, malaikat pengawas hasad (dengki), sesungguhnya pemilik amal ini senantiasa menaruh rasa dengki (hasad) dan iri hati terhadap sesama yang sedang menuntut ilmu, dan terhadap sesama yang sedang beramal yang serupa dengan amalannya, dan ia pun juga senantiasa hasad kepada siapapun yang berhasil meraih fadhilah-fadhilah tertentu dari suatu ibadah dengan berusaha mencari-cari kesalahannya! Aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku untuk menuju ke langit berikutnya!”
Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang memancarkan cahaya yang terang benderang seperti cahaya matahari, yang berasal dari amalan menyempurnakan wudhu, shalat yang banyak, zakat, haji, umrah, jihad, dan shaum. Amal perbuatan ini mereka angkat hingga mencapai pintu Langit Keenam. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu ini kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, sesungguhnya sedikitpun ia tidak berbelas kasih kepada hamba-hamba Allah yang sedang ditimpa musibah (balaa’) atau ditimpa sakit, bahkan ia merasa senang dengan hal tersebut! Akulah ‘Shaahibur-Rahmah’, malaikat pengawas sifat rahmah (kasih sayang), aku telah diperintahkan Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya!”
Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang lain, amal-amal berupa shaum, shalat, nafaqah, jihad, dan wara’ (memelihara diri dari perkara-perkara yang haram dan subhat/meragukan). Amalan tersebut mendengung seperti dengungan suara lebah, dan bersinar seperti sinar matahari. Dengan diiringi oleh tiga ribu malaikat, diangkatlah amalan tersebut hingga mencapai pintu Langit Ketujuh. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya, pukullah anggota badannya dan siksalah hatinya dengan amal perbuatannya ini! Akulah ‘Shaahibudz-Dzikr’, malaikat pengawas perbuatan mencari nama-diri (ingin disebut-sebut namanya), yakni sum’ah (ingin termashur). Akulah yang akan menghijab dari Rabb-ku segala amal perbuatan yang dikerjakan tidak demi mengharap Wajah Rabb-ku! Sesungguhnya orang itu dengan amal perbuatannya ini lebih mengharapkan yang selain Allah Ta’ala, ia dengan amalannya ini lebih mengharapkan ketinggian posisi (status) di kalangan para fuqaha (para ahli), lebih mengharapkan penyebutan-penyebutan (pujian-pujian) di kalangan para ulama, dan lebih mengharapkan nama baik di masyarakat umum! Aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini lewat dihadapanku! Setiap amal perbuatan yang tidak dilakukan dengan ikhlash karena Allah Ta’ala adalah suatu perbuatan riya’, dan Allah tidak akan menerima segala amal perbuatan orang yang riya’!”
Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum, haji, umrah, berakhlak baik, diam, dan dzikrullah Ta’ala. Seluruh malaikat langit yang tujuh mengumandang-kumandangkan pujian atas amal perbuatan tersebut, dan diangkatlah amalan tersebut dengan melampaui seluruh hijab menuju ke hadhirat Allah Ta’ala. Hingga sampailah dihadhirat-Nya, dan para malaikat memberi kesaksian kepada-Nya bahwa ini merupakan amal shalih yang dikerjakan secara ikhlash karena Allah Ta’ala.
Maka berkatalah Allah Ta’ala kepada al-Hafadzah, “Kalian adalah para penjaga atas segala amal perbuatan hamba-Ku, sedangkan Aku adalah Ar-Raqiib, Yang Maha Mengawasi atas segenap lapisan hati sanubarinya! Sesungguhnya ia dengan amalannya ini tidaklah menginginkan Aku dan tidaklah mengikhlashkannya untuk-Ku! Amal perbuatan ini ia kerjakan semata-mata demi mengharap sesuatu yang selain Aku! Aku yang lebih mengetahui ihwal apa yang diharapkan dengan amalannya ini! Maka baginya laknat-Ku, karena ini telah menipu orang lain dan telah menipu kalian, tapi tidakklah ini dapat menipu Aku! Akulah Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib, Maha Melihat segala apa yang ada di dalam hati, tidak akan samar bagi-Ku setiap apa pun yang tersamar, tidak akan tersembunyi bagi-Ku setiap apa pun yang bersembunyi! Pengetahuan-Ku atas segala apa yang akan terjadi adalah sama dengan Pengetahuan-Ku atas segala yang baqa (kekal), Pengetahuan-Ku tentang yang awal adalah sama dengan Pengetahuan-Ku tentang yang akhir! Aku lebih mengetahui perkara-perkara yang rahasia dan lebih halus, maka bagaimana Aku dapat tertipu oleh hamba-Ku dengan ilmunya? Bisa saja ia menipu segenap makhluk-Ku yang tidak mengetahui, tetapi Aku Maha Mengetahui Yang Ghaib, maka baginya laknat-Ku!”
Maka berkatalah malaikat yang tujuh dan 3000 malaikat yang mengiringi, “Yaa Rabbana, tetaplah laknat-Mu baginya dan laknat kami semua atasnya!”, maka langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya menjatuhkan la’nat kepadanya.
Setelah mendengar semua itu dari lisan Rasulullah saw. maka menagislah Mu’adz dengan terisak-isak, dan berkata, “Wahai Rasulullah! Engkau adalah utusan Allah sedangkan aku hanyalah seorang Mu’adz, bagaimana aku dapat selamat dan terhindar dari apa yang telah engkau sampaikan ini?”
Berkatalah Rasulullah saw., “Wahai Mu’adz! Ikutilah Nabi-mu ini dalam soal keyakinan sekalipun dalam amal perbuatanmu terdapat kekurangan. Wahai Mu’adz! Jagalah lisanmu dari kebinasaan dengan meng-ghiibah manusia dan meng-ghiibah saudara-saudaramu para pemikul Al-Qur’aan. Tahanlah dirimu dari keinginan menjatuhkan manusia dengan apa-apa yang kamu ketahui ihwal aibnya! Janganlah engkau mensucikan dirimu dengan jalan menjelek-jelekan saudara-saudaramu! Janganlah engkau meninggikan dirimu dengan cara merendahkan saudara-saudaramu! Pikullah sendiri aib-aibmu dan jangan engkau bebankan kepada orang lain”
“Wahai Mu’adz! Janganlah engkau masuk kedalam perkara duniamu dengan mengorbankan urusan akhiratmu! Janganlah berbuat riya’ dengan amal-amalmu agar diketahui oleh orang lain dan janganlah engkau bersikap takabbur di majelismu sehingga manusia takut dengan sikap burukmu!”
“Janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang sementara di hadapanmu ada orang lain! Janganlah engkau mengagung-agungkan dirimu dihadapan manusia, karena akibatnya engkau akan terputus dari kebaikan dunia dan akhirat! Janganlah engkau berkata kasar di majelismu dan janganlah engkau merobek-robek manusia dengan lisanmu, sebab akibatnya di Hari Qiyamah kelak tubuhmu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka Jahannam!”
“Wahai Mu’adz! Apakah engkau memahami makna Firman Allah Ta’ala: ‘Wa naasyithaati nasythan!’ (‘Demi yang mencabut/menguraikan dengan sehalus-halusnya!’, An-Naazi’aat [79]:2)? Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Apakah itu wahai Rasulullah?”
Rasulullah saw. bersabda, “Anjing-anjing di dalam Neraka yang mengunyah-ngunyah daging manusia hingga terlepas dari tulangnya!”
Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Ya Rasulullah, siapakah manusia yang bisa memenuhi seruanmu ini sehingga terhindar dari kebinasaan?”
Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Mu’adz, sesungguhnya hal demikian itu sangat mudah bagi siapa saja yang diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala! Dan untuk memenuhi hal tersebut, maka cukuplah engkau senantiasa berharap agar orang lain dapat meraih sesuatu yang engkau sendiri mendambakan untuk dapat meraihnya bagi dirimu, dan membenci orang lain ditimpa oleh sesuatu sebagaimana engkau benci jika hal itu menimpa dirimu sendiri! Maka dengan ini wahai Mu’adz engkau akan selamat, dan pasti dirimu akan terhindar!”
Khalid bin Ma’dan berkata, “Sayyidina Mu’adz bin Jabal ra. sangat sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya beliau membaca Al-Qur’aan, dan sering mempelajari hadits ini sebagaimana seringnya beliau mempelajari Al-Qur’aan di dalam majelisnya”.


Peti Kuno Nuri Bey

Posted on  by Salik Paramartha
anekdot sufiNuri Bey adalah seorang Albania yang suka tepekur dan disegani, yang beristrikan wanita jauh lebih muda dari dirinya.
Suatu malam, ketika ia pulang lebih awal dan biasanya seorang pelayan yang setia menghadapnya dan berkata, “Istri Tuan berkelakuan mencurigakan. Ia berada di kamarnya dengan sebuah peti besar, cukup besar untuk menyimpan orang; peti itu dulu milik kakek Tuan. Mestinya peti itu hanya berisi beberapa sulaman kuno. Hamba yakin, kini didalamnya terdapat lebih dari sekedar sulaman. Dan hamba, yang sejak dulu menjaganya, kini tidak diperbolehkan membukanya.”
Nuri pergi kekamar istrinya, dan mendapatkannya duduk murung disamping peti kayu besar itu.
“Boleh aku melihat isi kotak itu?” tanya suaminya
“Karena kecurigaan pelayan, atau karena Tuan tidak lagi mempercayai saya?”
“Bukankah lebih mudah membukanya saja, tanpa harus memasalahkan kaitan maksudnya?”
“Tidak bisa.”
“Apa terkunci?”
“Ya”
“Di mana kuncinya?”
Istrinya menunjukkan kunci itu, “Pecat pelayan itu, nanti saya berikan kunci itu kepada Tuan.”
Pelayan itu dipecat. Wanita itu menyerahkan kunci dan iapun berlalu, tentu dengan pikiran kacau.
Nuri Bey berpikir lama. Kemudian dipanggilnya empat orang tukang kebunnya. Malam itu mereka bersama-sama mengangkat peti itu jauh ke ujung kebun, lalu menguburnya.
Masalah itu tidak pernah disebut-sebut lagi.
Catatan
Kisah yang menggelitik ini, yang berulang kali dikatakan memiliki arti dalam di samping nasehatnya yang jelas, merupakan sebagian dari naskah para darwis pengembara, yang pengayom sucinya adalah Yusuf dari Andalusia pada abad ketiga belas.
Di Turki, jumlah mereka itu sangat banyak. Kisah ini, dalam versi yang lebih dikembangkan, menyusup ke Bahasa Inggris melalui karya H.G. Dwight, Stambul Nights ‘Malam-malam Istambul,’ diterbitkan di Amerika Serikat tahun 1916 dan 1922.


Orang-Orang Pulau

Posted on  by Salik Paramartha
Orang-Orang PulauManusia biasa (awam) menyesali dosa-dosanya, Manusia pilihan menyesali kelalaiannya. (Dzun-Nun al-Mishri)
Semua dongeng, paling tidak mengandung kebenaran tertentu dan seringkali dongeng-dongeng itu memungkinkan masyarakat menyerap gagasan-gagasan yang sulit dipahami atau bahkan tidak bisa dicerna jika disampaikan dalam bentuk pemikiran yang wajar. Oleh karena itu, dongeng digunakan para guru Sufi untuk memberikan suatu gambaran kehidupan yang lebih sejalan dengan perasaan mereka dibandingkan melalui wahana kegiatan intelektual.
Berikut ini ada sebuah dongeng Sufi yang telah dirangkum dan biasanya disesuaikan dengan masa dongeng yang dikisahkan. Sementara dongeng-dongeng “hiburan” biasa, dipandang oleh para penulis Sufi sebagai suatu bentuk kesenian yang telah merosot atau lebih rendah nilainya.
Pada suatu masa ada sebuah masyarakat yang hidup di sebuah pulau yang sangat terpencil. Para anggota masyarakat ini tidak mempunyai rasa takut seperti kita saat ini. Alih-alih ketidakpastian dan kegamangan, mereka mempunyai tujuan yang pasti dan cara-cara yang lebih sempurna dalam mengekspresikan diri. Meskipun tidak ada tekanan dan ketegangan sebagai unsur penting kemajuan bagi manusia sekarang. Kehidupan mereka lebih kaya, karena sebab-sebab lain, yakni unsur-unsur kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan saat ini. Oleh karena itu, kehidupan mereka adalah suatu bentuk eksistensi yang agak berbeda. Kita hampir bisa menyatakan bahwa persepsi kita saat ini adalah versi sementara dan kasar dari persepsi masyarakat ini.
Mereka menjalani kehidupan sejati, bukan kehidupan semu. Kita dapat menyebut mereka masyarakat El Ar.
Masyarakat ini mempunyai seorang pemimpin yang menyadari bahwa negeri mereka akan punah, katakanlah selama 20.000 (dua puluh ribu) tahun yang akan datang. Ia merencanakan pengungsian dan menyadari bahwa keturunan mereka hanya akan berhasil pulang kembali setelah melalui berbagai ujian.
Ia menemukan sebuah tempat pengungsian bagi mereka, yaitu sebuah pulau yang sepintas lalu bentuknya mirip dengan tanah air asal mereka. Karena perbedaan udara dan situasi, para imigran itu harus melakukan transformasi. Tujuannya adalah untuk menyesuaikan fisik dan mental mereka dengan lingkungan baru. Sebagai contoh, persepsi-persepsi kasar diganti dengan persepsi yang lebih halus, seperti tangan seorang pekerja kasar menjadi keras karena tuntutan pekerjaannya.
Untuk mengurangi penderitaan akibat perbedaan antara keadaan lama dan baru itu, mereka dikondisikan untuk melupakan masa lalu secara hampir menyeluruh. Hanya kenangan masa lalu yang paling kuat tetap tersisa. Tetapi hal ini sudah memadai untuk digunakan bila diperlukan.
Sistem masyarakat ini sangat rumit namun tetap diatur dengan baik. Alat-alat untuk bertahan hidup di pulau itu dibuat, demikian pula sarana-sarana hiburan fisik dan mental. Alat-alat yang sangat berguna dari tanah air lama disimpan di sebuah tempat khusus sebagai kenangan lama dan persiapan untuk digunakan di kemudian hari.
Lambat laun dan dengan susah payah akhirnya para imigran menetap dan menyesuaikan diri dengan kondisi lokal. Sumber daya di pulau itu sedemikian rupa sehingga dengan upaya dan bimbingan tertentu, masyarakat akhirnya bisa melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya untuk kembali ke tanah asal mereka. Ini adalah pulau pertama dari kepulauan lainnya yang masih membutuhkan penyesuaian secara bertahap.
Tanggung jawab atas “evolusi” ini dibebankan kepada pribadi-pribadi yang mampu mengembannya. Tentu saja tanggung jawab ini hanya untuk sebagian kecil orang, karena bagi kebanyakan orang, upaya menjaga kedua bentuk pengetahuan itu dalam kesadaran mereka niscaya tidak mungkin. Di antara mereka cenderung muncul pertentangan. Hanya para ahli yang dapat menjaga “ilmu khusus” itu.
“Ilmu rahasia” ini, yaitu metode mengefektifkan peralihan, tidak lain adalah pengetahuan dan ketrampilan maritim. Kebebasan atau pengungsian membutuhkan seorang instruktur, bahan baku, masyarakat, usaha dan pemahaman. Untuk itu masyarakat bisa belajar renang sekaligus membangun kapal.
Orang-orang yang sejak semula bertanggung jawab atas operasi pengungsian menjelaskan kepada setiap orang bahwa persiapan tertentu diperlukan sebelum seseorang belajar renang atau bahkan ikut serta dalam membangun kapal. Pada suatu masa, proses tersebut berlangsung secara memuaskan.
Kemudian seorang laki-laki yang pada saat itu ternyata kurang memenuhi persyaratan, menentang aturan main dan berusaha mengembangkan suatu gagasan umum. Ia mengamati bahwa pengungsian itu adalah tugas yang berat dan selalu disambut dingin oleh masyarakat. Pada saat yang sama mereka juga diharapkan untuk mempercayai segala sesuatu tentang operasi pengungsian. Ia menyadari bahwa dirinya mampu meraih kekuasaan dan dapat membalas dendam kepada mereka yang menurutnya telah merendahkan dirinya dengan mengeksploitasi dua kenyataan itu.
Ia sebenarnya hanya ingin meninggalkan beban itu dan menegaskan bahwa (sebenarnya) tidak ada beban yang perlu dipikul.
Kemudian ia mengeluarkan pernyataan berikut ini:
Manusia sama sekali tidak perlu mengintegrasikan dan melatih pikiran sesuai dengan cara yang telah dijelaskan kepada kalian. Pikiran manusia adalah suatu unsur yang telah mantap, sinambung dan konsisten. Kalian telah dianjurkan bahwa kalian harus menjadi seorang pengrajin dalam membangun kapal. Saya katakan bahwa kalian tidak saja perlu menjadi pengrajin, tapi kalian juga sama sekali tidak memerlukan kapal! Penghuni pulau ini hanya perlu menjaga aturan sederhana untuk bertahan hidup dan menyatu dengan masyarakat. Dengan mempergunakan akal sehat yang diberikan kepada setiap orang, ia bisa meraih apa saja di pulau ini, sebagai rumah kita, milik umum dan warisan bagi setiap orang!”
Setelah masyarakat sangat tertarik pada pernyataan ini, sang penghasut “membuktikan” pesannya itu dengan mengatakan:
Jika memang ada realitas di dalam kapal dan renang itu, tunjukkan kepada kami kapal-kapal yang telah melakukan perjalanan dan para perenang yang telah kembali!”
Hal ini adalah tantangan berat bagi para instruktur. Perkataannya didasarkan pada asumsi yang membingungkan masyarakat sehingga sekarang mereka tidak bisa melihat kekeliruan asumsi itu. Anda tahu, tidak pernah ada kapal yang kembali dari pulau lain. Jika memang para perenang kembali, mereka telah menyesuaikan diri dengan keadaan baru sehingga tidak bisa dilihat oleh orang kebanyakan.
Namun kerumunan ini menuntut bukti.
Pembangunan kapal,” kata para pengungsi kepada para pemberontak, “adalah sebuah seni dan ketrampilan. Pengajaran dan pelatihan dalam ajaran ini membutuhkan teknik-teknik khusus. Semua ini membentuk suatu aktivitas total yang tidak bisa diuji secara parsial sesuai dengan tuntutan kalian. Aktivitas ini mempunyai unsur yang tak terlihat, yakni apa yang disebut barakah. Inilah asal kata barque — artinya sebuah kapal. Makna kata ini adalah ‘Kepelikan’ dan tidak dapat ditunjukkan kepada kalian.”
“Seni, ketrampilan, totalitas, barakah, semua itu omong kosong!” teriak kalangan revolusioner.
Kemudian mereka menggantung setiap ahli pembuat kapal yang mereka temui.
Kitab suci baru itu disambut hangat oleh semua kalangan sebagai salah satu sarana pembebasan. Manusia telah menyadari bahwa dirinya telah dewasa! Setidaknya pada masa itu ia merasa telah terbebas dari tanggung jawab.
Semua pola pemikiran yang berbeda segera dimusnahkan oleh konsep revolusioner yang sederhana dan nyaman itu. Konsep ini segera dipandang sebagai fakta dasar yang tidak pernah ditentang oleh manusia rasional. Manusia rasional di sini maksudnya seseorang yang menyesuaikan dengan teori umum itu. Berdasarkan teori umum inilah masyarakat dibangun.
Setiap gagasan yang menentang gagasan baru ini selalu disebut irasional. Sesuatu yang irasional pasti jelek. Sejak itu, meskipun ada berbagai keraguan, individu harus menekan dan membuangnya, sebab berapa pun biayanya ia harus dianggap rasional.
Tidaklah terlalu sulit untuk bersikap rasional. Seseorang hanya perlu mengikuti nilai-nilai masyarakat. Lebih jauh lagi bukti kebenaran rasionalitas itu mudah ditemukan — dengan syarat bahwa seseorang tidak berpikir di luar pola pemikiran pulau itu.
Maka untuk sementara, masyarakat telah menyesuaikan diri di pulau itu dan tampaknya bisa memenuhi kebutuhan secara memadai jika dilihat dari cara-cara yang mereka gunakan. Keadaan ini dicapai berkat akal dan emosi yang seolah-olah masuk akal. Sebagai contoh, kanibalisme diperbolehkan karena ada alasan rasional, yaitu bahwa tubuh manusia ternyata bisa dimakan. Kondisi ini adalah salah satu ciri makanan. Oleh karena itu, tubuh manusia adalah makanan. Untuk menutupi cacat dari cara berpikir ini, maka dibuat dalih. Kanibalisme dikontrol demi kepentingan masyarakat. Kompromi ini merupakan ciri keseimbangan sementara. Berulangkali seseorang mengarah pada suatu kompromi baru dan perjuangan antara akal, ambisi dan masyarakat yang menghasilkan norma sosial baru.
Lantaran ketrampilan membuat kapal tidak mempunyai cara penerapan yang jelas dalam masyarakat ini, maka ia dengan mudah dipandang sebagai sesuatu yang absurd. Perahu tidak diperlukan — tidak ada satu pun tempat tujuan. Berbagai konsekuensi dari sebuah asumsi dapat dibuat untuk “membuktikan” kebenaran asumsi tersebut. Inilah yang disebut kepastian semu, sebagai pengganti dari kepastian sejati. Hal ini kita hadapi sehari-hari. Tetapi orang-orang pulau menerapkannya kepada segala sesuatu.
Dua entri dalam Island Universal Encyclopedia (Ensiklopedia Universal Pulau) memaparkan cara kerja proses itu. Dengan menyaring hikmah dari nutrisi mental mereka satu-satunya dan dengan segala kejujuran, para cendekiawan pulau menghasilkan jenis kebenaran berikut ini:
shipShip (Kapal): Sesuatu yang tak menyenangkan. Sebuah kendaraan imajiner yang diklaim oleh para pendusta dan penyeleweng sebagai alat untuk “menyeberangi air”, namun kini secara ilmiah terbukti sebagai suatu kerancuan. Setiap bahan di pulau tersebut pasti tenggelam. Padahal sebuah “kapal” dibuat dari salah satu bahan di pulau itu. Selain itu orang meragukan apakah memang ada tujuan di luar pulau. Mengajarkan “pembangunan kapal” adalah kejahatan besar menurut Undang-Undang XVII dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pasal J tentang Perlindungan terhadap Orang-orang yang Mudah Terpedaya. Shipbuilding mania adalah suatu bentuk ekstrim dari eskapisme mental, suatu gejala ketidakmampuan masyarakat menyesuaikan diri. Setiap warga negara wajib memberitahukan kepada pejabat berwenang jika mereka mencurigai kondisi tragis ini menimpa seseorang.
Lihat: Swimming; Mental Aberrations; Crime (Major).
Bacaan: Smith, J., Why “Ships” Cannot be Built, Island University Monograph No. 1151.
swimmingSwimming (Renang): Sesuatu yang tak diakui. Diyakini sebagai suatu cara menggerakkan tubuh melewati air agar tidak tenggelam; secara umum bertujuan “mencapai sebuah tempat di luar pulau”. “Murid” dari seni yang tak diakui ini harus mematuhi sebuah ritual absurd. Dalam pelajaran pertama, ia harus menelungkupkan tubuhnya di atas tanah dan menggerakkan tangan serta kaki sesuai dengan petunjuk dari seorang “instruktur”. Semua konsep itu berdasar pada keinginan para “instruktur” yang mempunyai gaya tersendiri untuk menguasai orang-orang yang mudah terpedaya pada masa primitif. Akhir-akhir ini, cara pemujaan itu telah menjelma sebuah wabah kegilaan yang menyebar.
Lihat: Ship; Heresies; Pseudoarts.
Bacaan: Brown, W, The Great “Swimming” Madness, 7 volume, Institute of Social Lucidity.
Kata “tidak menyenangkan” dan “tidak diakui” itu digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang bertentangan dengan kitab suci baru itu. Kitab suci baru itu sendiri dikenal sebagai ajaran yang “Menyenangkan”. Gagasan di baliknya adalah bahwa masyarakat sekarang bisa menyenangkan dirinya sendiri, demi kepentingan umum dan menyenangkan negara. Lembaga di sini dipahami sebagai lembaga yang mencakup semua masyarakat.
Tidaklah mengejutkan bila sejak awal niat meninggalkan pulau menimbulkan rasa takut luar biasa bagi setiap orang. Demikian pula rasa takut bisa terlihat pada tahanan yang telah lama di penjara dan akan dibebaskan. Dunia “luar” penjara adalah suatu dunia yang samar, tidak dikenal dan menakutkan.
penjaraPulau itu bukanlah sebuah penjara. Tetapi ia adalah sebuah sangkar dengan jeruji-jeruji yang tak terlihat, namun lebih efektif dibandingkan sangkar dengan jeruji-jeruji yang terlihat.
Masyarakat pulau kini semakin lebih kompleks. Kita hanya bisa melihat hal itu melalui beberapa bentuknya yang mencolok. Kepustakaan mereka sangat kaya. Disamping berbagai komposisi budaya, ada berbagai buku yang menjelaskan nilai-nilai dan keberhasilan bangsa-bangsa. Demikian pula ada sebuah sistem fiksi alegoris yang menggambarkan betapa kehidupan ini akan sengsara bila masyarakat tidak mengatur diri dengan sistem yang diyakini saat ini.
Dari waktu ke waktu para instruktur berusaha membantu seluruh masyarakat untuk meloloskan diri. Para kapten kapal mengabdikan dirinya untuk menciptakan kembali suatu iklim kondusif bagi para pembuat kapal yang kini bersembunyi melanjutkan pekerjaannya. Semua upaya ini ditafsirkan oleh para sejarawan dan sosiolog dengan merujuk pada berbagai keadaan di pulau itu tanpa berniat untuk melakukan hubungan di luar masyarakat yang tertutup ini. Berbagai penjelasan yang masuk akal tentang hampir semua hal secara komparatif mudah diberikan. Tidak ada prinsip etik, sebab para sarjana tetap mengkaji apa yang dipandang benar dengan penuh ketulusan. “Apa lagi yang bisa kita kerjakan?” Kata “lagi” mengimplikasikan bahwa alternatif itu mungkin merupakan suatu upaya kuantitatif. Atau mereka saling bertanya, “Adakah hal lain yang bisa kita kerjakan?” dengan asumsi bahwa jawabannya mungkin terletak pada kata “lain” itu — sesuatu yang berbeda. Masalah mereka sebenarnya adalah anggapan mereka bahwa dirinya mampu untuk merumuskan pertanyaan dan mengabaikan fakta bahwa pertanyaan sepenting jawaban.
Para penghuni pulau niscaya mempunyai ruang lingkup pemikiran dan tindakan yang luas dalam bidang mereka sendiri yang sempit. Berbagai gagasan dan perbedaan pendapat yang muncul mengesankan kebebasan berpikir. Pemikiran digalakkan dengan syarat tidak “absurd”.
Kebebasan berbicara diperbolehkan. Tetapi hal ini sedikit manfaatnya tanpa mengupayakan pengembangan pemahaman.
Kerja dan empati dari para navigator harus mengambil aspek lain sesuai dengan berbagai perubahan di dalam masyarakat. Hal ini justru membuat realitas mereka jauh lebih membingungkan bagi para murid yang berusaha mengikuti mereka dari sudut pandang yang berlaku di pulau itu.
Di tengah-tengah semua kebingungan ini, kemampuan untuk menyadari kemungkinan meloloskan diri pada masa-masa tertentu bahkan bisa menjadi kendala. Kesadaran potensial yang mendorong untuk meloloskan diri tidaklah begitu jelas. Yang lebih sering terjadi adalah para calon pelarian yang bersemangat itu menerima suatu pengganti. Suatu konsep navigasi yang kabur tidak akan berguna tanpa orientasi. Bahkan para pembuat kapal yang paling bersemangat sekalipun dilatih untuk meyakini bahwa mereka telah mempunyai orientasi itu. Mereka telah matang. Mereka membenci setiap orang yang menunjukkan bahwa mereka mungkin memerlukan persiapan.
Cara-cara berenang atau membuat kapal yang aneh itu seringkali tidak memungkinkan untuk mencapai kemajuan yang sesungguhnya. Yang layak dikecam adalah para pembela renang semu atau kapal-kapal alegoris. Mereka hanyalah penipu yang menawarkan pelajaran kepada mereka yang masih terlalu lemah untuk berenang atau menulis tentang kapal yang tidak bisa mereka bangun.
Pada mulanya masyarakat membutuhkan pola-pola efisien dan pemikiran tertentu yang berkembang menjadi apa yang dikenal dengan ilmu. Pendekatan yang patut dipuji ini akhirnya melampaui arah yang sebenarnya dengan pola penerapan yang begitu mendasar. Setelah revolusi “menyenangkan”, pendekatan “ilmiah” itu cepat meluas sampai mempengaruhi setiap pemikiran. Akhirnya segala sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke dalam ikatannya dikenal dengan istilah “tidak ilmiah”, istilah sinonim lain dari kata “buruk”. Tanpa disadari, kata-kata ini telah mengungkung dan otomatis memperbudak masyarakat.
Lantaran tidak adanya sikap sejalan, seperti orang yang membuang waktu dan kemampuannya di ruang tunggu dengan membaca-baca majalah, orang-orang pulau itu menyibukkan diri untuk menemukan pengganti pemuasan diri sebagai tujuan asal (dan sesungguhnya tujuan akhir) dari masyarakat yang terbuang ini.
Sebagian relatif mampu dan berhasil mengalihkan perhatian pada komitmen-komitmen yang secara mendasar bersifat emosional. Ada berbagai tingkatan emosi, namun tidak ada cara yang memadai untuk mengukurnya. Setiap emosi dianggap sebagai suatu yang “dalam” dan “kuat” — pada tingkat apa pun lebih kuat dari tingkat lainnya. Emosi yang dipandang bisa menggerakkan masyarakat secara fisik dan mental sampai pada titik ekstrim, otomatis disebut sebagai kekuatan “dalam”.
Sebagian besar masyarakat menentukan target bagi dirinya sendiri atau membiarkan orang lain menentukannya sendiri.
Mereka mungkin mengejar suatu penghargaan, uang atau status sosial. Sebagian menyembah sesuatu dan merasa dirinya lebih unggul dari lainnya. Dengan menolak apa yang dianggap sebagai penyembahan, sebagian orang mengira bahwa mereka tidak memiliki berhala. Karena itu mereka mencibir setiap bentuk penyembahan.
Setelah berabad-abad lamanya, pulau itu dipenuhi dengan berbagai kepingan cara pemujaan. Yang lebih buruk adalah kepingan-kepingan ini ternyata mampu mempertahankan diri. Orang-orang yang bermaksud baik dan bermaksud menggabungkan cara pemujaan ini serta memadukan kepingan-kepingannya, ternyata menyebarkan suatu cara pemujaan baru. Bagi kalangan amatir dan intelektual, hal ini adalah suatu tambang bagi kajian akademis atau “bahan awal” yang menarik karena keanekaragamannya.
istanaFasilitas-fasilitas megah untuk memanjakan “kepuasan” tertentu berkembang pesat. Istana dan monumen, museum dan universitas, lembaga pendidikan, panggung teater, dan arena olah raga hampir memenuhi pulau tersebut. Masyarakat biasanya merasa bangga dengan kemakmuran ini. Biasanya kemakmuran ini dianggap sebagai kebenaran terakhir, meskipun tentu saja kebenaran ini sama sekali luput dari perhatian mereka semua.
Pembangunan kapal berkaitan dengan beberapa dimensi dari kegiatan itu, namun dengan cara yang hampir tidak dikenal semua orang.
Secara sembunyi-sembunyi, kapal-kapal memancangkan layar dan para perenang terus mengajarkan cara berenang …
Berbagai kondisi di pulau itu tidak sepenuhnya menimbulkan rasa takut bagi orang-orang yang penuh pengabdian tersebut. Di atas segalanya, mereka juga berasal dari masyarakat yang sama. Mereka mempunyai ikatan yang tak terpisahkan dan nasib yang sama dengan pulau itu.
Namun mereka seringkali harus menjaga diri dari perhatian saudara-saudaranya sesama penghuni pulau. Sebagian penghuni pulau yang “normal” mencoba menyelamatkan diri dari situasi itu. Yang lain berusaha membunuh mereka dengan alasan-alasan yang sulit dipahami. Sebagian bahkan berusaha membantunya dengan penuh semangat, tetapi tidak bisa menemukan mereka.
Setiap reaksi terhadap eksistensi para perenang ini adalah akibat dari sebab yang sama. Penyebabnya adalah karena sekarang hampir tidak ada orang yang mengetahui apa sesungguhnya perenang itu, apa yang dilakukannya, di mana ia bisa dijumpai?
Ketika kehidupan di pulau itu semakin beradab, suatu industri aneh tetapi logis berkembang pesat. Industri ini dicurahkan untuk menetapkan keraguan atas keabsahan sistem dasar kehidupan masyarakat. Industri ini berhasil menimbulkan keraguan atas nilal-nilai sosial dengan menertawakan atau menyindirnya. Aktivitas ini bisa mendatangkan kebahagiaan atau kesengsaraan, tetapi ia sebenarnya semacam ritual yang diulang-ulang. Sementara sebuah industri potensial dan berharga seringkali dirintangi untuk melaksanakan fungsi kreatifnya yang nyata.
Setelah keraguan untuk mengungkapkan diri sementara, masyarakat merasa bahwa dengan cara tertentu mereka akan mengurangi, membuang dan melarutkan keraguan itu. Satire diterima sebagai kiasan bermakna. Kiasan ini diterima namun tidak dipahami. Drama, buku, film, puisi dan plesetan adalah media umum bagi perkembangan itu, meskipun ada sebuah bagian penting yang termasuk dalam bidang-bidang yang lebih akademis. Bagi kebanyakan penghuni pulau, hal ini lebih membebaskan, lebih modern atau lebih progresif dibandingkan cara-cara pemujaan yang lebih tua.
Di sana-sini, seorang calon masih menemui seorang instruktur renang dan menyampaikan penawaran untuk ikut belajar renang. Biasanya penawaran itu berakhir pada pembicaraan khas berikut ini:
“Saya ingin belajar renang.”
“Apakah engkau ingin menawarkan diri untuk itu?”
“Tidak, hanya saja saya harus membawa bekal seberat satu ton.”
“Bekal apa?”
“Makanan yang dibutuhkan di pulau lain.”
“Di sana ada makanan yang lebih baik.”
“Saya tidak mengerti apa yang engkau maksudkan. Saya tidak yakin. Saya harus membawa bekal.”
“Engkau tidak bisa berenang dengan membawa bekal satu ton di punggungmu.”
“Jika demikian saya tidak bisa pergi. Engkau menyebutnya beban. Saya menyebutnya bekal makanan yang sangat penting.”
“Sebagai sebuah kiasan, andaikata kita tidak menyebut ‘bekal makanan’, namun ‘asumsi’ atau ‘gagasan yang merusak’.”
“Saya akan membawa bekal ini kepada instruktur yang memahami kebutuhan saya.”
Buku ini membicarakan tentang beberapa perenang dan pembuat kapal serta beberapa orang yang berusaha mengikuti mereka dan relatif berhasil. Dongeng ini belum berakhir, sebab masih ada masyarakat di pulau itu.
Para Sufi menggunakan berbagai simbol rahasia untuk menyampaikan maksud mereka. Dengan menyusun kembali nama dari masyarakat asal itu — El Ar — maka akan terbaca Real (Sejati). Mungkin Anda telah mengamati bahwa nama yang digunakan oleh kalangan revolusioner itu — Please (Menyenangkan) — jika disusun kembali akan membentuk kata Asleep (Tertidur).
Kisah ini dikutip dari buku “Mahkota Sufi: Menembus Dunia Ekstra Dimensi“, olehIdries Shah. Penerbit Risalah Gusti, Cetakan Pertama Shafar 1421H, Juni 2000.


Keadilan Dan Kelaliman

Posted on  by Salik Paramartha
mullah nasruddin hojaTak lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundangi para ulama di kawasan itu. Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:
“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”
Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kejahatan Timur Lenk ini. Dan akhirnya, tibalah waktunya Nasrudin diundang. Ini adalah perjumpaan resmi Nasrudin yang pertama dengan Timur Lenk. Timur Lenk kembali bertanya dengan angkuh :
“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”
Dan dengan menenangkan diri, Nasrudin menjawab :
“Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami.”
Setelah berpikir sejenak, Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk lebih lanjut.
Sumber: media.isnet.org.




Orang yang Berjalan di Atas Air

Posted on  by Salik Paramartha
hikayat sufiSeorang darwis yang berpegang kepada kaidah, yang berasal dari mazhab yang saleh, pada suatu hari berjalan menyusur tepi sungai. Ia memusatkan perhatian pada berbagai masalah moral dan ajaran, sebab itulah yang menjadi pokok perhatian pengajaran Sufi dalam mazhabnya. Ia menyamakan agama, perasaan, dengan pencarian kebenaran mutlak.Tiba-tiba renungannya terganggu oleh teriakan keras: Seseorang terdengar mengulang-ulang suatu ungkapan darwis. Tak ada gunanya itu, katanya kepada diri sendiri. Sebab orang itu telah salah mengucapkannya. Seharusnya diucapkannya yâ hû, tapi ia mengucapkannya u yâ hû.
Kemudian ia menyadari bahwa sebagai darwis yang lebih teliti, ia mempunyai kewajiban untuk meluruskan ucapan orang itu. Mungkin orang itu tidak pernah mempunyai kesempatan mendapat bimbingan yang baik, dan karenanya telah berbuat sebaik-baiknya untuk menyesuaikan diri dengan gagasan yang ada di balik suara yang diucapkannya itu.
Demikianlah darwis yang pertama itu menyewa perahu dan pergi ke pulau di tengah-tengah arus sungai, tempat asal suara yang didengarnya tadi.
Didapatinya orang itu duduk di sebuah gubuk alang-alang, bergerak-gerak sangat sukar teratur mengikuti ungkapan yang diucapkannya itu. Sahabat, kata darwis pertama, Anda keliru mengucapkan ungkapan itu. Saya berkewajiban memberitahukan hal ini kepada Anda, sebab ada pahala bagi orang yang memberi dan menerima nasihat. Inilah ucapan yang benar. Lalu ia memberitahukannya ucapan itu. Terimakasih, kata darwis yang lain itu dengan rendah hati.
Darwis pertama turun ke perahunya lagi, sangat puas, sebab baru saja berbuat amal. Bagaimana pun kalau orang boleh mengulang-ulang ungkapan rahasia itu dengan benar, ada kemungkinan boleh berjalan di atas air. Hal itu memang belum pernah disaksikannya sendiri, tetapi berdasarkan alasan tertentu- darwis pertama itu ingin sekali boleh melakukannya. Kini ia tak mendengar lagi suara gubuk alang-alang itu, tapi ia yakin bahwa nasihatnya telah dilaksanakan sebaik-baiknya.
Kemudian didengarnya lagi ucapan u yâ hû yang keliru itu ketika darwis yang di pulau tersebut mulai mengulang-ulang ucapannya…. Ketika darwis pertama merenungkan hal itu, memikirkan betapa manusia memang suka bersikeras mempertahankan kekeliruan, tiba-tiba disaksikannya pemandangan yang menakjubkan. Dari arah pulau itu, darwis kedua tadi tampak menuju perahunya, berjalan di atas air….
Karena takjubnya, ia pun berhenti mendayung. Darwis kedua pun mendekatinya, katanya, Saudara, maaf saya mengganggu Anda. Saya datang untuk menanyakan cara yang benar untuk mengucapkan ungkapan yang Anda beritahukan kepada saya tadi; sulit benar rasanya mengingat-ingatnya



Kisah Romantika Pertaubatan Para Salik

Posted on  by Salik Paramartha
kisahpertaubatanparasalikKisah-kisah dalam buku ini merupakan cerita pertaubatan dari orang-orang suci di masa silam. Sebuah perjalanan sakral dalam menempuh hakikat menuju Tuhan yang tiada batas, namun aspek kemanusiaan inilah romantika mereka dapat diketahui. Pahit manisnya perjalanan sekaligus sebagai tangga untuk mencapai cinta-Nya, disertai pesan-pesan langit untuk penghuni bumi.
Orang-orang suci yang dikisahkan dalam buku ini antara lain: Abdullah bin al-Mubarak, Abi Ishaq Ibrahim al-Khawwas, Abu Bakar asy-Syibliy, Abu Bakar bin Faurak, Abu Muhammad at-Tustariy, Abu Thalib al-Makkiy, Abu Umar al-Muthariz az-Zahid, Abu Yazid al-Busthamiy, Abul Abbas bin Atha al-Adamiy, Abul Qasim al-Junaid, Abul Qasim al-Qusyairiy, Ahmad Husain ar-Rifaiy, Ahmad an-Nauriy, Ahmad bin Muhammad, Al-Ghazali, Al-Hafizh Ibnu Main, Al-Hallaj, Al-Mahdi Ibnu Tumart, Al-Muhasibi, At-Thurthusiy, At-Turmudziy, Bisyir al-Hafi, Fudhail bin lyadh, Hasan al-Bashri, Hatim al-Asham, Ibnu Arabi, Ibnu as-Sammak, Ibrahim bin Adham, Imam Ahmad bin Hanbal, Jafar ashShadiq, Khair an-Nasaj, Malik bin Dinar, Maruf al-Karkhiy, Muhammad al-Wasithiy, Musa al-Kadhim, Rabiah al-Adawiyah, Sari as-Saqathiy, Sufyan ats-Tsauriy, Syaqiq al-Balkhiy, Yahya bin Muacfc al-Waidz, Yusuf bin Waharah al-Hamdaniy.
Judul : Kisah Para Salik
Penulis : Ii Ruhimta
Jumlah Halaman : xiv + 320 Hal
ISBN : 979-98452-6-2
Penerbit: LKiS
Terbit : 2005


Kisah Hafizh, Sang Penuang Cahaya

Posted on  by Salik Paramartha
Kisah orang suciInilah sepenggal kisah Syamsuddin Muhammad (1320-1389), yang kemudian dikenal dengan nama Hafizh, sang Pujangga Tuhan, penyair-sufi terkemuka. Dikisahkan bahwa saat ia berusia 21 tahun, ia bekerja sebagai pembantu pembuat roti. Pada suatu hari, Hafizh disuruh mengantar roti ke sebuah rumah besar. Saat ia sedang berjalan di halaman rumah besar itu, ia bertatap-pandang dengan seorang gadis yang menakjubkannya yang tengah berdiri di teras rumah. Tatap mata sang gadis itu demikian menawan hatinya. Hafizh pun jatuh cinta kepada sang gadis itu, meskipun sang gadis tidak mempedulikannya. Gadis itu putri seorang bangsawan yang kaya raya, sementara ia sendiri hanya seorang pembantu pembuat roti yang miskin. Gadis itu sangat cantik, sementara Hafizh berpostur pendek dan secara fisik tidak menarik, keadaan itu tanpa harapan.
Beberapa bulan berlalu, Hafizh pun menggubah beberapa puisi dan kidung-kidung cinta untuk merayakan kecantikan sang gadis pujaan dan kerinduan kepadanya. Orang-orang mendengarkan ia melagukan puisi-puisinya, dan ia mengulang-ulangnya. Puisi-puisi itu begitu menyentuh, sehingga ia menjadi terkenal di seantero Syiraz.
Hafizh selanjutnya menjadi demikian terpandang sebagai seorang pujangga, dan ia hanya memikirkan kekasihnya itu. Begitu berhasrat ia memenangkan hati sang gadis, ia pun menempuh berbagai upaya. Ia pun melakukan upaya disiplin ruhani yang berat, ia berkhalwat di makam seorang Waliyullah sepanjang malam selama 40 hari. Ia mengikuti sebuah saran, bahwa barangsiapa yang dapat menuntaskan langkah yang berat itu maka hasrat kalbunya akan dikabulkan. Setiap siang ia bekerja di toko roti, dan ketika malam tiba ia pun berkhalwat dan berdzikir sepanjang malam demi cintanya kepada sang gadis. Cintanya demikian kuat, membuatnya mampu menyelesaikan khalwat itu.
Pada fajar di hari ke-40, tiba-tiba muncullah sesosok malaikat di hadapan Hafizh, ia meminta Hafizh untuk mengucapakan apa yang menjadi keinginannya. Hafizh demikian terperangah, ia belum pernah melihat sesosok wujud yang demikian indah dan gemerlapan seperti sang malaikat itu. Dalam keterpukauannya Hafizh berfikir, “Jika utusan-Nya saja begitu indah, pastilah Tuhan jauh lebih indah!”
Sambil menatap cahaya malaikat Tuhan yang berkilauan, lupalah Hafizh menyangkut segala hal tentang sang gadis itu, sirnalah segala keinginanya. Dan, dari lisannya hanya keluar kata-kata: “Aku menginginkan Tuhan!”
Sang malaikat, yakni Jibril as. kemudian mengarahkan Hafizh kepada seorang guru ruhani yang hidup di Syiraz, yaitu Muhammad Aththar, sang pembuat parfum. Jibril as. memerintahkan Hafizh untuk melayani sang guru dengan segala cara, dan keinginanya itu akan terkabul. Hafizh bergegas menemui sang guru, dan mereka memulai bekerja bersama-sama, saat itu juga. Sang pujangga ini adalah seorang penuang Cahaya ke dalam sebuah sendok …
Diadaptasi dari bagian biografi Hafizh, buku “Hafizh: Aku Mendengar Tuhan Tertawa”, Daniel Ladinsky.
Zamzam, Bintaro, Jum’at, 9 Oktober 2009.



Kumpulan Kisah Sufi Aththar An-Nisaburi

Posted on  by Salik Paramartha
anekdot sufiKisah-kisah sufistik berikut ini, menurut Idries Shah, berasal dari Aththar An-Nisaburi. Ajaran-ajaran Aththar An-Nisaburibanyak disertai gambaran-gambaran biografi, fabel, pepatah dan apologi, yang tidak hanya mengandung ajaran moral tetapi kiasan-kiasan yang menggambarkan tentang tahap-tahap khusus perkembangan manusia.
Aththar menggunakan tema suatu ‘perjalanan’ atau ‘pencarian’ sebagai analogi dari tahap-tahap keberhasilan jiwa manusia dalam mencari kesempurnaan.
JAWABAN YESUS
Beberapa orang Israel mencaci Yesus suatu hari, ketika dia berjalan melintasi bagian kota mereka. Tetapi ia menjawab dengan mengulang doa atas nama mereka.
Seseorang berkata kepadanya: “Engkau berdoa untuk orang-orang ini, tidakkah engkau merasa marah kepada mereka?”
Ia menjawab: “Aku hanya dapat membelanjakan apa yang ada dalam dompetku.”
HATI
Seseorang menghampiri orang gila yang sedang menangis dalam kesedihan yang memilukan.
Ia bertanya: “Mengapa engkau menangis?”
Orang gila menjawab: “Aku menangis untuk menarik belas kasihan hati-Nya.”
Yang lain berkata kepadanya: “Ucapanmu bohong, karena Dia tidak memiliki hati lahiriah.”
Orang gila menjawab: “Engkaulah yang salah, karena Dia pemilik seluruh hati yang ada. Melalui hati engkau dapat berhubungan dengan Tuhan.”
DITAWARI DERMA YANG TIDAK DAPAT DITERIMA
Apa! Akan kau berikan sejumlah uang
(Yang akan) menghapus namaku dari Daftar Kaum Darwis?
DONGENG FAZL-RABBI
Suatu hari seorang tua yang kikir pergi menjeguk Fazl-Rabbi, untuk membahas beberapa hal.
Karena lemah dan gelisah, orang tua ini menusukkan tongkat besinya ke luka di kaki Fazl-Rabbi.
Mendengar dengan sopan, apa pun yang dikatakan oleh si orang tua, Fazl-Rabbi tidak berkata-kata, kendati ia menjadi pucat dan kemudian memerah, karena lukanya terasa sakit dan besi tersebut tetap menancap di kakinya.
Kemudian, ketika yang lainnya telah menyelesaikan urusannya, ia mengambil selembar kertas darinya dan menandatanganinya.
Ketika orang tua itu sudah pergi, ia senang karena berhasil dalam ketekunannya, Fazl-Rabbi membiarkan dirinya roboh.
Salah seorang bangsawan yang hadir mengatakan:
“Tuanku, Anda duduk di sana dengan darah mengucur dari kaki Anda, dan orang tua itu menusuknya dengan tongkat besinya, dan Anda sama sekali tidak berkata apa pun.”
Fazl-Rabbi menjawab:
“Aku sama sekali tidak memberi tanda kesakitan, karena Aku takut kalau ketakutannya mungkin menyebabkan ia bingung, dan bahwa ia mungkin menyerahkan ketekunannya karena bantuanku. Kasihan sekali dia, bagaimana aku dapat menambah masalahnya dengan cara demikian?”
Jadilah manusia sejati: mempelajari kebangsawanan dari pemikiran dan tindakan, seperti Fazl-Rabbi.
BUDAK TANPA MAJIKAN
Berkelana dengan jubah tambalan, wajahnya menghitam karena matahari, seorang darwis tiba di Kufah, di mana ia berjumpa dengan seorang pedagang.
Si pedagang berbicara kepadanya, dan memutuskan bahwa ia pasti seorang budak yang tersesat.
“Karena tindak-tandukmu halus, Aku akan memanggilmu Khair (bagus).” Katanya, “Engkau bukan budak?”
“Itulah saya,” jawab Khair.
“Akan kuantar engkau pulang, dan engkau dapat bekerja untukku sampai berjumpa tuanmu.”
“Saya senang sekali,” ujar Khair, “Karena sudah sangat lama saya mencari tuan saya.”
Ia bekerja beberapa tahun pada orang tersebut, yang mengajarinya menjadi penenun; oleh sebab itu nama keduanya adalah Nassaj (penenun).
Setelah layanannya yang lama, merasa bersalah karena terlalu mengeksploitasinya, pedagang tersebut mengatakan, “Aku tidak tahu siapa dirimu, tetapi sekarang engkau bebas untuk pergi.”
Khair Nassaj, Guru Agung Tarekat (Sufi), melanjutkan perjalanannya ke Mekkah tanpa penyesalan karena ia telah menemukan bagaimana melanjutkan perkembangannya, daripada tanpa memiliki nama dan diperlakukan seperti budak.
Ia adalah guru asy-Syibli, Ibrahim Khawwas dan juga Guru Agung kaum Sufi. Ia meninggal lebih dari seribu tahun yang lalu, di usia seratus duapuluh.
KOTAK AJAIB
Suatu ketika seorang laki-laki ingin menjual karpet kasar, dan ia pun menawarkannya di jalan.
Orang pertama yang melihat mengatakan:
“Ini karpet yang kasar, dan sangat usang.” Maka ia pun membelinya sangat murah. Kemudian pembeli tersebut berdiri dan mengatakan kepada lainnya yang tengah berjalan:
“Karpet ini lembut bagai sutra, tak ada yang seperti ini.”
Seorang Sufi yang melintas mendengar orang yang membeli itu dan berusaha menjual barang yang sama dengan dua gambaran yang berbeda.
Sang Sufi berkata kepada si penjual karpet:
“Wahai penjual karpet, masukkan aku dalam kotak ajaibmu, yang dapat mengubah karpet kasar menjadi halus, barangkali bisa mendatangkan permata!”
BULAN
Sang Bulan ditanya:
‘Apa hasratmu yang paling kuat?”
Dijawab:
“Kalau Matahari hendak menghilang, dan tetap terselubung dalam awan selamanya.”
LIMARATUS KEPING EMAS
Salah seorang pengikut Junaid mengunjunginya dengan dompet berisi limaratus keping emas.
“Apakah engkau memiliki uang lebih dari ini?” tanya sang Sufi. “Ya, saya punya.”
“Apakah engkau ingin lebih banyak?”
“Ya, benar.”
“Maka engkau harus menyimpannya, karena engkau lebih membutuhkannya daripada aku; karena aku tidak memiliki apa pun dan tidak menginginkan apa pun. Engkau membutuhkannya dan selamanya ingin lebih banyak.”
ORANG GILA DAN MUADZIN
Seorang muadzin mendaki puncak menara dan mengumandangkan adzan. Sementara itu, seorang gila melintas dan seseorang bertanya kepadanya:
“Apa yang dilakukannya di sana, di atas menara?”
Si gila menjawab:
“Orang di atas itu sesungguhnya mengocok kulit kacang yang kosong.”
Ketika engkau mengucapkan sembilanpuluh sembilan Nama Allah, maka engkau seperti bermain dengan kulit kacang yang kosong. Bagaimana Tuhan dapat dimengerti melalui nama-nama?
Karena engkau tidak dapat mengucapkan dalam kata-kata ‘mengenai hakikat Tuhan, paling baik tidak usah bicara tentang siapa pun sama sekali.
(Kitab-Ilahi)
KERANGKA RELIGIUS
Suatu hari ketika Sahabat Umar ra. melihat dari permulaan hingga habis sebuah kitab suci Yahudi, Nabi Muhammad saw bersabda:
“Engkau terlalu sederhana dengan kitab itu. Jika ingin mendapat suatu manfaat darinya, engkau harus menjadi seorang Yahudi. Menjadi seorang Yahudi yang sempurna lebih baik daripada Muslim yang tidak sempurna; dan membuang-buang waktu dengan kitab Yahudi adalah kepalang tanggung dan tidak memberimu manfaat dengan satu cara atau cara yang lain.
Kesalahanmu adalah bahwa engkau tidak melakukan sesuatu atau pun lainnya dalam sikap ini. Engkau tidak yakin, sangsi pun engkau juga tidak. Lalu, Bagaimana keadaanmu ini, Bagaimana dapat digambarkan?”
(Kitab-Ilahi)
KISAH NABI MUSA A.S.
Suatu ketika Musa a.s. memohon kepada Allah swt. untuk menunjukkan kepadanya salah satu sahabat Allah, dan sebuah suara menjawab:
“Pergilah ke sebuah lembah dan di sana engkau akan menjumpai seorang yang dicintai, orang terpilih, yang menempuh Jalan (pencapaian)!”
Musa pun pergi dan menjumpai orang tersebut, berpakaian compang-camping, dikerubuti berbagai serangga dan binatang melata lainnya.
Musa bertanya, “Dapatkah aku membantumu?”
Laki-laki tersebut menjawab, “Utusan Allah, bawakanlah aku secangkir air, karena sangat haus!”
Ketika Musa kembali dengan membawa air, ia menemukan laki-laki tersebut terkapar sekarat. Ia pergi mencari potongan baju untuk membalutnya. Ketika kembali, ia justru melihat tubuh laki-laki tersebut dilahap seekor singa padang pasir.
Musa sangat tertekan dan menangis:
“Engkau Yang Mahaperkasa dan Maha Mengetahui, Yang mengubah lumpur menjadi manusia. Sebagian menjadi penghuni Surga, lainnya harus disiksa, satu bahagia yang lain menderita. Ini lawan asas yang tidak dapat dimengerti oleh siapa pun.”
Kemudian muncul suara dari dalam diri Musa:
“Orang ini telah bergantung kepada Kami untuk minum dan kemudian berpaling dari kepercayaan itu. Ia bergantung kepada Musa untuk makanannya, percaya pada perantara. Ia telah bersalah karena meminta bantuan dari yang lain setelah puas dengan Kami …”
Hatimu senantiasa melekat sendiri dan makin melekat lagi pada keinginan. Engkau harus tahu bagaimana menjaga hubungan dengan asal-usulmu …
(Ilahi-Nama)
RUH SEBELUM PENCIPTAAN TUBUH
Ketahuilah mengenai waktu ketika di sana ada ruh dan tanpa tubuh.
Inilah masa selama beberapa tahun, yang setiap tahunnya sama dengan seribu tahun kita.
Ruh-ruh tersebut berbaris. Dunia diperlihatkan kepada mereka. Sembilan dari sepuluh ruh berlari menuju dunia.
Kemudian Surga diperlihatkan pada ruh yang tersisa. Sembilan dari sepuluh ruh berlari menuju Surga.
Kemudian Neraka diperlihatkan kepada ruh yang tersisa. Sembilan dari sepuluh ruh berlari menghindarinya dengan ketakutan.
Maka tinggallah beberapa ruh, mereka yang tidak terpengaruh oleh apa pun. Mereka tidak tertarik pada Dunia maupun Surga, juga tidak takut Neraka.
Sebuah Suara Semesta berkata pada ruh-ruh yang tinggal tersebut:
“Wahai ruh-ruh bodoh, apa yang kalian inginkan?”
Secara serempak mereka menjawab:
“Engkau mengetahui segala pengetahuan, bahwa Engkau-lah Yang kami inginkan, dan bahwa kami tidak ingin meninggalkan KehadiranMu.”
Suara itu berkata:
“Menginginkan Kami penuh bahaya, menimbulkan kesulitan dan akibat yang tidak terhitung.”
Ruh-ruh menjawab:
“Dengan senang hati akan kami alami apa pun untuk bersama-Mu, dan kehilangan apa pun agar kami mendapatkan segalanya.”
(Ilahi-Nama)
UJIAN
Berkait dengan ucapan Syaqiq al-Balkh kepada murid-muridnya:
“Kupertaruhkan Imanku kepada Allah, dan pergi mengarungi hutan ganas dengan uang sekadarnya di saku. Aku pergi haji dan pulang, dan uang receh ini masih ada.”
Salah seorang muridnya berdiri dan berkata:
“Jika Anda memiliki uang receh di saku, Bagaimana Anda dapat mengatakan, bahwa Anda menggantungkan segala sesuatu kepada yang lebih Tinggi?”
Syaqiq menjawab:
“Tidak ada lagi yang dapat kukatakan, anak muda ini benar. Ketika engkau menggantungkan segala sesuatu kepada-Nya, maka tidak ada tempat lagi untuk apa pun, sekecil apa pun, sebagai suatu perbekalan!”
(Kitab-Ilahi)
MUHAMMAD, IBNU ISA
Muhammad, ibnu Isa, salah seorang sahabat Pemimpin Ummat, karena kecerdasannya melebihi yang lain.
Suatu hari ia berkuda melintasi jalanan di Baghdad, diiringi pelayan dalam jumlah cukup banyak. Orang-orang pun saling bertanya:
“Siapa laki-laki itu, begitu mempesona, kudanya bagus, begitu kaya?”
Dan seorang perempuan tua yang berjalan tertatih diantara mereka menjawab:
“Itu orang miskin, bukan orang kaya. Karena, jika Allah meniadakan kesenangannya, ia tidak akan memiliki benda seperti sekarang.”
Mendengar ini, Muhammad ibnu Isa, turun dari kudanya yang sehat dan bagus, dan mengakui bahwa memang begitulah keadaannya.
Sejak saat itu ia meninggalkan keinginannya untuk memamerkan kekayaannya.
PEMAHAMAN ORANG GILA
Terdapat orang gila yang tidak ikut ambil bagian dalam jamaah shalat. Di hari Jum’at, dengan penuh kesulitan, orang-orang membujuknya untuk hadir.
Tetapi ketika sang Imam memulai, orang gila tersebut justru melenguh seperti lembu jantan.
Orang-orang menyangka bahwa ia hanya sedang kambuh lagi gilanya, tetapi pada saat yang sama ingin membantunya. Sesudah shalat mereka menegurnya:
“Apakah engkau tidak berpikir tentang Allah, engkau bersuara seperti seekor binatang di tengah-tengah shalat jamaah?”
Si orang gila menjawab:
“Aku hanya melakukan apa yang dikerjakan Imam. Ketika ia telah menekankan, ia membeli seekor lembu, maka aku pun bersuara seperti seekor lembu!”
Ketika jawaban aneh ini disampaikan kepada sang Imam, ia mengakui:
“Ketika aku menyebut Allahu Akbar, aku sedang memikirkan pertanianku. Dan ketika sampai pada alhamdulillah, aku berpikir bahwa aku akan membeli seekor lembu. Pada saat itulah aku mendengar suara lenguhan.”
SI KIKIR DAN MALAIKAT MAUT
Setelah bekerja keras, berdagang dan meminjamkan (uang) si kikir telah menumpuk harta, tigaratus ribu dinar. Ia memiliki tanah luas dan banyak gedung, dan segala macam harta benda.
Kemudian ia memutuskan untuk beristirahat selama satu tahun, hidup nyaman, dan kemudian menentukan mengenai bagaimana masa depannya. Tetapi, segera setelah ia berhenti mengumpulkan uang, ketika itu juga muncul Malaikat Maut di hadapannya untuk mencabut nyawanya.
Si kikir pun berusaha dengan segala daya upaya, agar Malaikat Maut yang pantang menyerah itu, tidak jadi menjalankan tugasnya. Ia berkata:
“Bantulah aku, hanya tiga hari saja, dan akan kuberikan sepertiga hartaku.”
Malaikat Maut menolak, dan mulai menarik nyawa si kikir. Kemudian si kikir berkata lagi:
“Jika engkau membolehkan aku tinggal dua hari lagi, akan kuberi engkau duaratus ribu dinar dari gudangku.”
Tetapi sang Malaikat Maut tidak mau mendengarkannya. Bahkan ia menolak memberi tambahan tiga hari demi tigaratus ribu dinarnya. Kemudian si kikir berkata:
“Tolonglah, kalau begitu beri aku waktu untuk menulis sebentar.”
Kali ini Malaikat Maut mengizinkannya, dan si kikir menulis dengan darahnya sendiri.
“Wahai manusia, manfaatkan hidupmu. Aku tidak dapat membelinya dengan tigaratus ribu dinar. Pastikan bahwa engkau menyadari nilai dari waktu yang engkau miliki.”
KEPALA KELEDAI
Seorang bodoh melihat kepala keledai di atas sebatang kayu di halaman.
Ia bertanya, “Apa yang terjadi di sana?”
Ada yang menjawab, “Diletakkan di sana untuk memalingkan mata iblis!”
“Engkau ini berotak keledai, dan itulah mengapa engkau menggantungkan kepala keledai! Ketika hidupnya, ia tidak dapat menghindari batang kayu yang memukulnya. Sekarang, ketika mati, bagaimana dapat menolak mata iblis?”
KEMUSTAHILAN DAN KEBODOHAN
Apa yang tampak mustahil dan tidak, adalah lebih baik daripada kebodohan manusia yang menganggapnya mustahil.
CAHAYA
Pecinta (kekasih) sejati akan menemukan cahaya hanya jika, seperti lilin, dirinya adalah bahan bakar, membakar dirinya sendiri.
UMMAT KRISTEN DAN MUSLIM
Suatu ketika, seorang Kristen menjadi Muslim. Keesokannya ia telah mulai minum anggur.
Dalam keadaan mabuk, ibunya datang dan berkata:
“Anakku, apa yang engkau kerjakan? Bertingkah dalam cara seperti ini engkau telah menolak Yesus, dan juga gagal menyenangkan Muhammad. Tetaplah berpijak pada keyakinanmu! Tidak seorang pun dapat menjadi manusia dan menyembah berhala sama baik mempertahankan keyakinan lain.”
POHON TIDAK MENYADARI AKAN KEADAANNYA
Suatu hari seorang laki-laki menebang pohon. Seorang Sufi yang melihatnya, mendekat dan berkata:
“Lihatlah cabangnya yang segar ini, penuh dengan getah, bahagia karena ia belum tahu kalau dipotong.”
“Barangkali memang tidak diketahui kerusakan akan membuatnya menderita, tetapi akan mengetahui pada waktunya.”
“Sementara itu, engkau tidak dapat menalarnya.”
Pemotongan ini, ketidaktahuan ini, inilah keadaan manusia.
ANAK PANAH
Ketika anak panah lepas dari busurnya, mungkin melesat lurus, mungkin pula tidak, sesuai kehendak pemanahnya. Betapa aneh, bahwa ketika anak panah melesat tanpa melenceng, tergantung pada keahlian pemanah: tetapi jika keluar dari kebenaran, merupakan anak panah yang menerima perintah keliru!
RAJA MAHMUD DAN BUNCIS
Suatu hari, Raja Mahmud yang perkasa dari Ghazna pergi berburu, ia terpisah dari kelompoknya. Ia kemudian mendatangi asap yang berasal dari sebuah api kecil, di mana ia juga menemukan perempuan tua dengan belanganya.
Raja Mahmud berkata:
“Hari ini engkau mendapat tamu seorang raja, apa yang engkau masak di atas apimu?”
Perempuan tua itu menjawab, “Ini rebusan buncis.”
Raja Mahmud bertanya, “Wahai perempuan tua, maukah engkau memberiku sedikit?”
“Tidak,” jawab perempuan itu, “Karena ini hanya untukku. Kerajaanmu tidak berharga sebagaimana buncis-buncis ini. Engkau boleh saja menginginkan buncisku, tetapi aku tidak menginginkan apa pun yang engkau miliki. Buncis-buncisku bernilai seratus kali lipat daripada semua milikmu. Lihat musuh-musuhmu, yang berusaha mengambil alih milikmu. Aku bebas, dan memiliki kacang buncisku.”
Mahmud yang perkasa memandang pemilik kacang tersebut, memikirkan kekuasaannya yang dipersengketakan, dan menangis.
KETIDAKSADARAN
Engkau tidak tahu apa pun tentang dirimu sendiri dan bagaimana keadaannya.
Dirimu seperti lilin dalam sarang lebah: apa yang diketahui, apa yang diketahui, api ataukah selokan?
Ketika terpasang di tempat lilin, dan cahayanya terpancar, barulah diketahui.
Sama saja, engkau akan mengetahui dirimu hidup ketika engkau mati, dan hanya berpikir dirimu hidup.
ORANG GILA DAN PEGULAT
Seorang gila setengah mabuk memanggil pembawa peti mati setelah pemakaman.
“Siapa orang yang jatuh dalam cengkeraman kematian ini?”
Mereka menjawab, “Hai orang gila, ini jasad juara gulat, pemuda terbaik selama hidupnya.”
Si orang gila menjawab, “Ia mati oleh lawan yang perkasa, tak diketahui kalau hal itu akan terjadi padanya.”
DUA CINCIN
Seorang laki-laki mencintai dua perempuan dengan adil. Mereka berdua memintanya mengatakan siapa diantara mereka yang paling disukai.
Laki-laki tersebut minta waktu sampai keputusannya diketahui. Kemudian ia membuat dua cincin, masing-masing sangat mirip. Lalu ia memanggil keduanya dan mengatakan, “Orang yang paling kucintai, dialah yang mengenakan cincin ini.”
INI, JUGA, AKAN BERLALU
Seorang raja yang sangat berkuasa, memerintah banyak wilayah, berada dalam posisi cemerlang lantaran orang-orang bijak yang dipekerjakannya. Suatu hari ia merasa bingung sendiri dan memanggil penasihatnya.
Katanya, “Aku tidak tahu sebabnya, tetapi sesuatu mendorongku untuk mencari cincin yang memungkinkan diriku menjadikan negara yang tenteram. Aku harus memiliki cincin itu. Dan cincin ini harus dapat membuatku bahagia di kala duka. Pada saat yang sama, jika aku merasa bahagia dan melihatnya, maka cicin itu dapat menjadikanku sedih.”
Orang-orang bijak saling berunding, dan mereka berada dalam perenungan yang amat dalam. Akhirnya mereka memutuskan sifat-sifat cincin yang sesuai dengan raja mereka. Cincin yang dirancang itu, bertuliskan sebuah legenda: Ini, juga, Akan Berlalu.
RAJA YANG MERAMALKAN MASA DEPANNYA
Seorang raja yang juga ahli perbintangan meramal bintangnya, bahwa pada hari dan jam tertentu malapetaka akan mendekatinya.
Ia kemudian membangun rumah batu yang kuat, dan menempatkan beberapa penjaga di luar.
Suatu hari, ketika berada di dalamnya, ia sadar bahwa masih dapat melihat cahaya (siang).
Ia menemukan lubang yang kemudian ditutupnya pula, untuk mencegah kemalangan masuk. Dengan menutup pintu, menjadikan dirinya sendiri tawanan dengan kedua tangannya sendiri. Dan karena itu, sang raja pun meninggal dunia.
RUANG INI
Pada dinding dalam lengkungan tekkia di gedung meditasi Aththar yang bersambungan, tertulis kata-kata:
“Disediakan untuk Orang Bijak (Hakim) Tamtim.”
Syeikh Aththar menyuruh murid tertuanya untuk meneliti sikap semua pendatang baru terhadap persembahan tersebut.
Ia menggambarkan bahwa semua yang memberikan tanggapan dalam cara tertentu, akan mengembangkan kekuatan mistik secara benar dan cepat; dan yang mengatakan atau melakukan sesuatu akan pergi atau harus disuruh pergi.
Aththar tidak pernah menanyakan kepada muridnya, pelamar mana yang bersikap demikian.
Tetapi mereka meneliti, selama bertahun-tahun, hasilnya sesuai yang digambarkan.
Suatu hari ia ditanya, mengapa meninggalkan persembahan tersebut di sana. Jawabnya, “Untuk menunjukkan mereka yang tidak tanggap, dan tampaknya tidak cukup menunjukkan tentang pengalaman-pengalaman tertentu, akan mengkhianati kemampuan diri atau tidak mencukupi, pada seseorang yang tahu bagaimana membuat suatu ujian.”
Catatan:

Dan Musa Pun Jatuh Pingsan

Posted on  by Salik Paramartha
Nabi Musa as diatas Gunung SinaiNabi Musa ‘alaihis-salaam’ telah memenuhi panggilan Allah swt., ia pun menitipkan Bani Israil ke Nabi Harun as., saudaranya, untuk naik ke gunung Sinai (Thuursina), gunung Allah yang keramat itu. Setelah ia menyempurnakan 40 malam yang diisi dengan puasa dan beribadat sendirian di atas gunung itu, Allah swt. pun berfirman dan menurunkan Taurat kepadanya. Kemudian Nabi Musa as. pun sangat rindu untuk dapat melihat Wajah Sang Kekasih yang telah berkata-kata kepadanya, Wajah Rabb-nya.
“Dan tatkala Musa datang menurut waktu yang telah Kami tentukan, dan telah berfirman Rabb-nya kepadanya, berkatalah ia: ‘Ya Rabbi perlihatkanlah (Diri-Mu) kepadaku, agar aku dapat memandang Engkau’. Berkatalah Allah: ‘Engkau sekali-kali tidak akan mampu untuk melihat-Ku, akan tetapi arahkanlah pandangan (engkau) ke gunung itu, maka jika ia tetap pada tempatnya niscaya engkau dapat melihat-Ku!’.”, QS.Al-’Araaf.[7]:143.
Setelah mendengar permintaan Nabi Musa as. itu, kemudian Allah swt. berfirman: “Wahai putra Imran, sesungguhnya tidak akan ada seorang pun yang sanggup untuk melihat-Ku, kemudian ia mampu untuk tetap hidup!”
Nabi Musa as. berkata: “Rabbi, tidak ada sesuatu pun yang menyekutui-Mu, sesungguhnya melihat-Mu dan kemudian mati itu lebih aku sukai daripada aku terus hidup dengan tanpa melihat-Mu! Rabbi, sempurnakanlah nikmat, anugrah, dan hikmat-Mu kepadaku dengan mengabulkan permohonanku ini, setelah itu aku rela mati!”
Ibnu Abbas ra., sahabat Rasulullah saw., meriwayatkan bahwa ketika Allah swt. mengetahui bahwa Nabi Musa as. ingin sekali permohonannya dikabulkan, maka berfirmanlah Allah swt.: “Pergilah engkau, dan lihatlah batu yang ada di atas puncak gunung itu, duduklah engkau di atas batu itu, kemudian Aku akan menurunkan balatentara-Ku kepadamu!”
Nabi Musa as. pun melaksanakan perintah Allah swt. tersebut. Dan ketika ia telah berada di atas batu itu, Allah swt. pun memerintahkan balatentara-Nya, para Malaikat hingga langit ketujuh, untuk menampakkan diri kepadanya.
Diperintahkan-Nya para Malaikat penghuni langit dunia untuk menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as. Mereka pun berlalu di hadapan Nabi Musa as. sambil mengeraskan suara tasbih dan tahlil mereka, bagaikan suara petir yang menyambar-nyambar.
Kemudian, para Malaikat penghuni langit kedua diperintahkan-Nya untuk menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as., mereka pun melaksanakannya. Mereka berlalu di hadapan Nabi Musa as. dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam. Mereka ini bersayap dan memiliki raut muka, diantara mereka ada yang berbentuk seperti singa. Mereka mengeraskan suara-suara tasbihnya.
Mendengan teriakan suara itu, Nabi Musa as. pun merasa ngeri, dan kemudian berkata: “Ya Rabbi, sungguh aku menyesal atas permohonanku. Rabbi, apakah Engkau berkenan untuk menyelamatkan aku dari tempat yang aku duduki ini?”
Pimpinan dari kelompok Malaikat tersebut berkata: “Hai Musa, bersabarlah atas apa yang engkau minta, apa yang engkau lihat ini baru sebagian kecil saja!”
Allah swt. kemudian memerintahkan para Malaikat penghuni langit ketiga agar mereka turun dan menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as. Lalu, keluarlah Malaikat-malaikat yang tak terhitung jumlahnya dengan beragam bentuk dan warnanya. Bentuk mereka ada yang seperti api yang menjilat-jilat, mereka memekikkan tasbih dan tahlil dengan suara yang hiruk-pikuk.
Mendengar suara ini semakin terkejutlah Nabi Musa as. dan timbullah rasa su’udzdzan dalam dadanya, bahkan berputus asa untuk hidup. Kemudian pemimpin para Malaikat dari kelompok ketiga ini berkata: “Wahai putra Imran, bersabarlah hingga engkau melihat lagi apa yang engkau tidak sanggup lagi untuk melihatnya!”
Allah swt. kemudian menurunkan wahyu kepada para Malaikat penghuni langit keempat, “Turunlah kamu sekalian kepada Musa dengan mengumandangkan tasbih!”
Para Malaikat langit keempat ini pun turun. Diantara mereka ada yang berbentuk seperti kobaran api yang menjilat-jilat, dan ada pula yang seperti salju. Mereka mempunyai suara yang melengking dengan mengumandangkan tasbih dan taqdis. Suara mereka berbeda dengan suara Malaikat-malaikat terdahulu. Kepada Nabi Musa as. ketua dari kelompok ini berkata: “Hai Musa! Bersabarlah atas apa yang engkau minta!”
Demikianlah, penghuni dari setiap langit hingga penghuni langit ketujuh satu demi satu turun dan menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as. dengan warna dan bentuk yang beragam. Semua Malaikat tersebut bergerak maju sambil cahayanya menyambar semua mata yang ada. Mereka ini datang dengan membawa tombak-tombak panjang. Setiap tombak itu panjangnya sepanjang sebatang pohon kurma yang tinggi dan besar. Tombak-tombak itu bagaikan api yang bersinar terang-benderang melebihi sinar matahari.
Nabi Musa as diatas Gunung SinaiNabi Musa as. menangis sambil meratap-ratap, katanya: “Ya Rabbi, ingatlah aku, jangan Engkau lupakan diriku ini! Aku adalah hamba-Mu! Aku tidak mempunyai keyakinan bahwa aku akan selamat dari tempat yang aku duduki ini! Jika aku keluar, aku akan terbakar, dan jika aku tetap di tempat ini maka aku akan mati!”
Ketua kelompok Malaikat itu pun berkata kepada Nabi Musa as.: “Nyaris dirimu dipenuhi dengan ketakutan, dan nyaris pula hatimu terlepas! Tempat yang kamu gunakan untuk duduk inilah merupakan tempat yang akan kamu pergunakan untuk melihat-Nya!”
Kemudian turunlah Malaikat Jibril as., Mika’il as., dan Israfil as. beserta seluruh Malaikat penghuni ketujuh langit yang ada, termasuk para Malaikat pemikul Al-’Arsy dan Al-Kursi. Mereka secara bersama-sama menghadap kapada Nabi Musa as. seraya berkata: “Wahai orang yang terus-menerus salah! Apa yang menyebabkanmu naik ke atas bukit ini? Mengapa kamu memberanikan diri meminta kepada Rabb-mu untuk dapat melihat kepada-Nya!?”
Nabi Musa as. terus menangis hingga gemetaranlah kedua lututnya, dan seakan-akan luruh tulang-tulang persendiannya.
Ketika Allah swt. melihat semua itu, maka ditampakkan-Nya lah kepada Nabi Musa as. tiang-tiang penyangga Al-’Arsy, lalu Nabi Musa as. bersandar pada salah satu tiang tersebut sehingga hatinya menjadi tenang.
Malaikat Israfil kemudian berkata kepadanya: “Hai Musa! Demi Allah, kami ini sekalipun sebagai pemimpin-pemimpin para Malaikat, sejak kami semua diciptakan, kami tidak berani untuk mengangkat pandangan mata kami ke arah Al-’Arsy! Karena kami sangat khawatir dan sangat takut! Mengapa kamu sampai berani melakukan hal ini wahai hamba yang lemah!?”
Setelah hatinya tenang, Nabi Musa as. menjawab: “Wahai Israfil! Aku ingin mengetahui akan Keagungan Wajah Rabb-ku, yang selama ini aku belum pernah melihatnya”
Allah swt. kemudian menurunkan wahyu kepada langit: “Aku akan menampakkan-Diri, bertajalli pada gunung itu!”
Maka bergetarlah seluruh langit dan bumi, gunung-gunung, matahari, bulan, mega, surga, neraka, para Malaikat dan samudera. Semua tersungkur bersujud, sementara Nabi Musa as. masih memandang ke arah gunung itu.
“Tatkala Rabb-nya menampakkan Diri (bertajalli) di atas gunung itu, maka hancur luluh lah gunung itu dan Musa pun jatuh pingsan”, QS.Al-’Araaf.[7]:143.
Nabi Musa as. seakan-akan mati karena pancaran Cahaya Allah swt. Yang Mulia, dan ia terjatuh dari batu, dan batu itu sendiri terjungkal, terbalik menjadi semacam kubah yang menaungi Nabi Musa as. agar tidak terbakar Cahaya.
Kemudian Allah swt. mengutus Malaikat Jibril as. untuk membalikkan batu itu dari tubuh Nabi Musa as., dan membimbingnya berdiri. Wajah Nabi Musa as. memancarkan cahaya kemuliaan, rambutnya memutih karena Cahaya.
“Maka setelah Musa tersadar kembali, dia berkata: ‘Maha Suci Engkau, aku sungguh bertaubat kepada-Mu, dan aku adalah orang yang pertama kali beriman!”, QS.Al-’Araaf.[7]:143.
Nabi Musa as. bertaubat atas apa yang ia minta, dan ia berkata: “Saya beriman, bahwa sesungguhnya tidak ada seorang pun yang akan mampu melihat-Mu dengan mata lahir, kecuali ia akan mati!”
Diadaptasi dari terjemahan kitab “Mukhtashar Kitaabit-Tawwabiin“, karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisy.
Zamzam A J Tanuwijaya
Bintaro, 27 Oktober 2009.


Musyawarah Para Burung

Posted on  by Salik Paramartha
musyawarah burung 4Dikisahkan, segala burung di dunia, yang dikenal atau tidak dikenal, datang berkumpul. Mereka sama-sama memiliki satu pertanyaan, siapakah raja mereka? Di antara mereka ada yang berkata, “Rasanya tak mungkin negeri dunia ini tidak memiliki raja. Maka rasanya mustahil bila kerajaan burung-burung tanpa penguasa! Jadi, kita semua memiliki Raja, ya, Raja.”
Semua burung tertegun, seperti ada keraguan yang mengawang-awang.
“Keadaan semacam ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Hidup kita ini akan percuma bila sepanjang hayat kita, kita tidak pernah mengetahui, dan mengenal siapa Raja kita sesungguhnya.”
Masing-masing dari mereka masih berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada yang berteriak, “Lalu apa yang harus kita lakukan?”
musyawarah burung 1“Tentu saja kita harus berusaha bersama-sama mencari seorang raja untuk kita semua; karena tidak ada negeri yang memiliki tatanan yang baik, tanpa seorang raja.· Mereka pun mulai berkumpul dan bersidang untuk memecahkan persoalan. Burung Hudhud dengan semangat dan penuh rasa percaya diri, tampil ke depan dan menempatkan diri di tengah majelis burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa dia telah memiliki pancaran ruhaniah yang tinggi. Dan jambul di kepalanya tegak berdiri mahkota yang melambangkan keagungan dan kebenaran, dan dia juga memiliki pengetahuan luas tentang baik dan buruk.
Burung-burung sekalian, kata Hudhud, kita mempunyai raja sejati, ia tinggal jauh di balik gunung-gunung Qaf. Ribuan daratan dan lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju tempatnya. Namanya Simurgh. Aku kenal raja itu dengan baik, tapi aku tak bisa terbang sendiri menemuinya. Bebaskan dirimu dari rasa malu, sombong, dan ingkar. Dia pasti akan melimpahkan cahaya bagi mereka yang sanggup melepaskan belenggu diri. Mereka yang demikian akan bebas dari baik dan buruk, karena berada di jalan kekasih-Nya. Sesungguhnya Dia dekat dengan kita, tapi kita jauh dari-Nya.
musyawarah burung 3Dikisahkan, pada suatu malam sang Maharaja Simurgh terbang di kegelapan malam. Tiba-tiba jatuhlah sehelai bulunya yang membuat geger seluruh penduduk bumi. Begitu mempesonanya bulu Simurg hingga membuat tercengang dan terheran-heran. Semua penduduk gegap gempita ingin menyaksikan keindahan dan keelokannya. Dan dikatakan kepada mereka, “Andaikata sehelai bulu tersebut tidak jatuh, niscaya tidak akan ada makhluk yang bernama burung di muka bumi ini.”
Kemudian burung Hudhud melanjutkan pembicaraannya, bahwa untuk menggapai istana Simurg mereka harus bersatu, saling bekerja sama dan tidak boleh saling mendahului. Setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh burung Hudhud, semua burung-burung bersemangat ingin sekali secepatnya pergi menghadap sang Maharaja Simurg. Namun, burung Hudhud menambahkan, bahwa perjalanan menuju istana Simurg tidak semudah yang dibayangkan, melainkan harus melewati ribuan rintangan dan guncangan dahsyat. Perjalanan juga sarat dengan penderitaan, kepedihan dan kesengsaraan.
“Apakah kalian sudah siap ?” kata burung Hudhud, menguji keseriusan mereka. Setelah mereka mendengarkan penjelasan bagaimana suka dukanya, pahit getirnya perjalanan menuju istana Simurg, ternyata semangat sebagian burung menjadi pudar dan turun.
musyawarah burung 2Namun, di antara burung-burung, ada seekor burung Kenari yang memberanikan diri menyampaikan pendapatnya, “Aku adalah Imamul Asyiqin, imamnya orang-orang yang asyik dan rindu. Aku sangat keberatan untuk ikut berangkat, bagaimana nanti orang-orang rindu dengan kemerduan kicauanku bila aku harus meninggalkan mereka. Bagaimana mungkin aku dapat berpisah dari kembang-kembang mekarku ?” demikian alasan burung Kenari.
Selanjutnya, burung Merak berkata, “Dulu aku hidup di syurga bersama Adam, lantas aku diusir dari syurga, rasanya aku ingin kembali ke tempat tinggalku lagi. Karena itu, aku tidak mau ikut dalam rombongan.”
Kemudian disusul oleh Itik, “Aku sudah biasa hidup dalam kesucian, dan aku juga terbiasa berenang di tempat yang kering kerontang. Aku tidak mungkin hidup tanpa air,” kilah Itik.
Begitu juga burung Garuda, “Saya sudah biasa hidup senang di gunung, bagaimana mungkin aku sanggup meninggalkan tempatku yang menyenangkan”, alasan Garuda.
Kemudian disusul burung Gelatik, “Aku hanya seekor burung kecil, dan lemah, takkan mungkin sanggup ikut mengembara sejauh itu,” kata burung Gelatik.
Lantas burung Elang ikut menyahut, “Semua orang sudah tahu kedudukanku yang tinggi ini, maka tidak mungkin aku meninggalkan tempat dan kedudukan yang mulia ini, ” kata burung Elang.
Burung Hudhud sebagai pemimpin sangat bijak dan sabar mendengar semua keluhan dan alasan burung-burung yang enggan berangkat. Namun demikian, burung Hudhud tetap bersemangat memberikan dorongan dan motivasi kepada mereka. “Kenapa kalian harus berberlindung di balik dalil-dalil nafsumu, sehingga semangatmu yang sudah membara menjadi padam? Padahal kalian tahu bahwa perjalanan menuju istana Simurgh adalah perjalanan suci, kenapa harus takut dan bimbang dengan prasangka yang ada pada dirimu?” ucap Hudhud.
Kemudian ada seekor burung menyela, “Dengan cara apa kita bisa sampai ke tempat Maharaja Simurgh yang jauh dan sulit itu? “Dengan bekal himmah (semangat) yang tinggi, kemauan yang kuat, dan tabah menghadapi segala cobaan dan rintangan. Bagi orang yang rindu, seperti apapun cobaan akan dihadapi, dan seberapa pun rintangan akan dilewati. Perlu diketahui bahwa Maharaja Simurg sudah jelas dan dekat, laksana matahari dengan cahayanya,” jawab Hudhud meyakinkan. Sabarlah, bertawakkallah, karena bila kalian telah sanggup menempuh perjalanan itu, kalian akan tetap berada dalam jalan yang benar,·demikian lanjut Hudhud.
Setelah itu, bangkitlah semangat burung-burung seolah-olah baru saja mendapatkan kekuatan baru untuk terus melangkah menuju istana Simurg. Akhirnya, burung-burung yang berjumlah ribuan sepakat untuk berangkat bersama-sama tanpa satupun yang tertinggal.
Perjalanan panjang telah dimulai, perbekalan telah disiapkan. Burung Hudhud yang didaulat menjadi pemimpin mereka telah mengatur persiapan, dengan membagi rombongan menjadi beberapa kelompok. Setelah perjalanan cukup lama menembus lorong-lorong waktu, kegelisahan mulai datang menimpa mereka. “Mengapa perjalanan sudah lama dan jauh, kok tidak sampai-sampai?” guman mereka di dalam hati. Mulailah mereka dihinggapi rasa malas karena menganggap perjalanan terlalu lama, mereka bosan karena tidak lekas sampai. Perasaan mereka diliputi keraguan dan kebimbangan. Kemudian sebagian burung ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.
Namun burung-burung lain yang masih memiliki stamina kuat dan himmah yang tinggi tidak menghiraukan penderitaan yang mereka alami, dan melanjutkan perjalanan yang maha panjang itu.
Tiba-tiba rintangan datang kembali, terpaan angin yang sangat kencang menerpa mereka sehingga membuat bulu-bulu indah yang dibanggakan berguguran. Kegagahan burung-burung perkasa pun mulai pudar. Kedudukan dan pangkat yang tinggi sudah tidak terpikirkan. Berbagai macam penyakit mulai menyerang mereka, kian lengkaplah penderitaan yang dirasakan oleh para burung tersebut. Badan mereka kurus kering, penyakit datang silih berganti membuat mereka makin tidak berdaya. Semua atribut duniawi yang dulu disandang dan dibanggakan, sekarang tanggal tanpa sisa, yang ada hanyalah totalitas kepasrahan dalam ketidak berdayaan. Mereka hanyut dalam samudera iradatullah dan tenggelam dalam gelombang fana’.
Pada akhirnya Cuma sedikit dari mereka yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia dimana Simurg membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang pergi, tinggal 30 ekor yang masih bertahan dan akhirnya sampai di gerbang istana Simurgh. Namun kondisi mereka sangat memprihatinkan, tampak gurat-gurat kelelahan di wajah mereka. Bahkan bulu-bulu yang menempel di tubuh mereka rontok tak bersisa. Di sini terlihat, meski mereka berasal dari latar belakang berbeda, namun pada proses puncak pencapaian spiritual adalah sama, yaitu dalam kondisi telanjang bulat dan lepas dari pakaian basyariyah.
Kemudian di depan gerbang istana mereka beristirahat sejenak sambil mengatur nafas. Tiba-tiba datang penjaga istana menghampiri mereka, “Apa tujuan kalian susah payah datang ke istana Simurgh?” kata penjaga istana. Serentak mereka menjawab, “Saya datang untuk menghadap Maharaja Simurg, berilah kami kesempatan untuk bertemu dengannya.”
Tanpa diduga, terdengar suara sayup-sayup menyapa mereka dari dalam istana, “Salaamun qaulam min rabbir rahiim” sembari mempersilahkan mereka masuk ke dalam. Lalu mereka masuk secara bersama-sama. Kemudian terbukalah kelambu hijab satu demi satu yang berjumlah ribuan. Mata mereka terbelalak memandang keindahan yang amat mempesona, keindahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Tatkala seluruh hijab tersingkap, ternyata yang dijumpai adalah wujud dirinya. Burung-burung pun saling bertanya dan terkagum-kagum, “Lho kok aku sudah ada disini?” begitu guman mereka dalam hati. Seolah-olah mereka berada di depan cermin sehingga yang ada adalah wujud dirinya. Maka datanglah suara lembut menjawabnya, “Mahligai Simurgh ibarat cermin, maka siapapun yang sampai pada mahligai ini, tidak akan melihat wujud selain wujud diri sendiri. Perjumpaan ini di luar angan dan pikirmu, dan juga tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, namun hanya dapat dirasakan dengan rasa. Karena itu, engkau harus keluar dari dalam dirimu sehingga engkau menjadi sosok pribadi Insan Kamil.”
Akhirnya, mereka memahami hakikat dirinya, setelah melewati tahapan fana’ billah hingga mencapai puncak baqa’ billah. Maka hilanglah sifat-sifat kehambaan dan kekal dalam ketuhanan.
Dikutip dari Majalah “KASYAF”.
Diadaptasi dari Buku “
Musyawarah Para Burung“, karya Fariduddin Attar


Tugas Murid Junaid

Posted on  by Salik Paramartha
riwayat sufiJunaid Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.
Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.
Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak boleh melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.
Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.
Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia masih menemaniku. Aku tak boleh pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku.


Bahlul dan Tahta Raja

Posted on  by Salik Paramartha
anekdot sufiBahlul, si tolol yang bijaksana, sering menyembunyikan kecendekiaannya di balik tabir kegilaan. Dengan itu, ia dapat keluar masuk istana Harun Al-Rasyid dengan bebasnya. Sang Raja pun amat menghargai bimbingannya.
Suatu hari, Bahlul masuk ke istana dan menemukan singgasana Raja kosong. Dengan enteng, ia langsung mendudukinya. Menempati tahta Raja termasuk ke dalam kejahatan berat dan boleh dihukum mati. Para pengawal menangkap Bahlul, menyeretnya turun dari tahta, dan memukulinya. Mendengar teriakan Bahlul yang kesakitan, Raja segera menghampirinya.
Bahlul masih menangis keras ketika Raja menanyakan sebab keributan ini kepada para pengawal. Raja berkata kepada yang memukuli Bahlul, “Kasihan! Orang ini gila. Mana ada orang waras yang berani menduduki singgasana Raja?” Ia lalu berpaling ke arah Bahlul, “Sudahlah, tak usah menangis. Jangan kuatir, cepat hapus air matamu.” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, bukan pukulan mereka yang membuatku menangis. Aku menangis karena kasihan terhadapmu!”
“Kau mengasihaniku?” Harun mengherdik, “Mengapa engkau harus menangisiku?” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, aku cuma duduk di tahtamu sekali tapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras. Apalagi kau, kau telah menduduki tahtamu selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan kau terima? Aku menangis karena memikirkan nasibmu yang malang…


Kepala Ikan untuk Sang Nelayan

Posted on  by Salik Paramartha
hikayat sufiSeorang nelayan salih di Tunisia tinggal di sebuah gubuk yang sederhana dari tanah liat. Setiap hari ia melayarkan perahunya untuk menangkap ikan. Setiap hari, ia terbiasa menyerahkan seluruh hasil tangkapannya pada orang-orang miskin dan hanya menyisakan sepotong kepala ikan untuk ia rebus sebagai makan malamnya.
Nelayan itu lalu berguru kepada syaikh besar sufi, Ibn Arabi. Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun menjadi seorang syaikh seperti gurunya.
Suatu saat, salah seorang murid sang nelayan akan mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu memintanya untuk mengunjungi Syaikhul Akbar, Ibn Arabi. Nelayan itu berpesan agar dimintakan nasihat bagi dirinya. Ia merasakan kebuntuan dalam jiwanya.
Pergilah murid itu ke kota kediaman Ibn Arabi. Kepada penduduk setempat, ia menanyakan tempat tinggal sang syaikh. Orang-orang menunjukkan kepadanya sebuah puri indah bagai istana yang berdiri di puncak suatu bukit. “Itulah rumah Syaikh,” ujar mereka.
Murid itu amat terkejut. Ia berfikir betapa amat duniawinya Ibn Arabi dibandingkan dengan gurunya sendiri, yang tak lebih dari seorang nelayan sederhana.
Dengan penuh keraguan, ia pun pergi mengunjungi rumah mewah yang ditunjukkan. Sepanjang perjalanan ia melewati ladang-ladang yang subur, jalanan yang bersih, dan kumpulan sapi, domba, dan kambing. Setiap kali ia bertanya kepada orang yang dijumpainya, selalu ia memperoleh jawaban bahwa pemilik dari semua ladang, lahan, dan ternak itu tak lain ialah Ibn Arabi. Tak henti-hentinya ia bertanya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin seorang materialistik seperti itu boleh menjadi seorang guru sufi.
Ketika tiba ia di puri tersebut, apa yang paling ditakutinya terbukti. Kekayaan dan kemewahan yang disaksikannya di rumah sang syaikh tak pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpinya. Dinding rumah itu terbuat dari marmer, seluruh permukaan lantainya ditutupi oleh karpet-karpet mahal. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra. Baju mereka lebih indah dari apa yang dipakai oleh orang terkaya di kampung halamannya.
Murid itu meminta untuk bertemu dengan sang syaikh. Pelayan menjawab bahwa Syaikh Ibn Arabi sedang mengunjungi khalifah dan akan segera kembali. Tak lama kemudian, ia menyaksikan sebuah arak-arakan mendekati puri tersebut. Pertama muncul pasukan pengawal kehormatan yang terdiri dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, mengendarai kuda-kuda arabia yang gagah. Lalu muncullah Ibn Arabi dengan pakaian sutra yang teramat indah, lengkap dengan surban yang lazim dipakai para sultan.
Si murid lalu dibawa menghadap Ibn Arabi. Para pelayan yang terdiri dari para pemuda tampan dan gadis cantik membawakan kue-kue dan minuman. Murid itu pun menyampaikan pesan dari gurunya. Ia menjadi tambah terkejut dan geram ketika Ibn Arabi mengatakan kepadanya, “Katakanlah pada gurumu, masalahnya adalah ia masih terlalu terikat kepada dunia.”
Tatkala murid itu kembali ke kampungnya, guru nelayan itu dengan antusias menanyakan apakah ia sempat bertemu dengan syaikh besar itu. Dipenuhi keraguan, murid itu mengaku bahwa ia memang telah menemuinya. “Lalu,” tanya nelayan itu, “apakah ia menitipkan kepadamu suatu nasihat bagiku?”
Pada awalnya, si murid enggan mengulangi nasihat dari Ibn Arabi. Ia merasa amat tak pantas mengingat betapa berkecukupannya ia lihat kehidupan Ibn Arabi dan betapa berkekurangannya kehidupan gurunya sendiri.
Namun karena guru itu terus memaksanya, akhirnya murid itu pun bercerita tentang apa yang dikatakan oleh Ibn Arabi. Mendengar itu semua, nelayan itu berurai air mata. Muridnya tambah kehairanan, bagaimana mungkin Ibn Arabi yang hidup sedemikian mewah, berani menasihati gurunya bahwa ia terlalu terikat kepada dunia.
“Dia benar,” jawab sang nelayan, “ia benar-benar tak peduli dengan semua yang ada padanya. Sedangkan aku, setiap malam ketika aku menyantap kepala ikan, selalu aku berharap seandainya saja itu seekor ikan yang utuh.


Keperluan Yang Makin Mendesak

Posted on  by Salik Paramartha
anekdot sufiPada suatu malam, seorang penguasa tiran di Turkistan sedang mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorang darwis. Tiba-tiba bertanya tentang Nabi Khidir. Khidir, kata darwis itu, datang kalau diperlukan. Tangkap dan jubahkan ia kalau ia muncul, dan segala pengetahuan menjadi milik paduka. Apakah itu boleh terjadi pada siapa pun? Siapa pun boleh, kata darwis itu.
Siapa pula lebih boleh dariku? fikir sang Raja; dan ia pun mengedarkan pengumuman: Barangsiapa boleh menghadirkan Khidir yang gaib, akan kujadikan orang kaya.
Seorang lelaki miskin dan buta bernama Bakhtiar Baba, setelah mendengar pengumuman itu menyusun akal. Ia berkata kepada istrinya, Aku punya rencana. Kita akan segera kaya, tetapi beberapa lama kemudian aku harus mati. Namun, hal itu tidak mengapa, sebab kekayaan kita itu boleh menghidupimu selamanya.
Kemudian Bakhtiar menghadap Raja dan mengatakan bahwa ia akan mencari Khidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja bersedia memberinya seribu keping emas. Kalau kau boleh menemukan Khidir, kata Raja, kau akan mendapat sepuluh kali seribu keping wang emas ini. Kalau gagal, kau akan mati, dipancung di tempat ini sebagai peringatan kepada siapa pun yang akan mencoba mempermainkan rajanya.
Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang dan memberikan wang itu kepada istrinya, sebagi jaminan hari tuanya. Sisa hidupnya yang tinggal empat puluh hari itu dipergunakannya untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain.
Pada hari keempat puluh ia menghadap Raja. Yang Mulia, katanya, kerakusanmu telah menyebabkan kau berfikir bahwa wang akan boleh mendatangkan Khidir. Tetapi Khidir, kata orang, tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkan kerakusan.
Sang Raja sangat marah, Orang celaka, kau telah mengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini berani mencampuri keinginan seorang raja?
Bakhtiar berkata, Menurut dongeng, semua orang boleh bertemu Khidir, tetapi pertemuan itu hanya akan ada manfaatnya apabila maksud orang itu benar. Mereka bilang, Khidir akan menemui orang selama ia boleh memanfaatkan saat kunjungannya itu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya.
Cukup ocehan itu, kata sang Raja, sebab tak akan memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal meminta para menteri yang berkumpul di sini agar memberikan nasihatnya tentang cara yang terbaik untuk menghukummu.
Ia menoleh ke Menteri Pertama dan bertanya, Bagaimana cara orang itu mati? Menteri Pertama menjawab, Panggang dia hidup-hidup sebagai peringatan.
Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya, berkata, Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya.
Menteri Ketiga berkata, Sediakan kebutuhan hidup orang itu agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidup keluarganya.
Sementara pembicaraan itu berlangsung, seseorang yang bijaksana yang sudah sangat tua memasuki rwang pertemuan. Ia berkata, Setiap orang mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi di dalam dirinya.
Apa maksudmu, tanya Raja.
Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya Tukang Roti, jadi ia berbicara tentang panggang memanggang. Menteri Kedua, dulunya Tukang Daging, jadi ia berbicara tentang potong memotong daging. Menteri Ketiga, yang telah mempelajari ilmu kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini.
Catat dua hal ini, pertama, Khidir muncul melayani setiap orang sesuai kemampuan orang itu untuk memanfaatkan kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini yang kuberi nama Baba (Bapak dalam bahasa Parsi, -red.) karena pengorbanannya- telah didesak oleh keputusasaannya untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin mendesak sehingga aku pun muncul di depanmu.
Ketika orang-orang itu memperhatikannya, orang tua yang bijaksana itu pun lenyap begitu saja. Sesuai yang diperintahkan Khidir. Raja memberikan belanja teratur kepada Bakhtiar. Menteri Pertama dan Kedua dipecat, dan seribu keping wang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan oleh Bakhtiar dan istrinya.
Catatan:
Konon, Bakhtiar Baba adalah seorang sufi bijaksana, yang hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di Khurasan, sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi. Kisah ini, dikatakan juga terjadi pada sejumlah besar syekh sufi lain dan menggambarkan pengertian tentang terjalinnya keinginan manusia dengan makhluk lain. Khidir merupakan penghubung antara keduanya. Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya Jalaluddin Rumi: Peralatan baru bagi pemahaman akan ada apabila keperluan menuntutnya/ Karenanya, wahai manusia, jadikan keperluanmu makin mendesak/ Sehingga engkau boleh mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi.


Tuhan Melihat Hatimu

Posted on  by Salik Paramartha
hikayat sufiPada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafalkan bacaan salatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan memutuskan untuk tidak salat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk salat bersama orang yang tak boleh mengucapkan bacaan salat dengan benar.
Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, “Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan salatmu, kau akan memperoleh keridaan-Ku, dan salat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh salat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan salatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna.


Tiga Nasihat

Posted on  by Salik Paramartha
fabel sufiPada suatu hari, ada seseorang menangkap burung. Burung itu berkata kepadanya, Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku. Nanti aku beri kau tiga nasihat.Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.
Orang itu setuju, lalu ia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun engkau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal.
Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan. Disampaikannya nasihat yang kedua, Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.
Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia berkata, Wahai manusia malang! Dalam diriku terdapat dua permata besar, kalau saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya. Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun katanya, setidaknya, katakan padaku nasihat yang ketiga itu!
Si burung menjawab, Alangkah tololnya kau meminta nasihat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali. Sudah kukatakan padaku agar jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku pun tidak cukup besar untuk menyimpan dua permata besar! Kau tolol! Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia.
Catatan:
Dalam lingkungan darwis, kisah ini dianggap sangat penting untuk mengakalkan fikiran siswa sufi, menyiapkannya menghadapi pengalaman yang tidak boleh dicapai dengan cara-cara biasa. Di samping penggunaannya sehari-hari di kalangan sufi, kisah ini terdapat juga dalam karya klasik Rumi, Matsnawi. Kisah ini juga ditonjolkan dalam Kitab Ketuhanan karya Fariduddin Aththar, salah seorang guru Rumi. Kedua tokoh sufi itu hidup pada abad ketiga belas.


Isa Dan Orang-Orang Bimbang

Posted on  by Salik Paramartha
nabi isa asDiceritakan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang lain-lain, pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalan-jalan di padang pasir dekat Baitulmukadis bersama-sama sekelompok orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.
Mereka meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada mereka Kata Rahasia yang telah dipergunakannya untuk menghidupkan orang mati. Isa berkata, “Kalau kukatakan itu padamu, kau pasti menyalahgunakannya.”
Mereka berkata, “Kami sudah siap dan sesuai untuk pengetahuan semacam itu; tambahan lagi, hal itu akan menambah keyakinan kami.”
“Kalian tak memahami apa yang kalian minta,” katanya -tetapi diberitahukannya juga Kata Rahasia itu.
Segera setelah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang yang sudah memutih. “Mari kita uji keampuhan Kata itu,” kata mereka, Dan diucapkanlah Kata itu.
Begitu Kata diucapkan, tulang-tulang itupun segera terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar yang kelaparan, yang kemudian merobek-robek mereka sampai menjadi serpih-serpih daging.
Mereka yang dianugerahi nalar akan mengerti. Mereka yang nalarnya terbatas bisa belajar melalui kisah ini.
Catatan
Isa dalam kisah ini adalah Yesus, putra Maria. Kisah ini mengandung gagasan yang sama dengan yang ada dalam Magang Sihir, dan juga muncul dalam karya Rumi, di samping selalu muncul dalam dongeng-dongeng lisan para darwis tentang Yesus. Jumlah dongeng semacam itu banyak sekali.
Yang sering disebut-sebut sebagai tokoh yang suka mengulang-ngulang kisah ini adalah salah seorang di antara yang berhak menyandang sebutan Sufi, Jabir putra al-Hayan, yang dalam bahasa Latin di sebut Geber, yang juga penemu alkimia Kristen.
Ia meninggal sekitar 790. Aslinya ia orang Sabia, menurut para pengarang Barat, ia membuat penemuan-penemuan kimia penting.


Pertaubatan Seorang Pembunuh

Posted on  by Salik Paramartha
kisah pertaubatan“Jangan pernah mengira bahwa engkaulah yang memperbaiki dirimu. Taubatmu adalah rahmat dari Allah. Demikian pula kemampuanmu untuk menindaklanjuti taubat itu.”
PERNAH pada suatu ketika, ada seorang penjahat kejam yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Suatu hari, dia mendatangi seorang guru agama dan mengatakan bahwa dia ingin mengubah hidupnya, sebagai taubat atas segala kesalahannya. Guru itu menjawab bahwa ia sudah tidak mungkin lagi diampuni karena dosanya sudah ‘keterlaluan’. Dengan sangat marah penjahat itu mengatakan, kalau memang dosanya tidak bisa diampuni, ia sekalian saja membunuh guru itu. Dan ditebasnyalah leher guru agama itu.
Tidak lama kemudian, penjahat itu berpapasan dengan seorang bijak, seorang ulama yang telah benar-benar menyerap dan mengamalkan segala yang diajarkannya. Kepada orang bijak itu dia bertanya, apakah ia masih bisa diampuni walaupun telah membunuh seratus orang tak bersalah. Sang ulama bijak ini menjawab bahwa Allah pasti mengampuni orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh ikhlas. Ia juga menambahkan sebuah nasihat kepada si penjahat, bahwa ia harus pergi dari kampungnya yang penuh dengan perampok dan penjahat. Ia harus pindah ke sebuah kota kecil tak jauh dari sana, yang di sana merupakan tempat tinggal banyak orang jujur dan lurus. Teman yang baik membawa kita pada akhlak yang baik, sedangkan teman yang buruk akan membawa kita pada dosa.
Penjahat itu pun pulang, membereskan barang-barangnya, lalu berangkatlah ia ke kota tempat tinggal orang-orang lurus itu. Hanya saja, baru beberapa langkah ia meninggalkan kota, saat kematiannya pun tiba, sehingga malaikat maut pun mencabut nafs-nya. Seiring dengan kejatuhan jasadnya ke tanah, datanglah malaikat-malaikat penjaga neraka untuk mengambil nafs-nya. Pada saat yang sama, malaikat-malaikat penjaga surga pun tiba, juga hendak mengambil nafs-nya. Para malaikat neraka berpendapat bahwa bandit itu telah membunuh seratus orang, sehingga nafs-nya harus dibawa ke neraka. Tetapi kelompok malaikat penjaga surga berpendapat bahwa bandit itu telah bertaubat dengan ikhlas, bahkan ia telah mengamalkan taubatnya menjadi perbuatan, dengan meninggalkan kampungnya menuju kota yang warganya jujur dan lurus.
Akhirnya, diutuslah malaikat Jibril a.s. untuk menghakimi perkara itu. Jibril a.s. bertanya kepada Allah tentang cara menyelesaikan persoalan ini, karena kedua belah pihak punya alasan yang kuat. Allah pun menurunkan sebuah alat ukur dari langit, dan memerintahkannya untuk memberi keputusan berdasarkan jarak jasad si penjahat ke kedua kota itu. Jika ia mati dalam kedaan lebih dekat kepada orang-orang baik, maka nafs-nya akan naik ke surga. Namun jika ia lebih dekat kepada orang-orang jahat, maka nafs-nya harus masuk neraka.
Para malaikat setuju untuk taat pada kehendak Allah, walaupun para malaikat penjaga surga merasa sedih karena harus kehilangan jiwa seorang manusia yang ingin bertaubat. Mayat penjahat itu hanya berjarak beberapa langkah dari desa para bandit. Jibril a.s. pun menggelar pengukurnya, dan menemukan bahwa mayatnya hanya berjarak dua langkah dari gerbang kampungnya. Ketika Jibril a.s. mengangkat alat ukur dan hendak menggelarnya ke arah kota tempat orang-orang baik, mendadak—karena kemahapengampunan Allah—dinding-dinding luar kota itu berdatangan mendekati mayat si penjahat, sehingga hanya berjarak kurang dari selangkah. Maka diserahkanlah nafs si penjahat yang bertaubat ke pemeliharaan para malaikat penjaga surga.
Buku Cinta Bagai AnggurSama dengan kita. Jika kau benar-benar ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan burukmu, gantilah teman-temanmu. Yang paling penting, mohonlah kepada Allah untuk mengubah dirimu. Jangan pernah mengira bahwa engkaulah yang memperbaiki dirimu. Taubatmu adalah rahmat dari Allah. Demikian pula kemampuanmu untuk menindaklanjuti taubat itu.(1) Dan, jika engkau ingin menjadi orang baik, carilah orang-orang yang baik. Jika engkau ingin mencintai Allah, tetaplah bersama orang-orang yang mencintai-Nya.***
(1) “Barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia akan mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak akan mampu menempuh jalan itu, kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q. S. Al-Insaan [76]: 29–30). Lihat juga, “Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus, kamu tidak akan dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan Semesta Alam.” (Q. S. At-Takwiir [81]: 28 –29). –Ed.
Dikutip dari buku Cinta Bagai Anggur bab ‘Godaan’.


Kisah Salman al-Farisi Mencari Kebenaran

Posted on  by Salik Paramartha
Kisah Sahabat NabiSalman al-Farisi pada awal hidupnya adalah seorang bangsawan dari Persia yang menganut agama Majusi. Namun dia tidak merasa nyaman dengan agamanya. Pergolakan batin itulah yang mendorongnya untuk mencari agama yang dapat menentramkan hatinya.
Kisah Salman diceritakan langsung kepada seorang sahabat dan keluarga dekat Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abbas:
Salman dilahirkan dengan nama Persia, Rouzbeh, di kota Kazerun, Fars, Iran. Ayahnya adalah seorang Dihqan (kepala) desa. Dia adalah orang terkaya di sana dan memiliki rumah terbesar.
Ayahnya menyayangi dia, melebihi siapa pun. Seiring waktu berlalu, cintanya kepada Salman semakin kuat dan membuatnya semakin takut kehilangan Salman. Ayahnya pun menjaga dia di rumah, seperti penjara.
Ayah Salman memiliki sebuah kebun yang luas, yang menghasilkan pasokan hasil panen berlimpah. Suatu ketika ayahnya meminta dia mengerjakan sejumlah tugas di tanahnya. Tugas dari ayahnya itulah yang menjadi awal pencarian kebenaran.
“Ayahku memiliki areal tanah subur yang luas. Suatu hari, ketika dia sibuk dengan pekerjaannya, dia menyuruhku untuk pergi ke tanah itu dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Dalam perjalanan ke tanah tersebut, saya melewati gereja Nasrani. Saya mendengarkan suara orang-orang shalat di dalamnya. Saya tidak mengetahui bagaimana orang-orang di luar hidup, karena ayahku membatasiku di dalam rumahnya! Maka ketika saya melewati orang-orang itu (di gereja) dan mendengarkan suara mereka, saya masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan.”
“Ketika saya melihat mereka, saya menyukai salat mereka dan menjadi tertarik terhadapnya (yakni agama). Saya berkata (kepada diriku), ‘Sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami’”.
Salman memiliki pemikiran yang terbuka, bebas dari taklid buta. “Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku.”
Dan ketika pulang, ayahnya bertanya. Salman pun menceritakan bertemu dengan orang-orang Nasrani dan mengaku tertarik. Ayahnya terkejut dan berkata: “Anakku, tidak ada kebaikan dalam agama itu. Agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik.”
“Tidak, agama itu lebih baik dari milik kita,” tegas Salman.
Ayah Salman pun bersedih dan takut Salman akan meninggalkan agamanya. Jadi dia mengunci Salman di rumah dan merantai kakinya.
Salman tak kehabisan akan dan mengirimkan sebuah pesan kepada penganut Nasrani, meminta mereka mengabarkan jika ada kafilah pedagang yang pergi ke Suriah. Setelah informasi didapat, Salman pun membuka rantai dan kabur untuk bergabung dengan rombongan kafilah.
Ketika tiba di Suriah, dia meminta dikenalkan dengan seorang pendeta di gereja. Dia berkata: “Saya ingin menjadi seorang Nasrani dan memberikan diri saya untuk melayani, belajar dari anda, dan salat dengan anda.”
Sang pendeta menyetujui dan Salman pun masuk ke dalam gereja. Namun tak lama kemudian, Salman menemukan kenyataan bahwa sang pendeta adalah seorang yang korup. Dia memerintahkan para jemaah untuk bersedekah, namun ternyata hasil sedekah itu ditimbunnya untuk memperkaya diri sendiri.
Ketika pendeta itu meninggal dunia dan umat Nasrani berkumpul untuk menguburkannya, Salman mengatakan bahwa pendeta itu korup dan menunjukkan bukti-bukti timbunan emas dan perak pada tujuh guci yang dikumpulkan dari sedekah para jemaah.
Setelah pendeta itu wafat, Salman pun pergi untuk mencari orang saleh lainnya, di Mosul, Nisibis, dan tempat lainnya.
Pendeta yang terakhir berkata kepadanya bahwa telah datang seorang nabi di tanah Arab, yang memiliki kejujuran, yang tidak memakan sedekah untuk dirinya sendiri.
Salman pun pergi ke Arab mengikuti para pedagang dari Bani Kalb, dengan memberikan uang yang dimilikinya. Para pedagang itu setuju untuk membawa Salman. Namun ketika mereka tiba di Wadi al-Qura (tempat antara Suriah dan Madinah), para pedagang itu mengingkari janji dan menjadikan Salman seorang seorang budak, lalu menjual dia kepada seorang Yahudi.
Singkat cerita, akhirnya Salman dapat sampai ke Yatsrib (Madinah) dan bertemu dengan rombongan yang baru hijrah dari Makkah. Salman dibebaskan dengan uang tebusan yang dikumpulkan oleh Rasulullah SAW dan selanjutnya mendapat bimbingan langsung dari beliau.
Betapa gembira hatinya, kenyataan yang diterimanya jauh melebihi apa yang dicita-citakannya, dari sekadar ingin bertemu dan berguru menjadi anugerah pengakuan sebagai muslimin di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang disatukan sebagai saudara.
Kisah kepahlawanan Salman yang terkenal adalah karena idenya membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam Perang Khandaq. Ketika itu Madinah akan diserang pasukan Quraisy yang mendapat dukungan dari suku-suku Arab lainnya yang berjumlah 10.000 personel. Pemimpin pasukan itu adalah Abu Sufyan. Ancaman juga datang dari dalam Madinah, di mana penganut Yahudi dari Bani Quradhzah akan mengacau dari dalam kota.
Rasulullah SAW pun meminta masukan dari sahabat-sahabatnya bagaimana strategi menghadapi mereka. Setelah bermusyawarah akhirnya saran Salman Al Farisi atau yang biasa dipanggil Abu Abdillah diterima. Strategi Salman memang belum pernah dikenal oleh bangsa Arab pada waktu itu. Namun atas ketajaman pertimbangan Rasulullah SAW, saran tersebut diterima.
Atas saran Salman itulah perang dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dimenangkan kaum Muslimin.
Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, Salman dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya, hingga dia wafat.
Diolah dari Wikipedia, The Search for The Truth -by a Man Known as Salman the Persian karangan Dr Saleh as-Saleh, dan sumber-sumber lainnya. (jri)


Kisah Nabi Ibrahim as

Posted on  by Salik Paramartha
kisah para nabiNabi Ibrahim adalah putera Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S.Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama “Faddam A’ram” dalam kerajaan “Babylon” yang pd waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama “Namrud bin Kan’aan.”
Kerajaan Babylon pd masa itu termasuk kerajaan yang makmur rakyat hidup senang, sejahtera dalam keadaan serba cukup sandang mahupun pandangan serta saranan-saranan yang menjadi keperluan pertumbuhan jasmani mrk.Akan tetapi tingkatan hidup rohani mrk masih berada di tingkat jahiliyah. Mrk tidak mengenal Tuhan Pencipta mrk yang telah mengurniakan mrk dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Persembahan mrk adalah patung-patung yang mrk pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.
Raja mereka Namrud bin Kan’aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak.Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dpt dilanggar atau di tawar. Kekuasaan yang besar yang berada di tangannya itu dan kemewahan hidup yang berlebuh-lebihanyang ia nikmati lama-kelamaan menjadikan ia tidak puas dengan kedudukannya sebagai raja. Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai tuhan. Ia berfikir jika rakyatnya mahu dan rela menyembah patung-patung yang terbina dari batu yang tidal dpt memberi manfaat dan mendtgkan kebahagiaan bagi mrk, mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan.Dia yang dpt berbicara, dapat mendengar, dpt berfikir, dpt memimpin mrk, membawa kemakmuran bagi mrk dan melepaskan dari kesengsaraan dan kesusahan. Dia yang dpt mengubah orang miskin menjadi kaya dan orang yang hina-dina diangkatnya menjadi orang mulia. di samping itu semuanya, ia adalah raja yang berkuasa dan memiliki negara yang besar dan luas.
Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calun Rasul dan pesuruh Allah yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya,jauh-jauh telah diilhami akal sihat dan fikiran tajam serta kesedaran bahwa apa yang telah diperbuat oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat yang sesat yang menandakan kebodohan dan kecetekan fikiran dan bahwa persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus dibanteras dan diperangi agar mrk kembali kepada persembahan yang benar ialah persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta ini.
Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan brg-brg itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:” Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? “
Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah
Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan
hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin esekali mangganggu fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.Berserulah ia kepada Allah: ” Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati.”Allah menjawab seruannya dengan berfirman:Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? “Nabi Ibrahim menjawab:” Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu.”
Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.
Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.
Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan enpat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah YAng Maha Berkuasa dpt menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dpt menghalangi atau menentangnya dan hanya kata “Kun” yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikenhendaki ” Fayakun”.
Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya
Aazar, ayah Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala bah ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan drpnya orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan.
Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyedarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh.Beliau merasakan bahawa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia dtg kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahawa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dpt mendtgkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mrk rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.
Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yyang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki hamun seakan-akan tidak ada hunbungan diantara mereka. IA berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: ” Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan cuba mendurhakaiku.Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau.”
Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seray berkaat: ” Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku utkmu.” Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihati karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.
Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala
Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya karena ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendpt hidayah ,bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya.
Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya
Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mrk anut dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa bila mrk sudah tidak berdaya menilak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebathilan kepercayaan mrk maka dalil dan alasan yang usanglah yang mrk kemukakan iaitu bahwa mrk hanya meneruskan apa yang oleh bapa-bapa dan nenek moyang mrk dilakukan dan sesekali mrk tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mrk warisi.
Nabi Ibrahim pd akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang berkepala batu dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mrk tidak akan menyimpang dari cara persembahan nenek moyang mrk, walaupun oleh Nabi Ibrahim dinyatakan berkali-kali bahwa mrk dan bapa-bapa mrk keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis.
Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mrk lihat dengan mata kepala mrk sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mrk betul-betul tidak berguna bagi mrk dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mrk keluar kota beramai-ramai pd suatu hari raya yang mrk anggap sebagai keramat. Berhari-hari mrk tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mrk bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mrk kosong dan sunyi. Mrk berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mrk merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mrk bila ia turut serta.
” Inilah dia kesempatan yang ku nantikan,” kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:” Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu.”
Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.
Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mrk hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan takjub: “Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mrk ini?” Berkata salah seorang diantara mrk:” Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini.” Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:” Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu.” Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yyang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dpt diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mrk. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.
Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mrk yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan.
Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.
Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap para hakim yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mrk.
Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh para hakim:” Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?” Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:” Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya.” Para hakim penanya terdiam sejenak seraya melihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik, seakan-akan Ibrahim yang mengandungi ejekan itu. Kemudian berkata si hakim:” Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?” Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim,maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mrk,yang mrk pertahankan mati-matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada para hakim itu:” Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu.”
Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya iut, para hakim mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mrk, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu:” Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu , jika kamu benar-benar setia kepadanya.”
Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup
Keputusan mahkamah telah dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mrk yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.
Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mrk. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin.
Setelah terkumpul kayu bakar di lanpangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim didtgkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah:” Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”
Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.
Para penonton upacara pembakaran hairan tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaiannya yang tetap berda seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikit jua pun. Mereka bersurai meninggalkan lapangan dalam keadaan hairan seraya bertanya-tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib itu berlaku, padahal menurut anggapan mereka dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah.Ada sebahagian drp mrk yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama mrk namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mrk merasa kecewa dan malu, karena hukuman yang mrk jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan kegagalan, sehingga mrk merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.
Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mrk dan membuka mata hati banyak drp mrk untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang drp mrk yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah bealih ke pihak Nabi Ibrahim.



Pintu Sorga

Posted on  by Salik Paramartha
hikayat sufiZaman dahulu adalah seorang lelaki yang baik hatinya. Ia telah menjalani hidupnya dengan melakukan segala hal yang memungkinkan orang masuk sorga. Ia memberi harta kepada si miskin, ia mencintai sesamanya, dan ia mengabdi kepada mereka. Karena mengingat pentingnya kesabaran, ia senantiasa bertahan terhadap kesulitan yang besar dan tak diduga-duga, sering itu semua demi kebahagiaan orang lain. Iapun mengadakan perjalanan jauh-jauh untuk mendapatkan pengetahuan. Kerendahhatian dan perilakunya yang pantas ditiru begitu dikenal sehingga ia dipuji-puji sebagai seorang yang bijaksana dan warga yang baik; pujian itu terdengar mulai dari Timur sampai ke Barat, Utara sampai ke Selatan.
Segala kebaikan itu memang dijalankan selama ia ingat melakukannya. Namun ia memiliki kekurangan, yakni kurang perhatian. Kecenderungan itu memang tidak berat, dan ditimbang dengan kebaikannya yang lain, hal itu merupakan cacat kecil saja. Ada beberapa orang miskin yang tak tertolongnya, sebab selalu saja ia kurang memperhatikan kebutuhan mereka itu. Kasih sayang dan pengabdian pun kadang-kadang terlupakan apabila yang dipikirkannya sebagai kebutuhan pribadi muncul dalam dirinya.
Ia suka sekali tidur. Dan kadang-kadang kalau ia sedang tidur, kesempatan mendapatkan pengetahuan, atau memahaminya, atau melaksanakan kerendahhatian, atau menambah jumlah tindakannya yang terpuji kesempatan semacam itu lenyap begitu saja, tak akan kembali lagi.
Wataknya yang baik meninggalkan bekas pada dirinya; begitu juga halnya dengan wataknya yang buruk, yakni kurangnya perhatian itu.
Dan kemudian ia meninggal. Menyadari dirinya berada di balik kehidupan ini, dan sedang berjalan menuju pintu-pintu Taman Berpagar, orang itu istirahat sejenak. Ia mendengarkan kata-hatinya. Dan ia merasa bahwa kesempatannya memasuki Gerbang Agung itu cukup besar.
Disaksikannya gerbang itu tertutup; dan kemudian terdengar suara berkata kepadanya, “Siagalah selalu; sebab gerbang hanya terbuka sekali dalam seratus tahun.” Ia pun duduk menunggu, gembira membayangkan apa yang akan terjadi. Namun, jauh dari kemungkinan untuk menunjukkan kebaikan terhadap manusia, ternyata ia menyadari bahwa kemampuannya untuk memperhatikan tidak cukup pada dirinya. Setelah siaga terus selama waktu yang rasanya sudah seabad kepalanya terkantuk-kantuk. Segera saja pelupuk matanya tertutup. Dan pada saat yang sekejap itu, gerbangpun terbuka. Sebelum mata si lelaki itu terbuka sepenuhnya kembali, gerbang itupun tertutup: dengan suara menggelegar yang cukup dahsyat untuk membangunkan orang-orang mati.
Catatan :
Kisah ini merupakan bahan pelajaran darwis yang disenangi; kadang-kadang disebut “Parabel Tentang Kurangnya Perhatian,” Meskipun terkenal sebagai kisah rakyat, asal-usulnya tak diketahui. Beberapa orang menganggapnya ciptaan Hadrat Ali, Kalifah Keempat. Yang lain mengatakan bahwa kisah itu begitu penting, sehingga tentunya diucapkan sendiri oleh Nabi, secara rahasia. Jelas kisah ini tidak terdapat dalam Hadits Nabi.
Bentuk sastra yang kita pilih ini berasal dari seorang darwis tak dikenal dari abad ketujuh belas, Amil Baba, yang naskah-naskahnya menekankan bahwa “pengarang sejati adalah orang yang karyanya tak bernama (anonim), sebab dengan cara itu tak ada yang berdiri antara pelajar dan yang dipelajarinya.”


Cinta Bagai Anggur

Posted on  by Murid Kadisiyyah
cover buku cinta bagai anggurBuku Cinta Bagai Anggur terdiri dari sebelas bab yang mengulas tentang tashawwuf, cinta, keyakinan, pendidikan sufi, sampai pada masalah godaan dan kepemurahan. Semuanya merupakan topik-topik penting dalam jalan Islam dan tashawwuf, yang akan menjadi pembahasan yang sangat sulit dan membosankan seandainya semua itu diterangkan melalui teori dan definisi.
Melalui lisan Syaikh Muzaffer Ozak, pembahasan itu menjelma menjadi kisah-kisah teladan yang sangat indah dan begitu menyentuh, sehingga siapa pun, bahkan mereka yang baru mulai belajar tentang Islam, akan mampu menangkap seperti apa esensi dari istilah-istilah seperti “pendidikan sufi”, “pengetahuan diri”, “Al-Qur’anul Karim’” dan semacamnya. Seluruh kisah dalam buku ini merupakan tradisi lisan yang terus diriwayatkan turun-temurun dari seorang guru sufi kepada para muridnya, dan telah berlangsung sepanjang ratusan tahun lamanya.
Disalin dari Back Cover:
PADA tahun 1980, Dr. Robert Frager, Ph.D untuk pertama kalinya bertemu denganSyaikh Muzaffer Ozak, pimpinan Tarekat Halveti-Jerrahi dari Turki. Ia, sebagai pendiri dan direktur Institute of Transpersonal Psychology di California Utara, ketika itu mengundang beliau sebagai pembicara di universitasnya.
Frager dan seluruh mahasiswanya, serta seluruh hadirin, dibuat takjub dan terpaku dengan narasi Sang Syaikh yang terasa begitu intens dan dalam. Bukan pembahasan akademis-teoretik tentang Islam dan tashawwuf yang membuat mereka diam terpaku, melainkan tuangan kisah hikmah yang digunakan Syaikh untuk menjelaskan hakikat-hakikat agama dan kehidupan kepada audiens.
Kata Frager, hidupnya pasti akan berubah seandainya saja ia dapat mengingat semua kisah itu. Sebagai jawaban, Syaikh menatapnya begitu dalam dan berkata padanya dengan penuh kesungguhan: “Anda tidak akan pernah bisa melupakannya.”
Buku ini merupakan kumpulan kisah-kisah Syaikh Muzaffer yang begitu memesona para pendengarnya, selama kunjungan rutinnya ke Amerika. Fragerlah—ia memang tidak bisa lupa dengan kisah-kisah itu—yang kemudian mengompilasinya setelah ia sendiri akhirnya memeluk Islam.
Buku ini bukan hanya ditujukan hanya bagi kaum muslim maupun para peminat tashawwuf. Meski kisahnya mengandung elemen-elemen sufisme, namun hikmah yang dikandungnya sungguh-sungguh indah dan dalam, sehingga menyentuh jati diri kemanusiaan kita.
Pustaka Prabajati mempersembahkan buku ini dengan harapan agar pembaca turut mengalami sendiri intensitas dari narasi Syaikh Muzaffer, dan juga memperoleh hikmah yang—sebagaimana kata beliau pada Robert Frager—“Anda tidak akan pernah bisa melupakannya.” []
Keterangan Detail:
cover buku cinta bagai anggurJudul: Cinta Bagai Anggur: Tuangan Hikmah Dari Seorang Guru Sufi di Amerika.
Karya: Syaikh Muzaffer Ozak, dikompilasikan oleh Syaikh Ragip Frager
Alih bahasa: Nadia Dwi Insani, 
Herry Mardian, Herman Soetomo
Penerbit: Pustaka Prabajati
17 x 23 cm, 202 hal.
ISBN: 978-979-15115-0-6
Harga: Rp. 48.000,-
Buku ini dapat dipesan melalui:
Irene Rosnovian (022)730-19-19, +62-812-2325-192.
irene.husni2 [at] gmail [dot] com
Avan Noer (021)7076-5799, 0812-902-3152
avan [at] iss [dot] co [dot] id
Nanang Sobari (Apuy), 0856-240-67-250.
http://tokobukusobari.blogsome.com/



Guru Sejati dan Muridnya

Posted on  by Murid Kadisiyyah
Guru Sejati dan MuridnyaBayangkan ketika Anda mulai berani jujur pada diri sendiri, bahwa kitab suci yang ketika Anda mencoba membacanya terasa abstrak, acak dan tak terjangkau maknanya. Anda mulai bertanya-tanya, ketika kitab suci memanggil ‘Wahai orang-orang yang beriman..’, benarkah Anda termasuk di dalamnya? Apa yang bisa membuktikannya? Dan Anda mulai tidak lagi merasa yakin bahwa Anda tidak termasuk ke dalam kaum yang disebutkan di sana, ketika kitab suci berbicara tentang golongan manusia yang tersesat.
Maka Anda pun mulai mencari panutan, orang yang dapat Anda jadikan pembimbing kehidupan Anda. Mulailah Anda mengikuti pengajian ini dan itu. Memaksakan diri untuk meraih serpihan makna yang mungkin terserak di dalamnya. Tapi ternyata, setelah sekian lama, Anda tidak juga memperolehnya.
Buku “Guru Sejati dan Muridnya” merupakan salinan dari kata-kata seorang Mursyid Sejati dari Sri Lanka, Bawa Muhaiyaddeen. Bagi Anda yang beruntung, yang telah dipertemukan Allah dengan seorang mursyid hakiki dalam kehidupan, buku ini akan membantu Anda dalam memahami fenomena-fenomena yang muncul dalam pembimbingan seorang mursyid terhadap murid-muridnya. Dan bagi Anda yang belum memilikinya, ataupun berharap suatu saat Allah mempertemukan Anda dengan seorang mursyid sejati, maka buku ini dapat menjawab keingintahuan Anda mengenai apa yang terjadi di seputar interaksi antara seorang Guru Sejati dengan murid-muridnya.
BERIKUT kutipan Visi Buku “Guru Sejati dan Muridnya“, sebagaimana tertulis dalam bukunya:
“…Buku ini langka karena di masa ini cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan literatur konkrit tentang cara seorang Mursyid sejati dalam memberikan bimbingan kepada para muridnya, dengan muatan yang mampu menggambarkan interaksi mereka dengan baik. Umumnya literatur yang tersedia dalam mengulas hal tersebut, biasanya ada dalam konteks masa Islam klasik, dengan gaya bahasa maupun istilah yang tidak mudah dipahami oleh pembaca umum. Kadang bimbingannya ditulis dalam bentuk hikayat. Selain itu, karena perbedaan masa yang terpaut jauh dengan masa kita sekarang, biasanya buku-buku tersebut memerlukan interpretasi yang lebih dalam lagi untuk bisa diturunkan dalam level kehidupan kita sehari-hari di masa kini.
Ketiadaan hal-hal tersebut justru menjadikan buku ini unik karena tidak ada pembicaraan mengenai teori dan dalil. Buku ini juga tidak membicarakan siksa yang harus Anda terima kelak bila tidak melakukan ini dan itu, juga tidak membicarakan kisah para sufi di masa lalu yang tampak tidak lazim, yang sulit kita hubungkan dengan kehidupan di masa kita sekarang.
bawa muhaiyaddeenBuku ini merupakan rekaman interaksi dan bimbingan seorang Mursyid sejati yang memberikan pengajaran kepada murid-muridnya di abad ke-20, tidak jauh dari masa kita sekarang. Murid-muridnya pun terdiri dari kalangan bangsa Amerika dan Eropa, yang sedikit banyak mempunyai pola pikir dan pola budaya yang masih memiliki sekian kadar kesamaan dengan kita, sehingga mudah untuk ditempatkan dalam konteks kehidupan kita sekarang. Bahasa yang disampaikan adalah bahasa nasihat, sebuah rekaman dialog seorang guru kepada murid-muridnya di dalam sebuah forum kecil.
Bakat yang paling istimewa dari seorang Bawa Muhaiyaddeen adalah kemampuannya untuk memudahkan murid-muridnya dalam memahami esensi. Konsep-konsep spiritual yang beliau sampaikan, sebenarnya adalah konsep yang rumit dan sangat dalam jika disampaikan dalam istilah maupun bahasa sufisme klasik. Akan tetapi, beliau mampu menyempaikannya dengan bahasa yang lugas dan amat sederhana, disertai contoh dan kisah yang teramat mudah dipahami. Sedemikian sederhana dan mudahnya, hingga semua bahasan mendalam dan teoretik dari para sufi klasik itu menjelma menjadi seakan-akan hanyalah sebuah nasihat biasa. Padahal, esensi yang beliau sampaikan dibandingkan dengan esensi yang diajarkan para sufi klasik melalui pembahasan yang tampak rumit, sebenarnya adalah sama.
Bawa Muhaiyaddeen tidak mendidik muridnya untuk menjadi Islamolog maupun pengkaji tasawuf yang hafal pelbagai istilah rumit, dan menjadikan para muridnya menang dalam setiap perdebatan ilmiah. Yang Bawa lakukan adalah mendidik para muridnya untuk hidup dan ‘bernafas’ dalam teori-teori tersebut sehingga esensinya mampu ditangkap oleh murid-muridnya. Kami kira, analogi yang baik untuk Beliau adalah, ia tidak mengajarkan teori tentang laut kepada ikan-ikan. Ia mengajarkan ikan-ikan untuk hidup dengan benar di dalam laut, dengan tetap membawa jati dirinya masing-masing.
Hal yang luar biasa, adalah fakta bahwa beliau seorang muslim buta huruf sederhana, yang melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam hutan-hutan di Sri Lanka. Akan tetapi kedalaman ilmunya membuatnya kemudian dikenal masyarakat di Amerika sehingga Beliau dibawa ke negeri mereka untuk menjadi pembimbingnya di sana. Sangat menarik melihat murid-muridnya—yang sebagian besar merupakan masyarakat kulit putih dengan tingkat pendidikan yang tinggi—menerima pengajaran dari seorang yang biasa hidup bersahaja di pedalaman hutan Sri Lanka. …”
Buku “Guru Sejati dan Muridnya” dapat dipesan melalui:
Irene Rosnovian (022)730-19-19, +62-812-2325-192.
irene.husni2 [at] gmail [dot] com
Avan Noer (021)7076-5799, 0812-902-3152
avan [at] iss [dot] co [dot] id
Nanang Sobari (Apuy), 0856-240-67-250.
http://tokobukusobari.blogsome.com/
Sumber : suluk.blogsome.com

Kisah Nabi Isa as. Dan tiga potong roti

10:01 AM | Posted by Dedi Haryono
Di kisahkan, pada suatu ketika Nabi Isa as. Bersama seorang yang mengawaninya dalam perantauan telah ditimpa kelaparan dan keduanya mengunjungi sebuah desa dari desa-desa yang ada. Dan tibalah sang kawan dengan membawa tiga potong roti. Namun ia ketika menemui Al Masih, beliau sedang sholat dan ia merasa lama kalau harus menunggu. Iapun makan sepotong roti dan telah diketahui oleh Al Masih bahwa roti yang 
dibawa ada tiga. Setelah selesai sholat, Al Masih menanyakan tentang roti yang ia bawa? Iapun menjawab tidak ada selain dua potong roti ini. Maka diamlah Al Masih. Kemudian beliau melihat sebuah sungai, sambil memegang tangan orang itu mereka berjalan bersama diatas air, melihat pemandangan yang luar biasa tersebut, orang itupun mengucapkan:

Subhanallah maha suci Engkau ya Allah yang tiada memberi mukjizat kecuali pada orang-orang pilihan. Maka berkatalah Al Masih: Demi Allah yang telah memperlihatkan kepadamu, dimanakah sepotong roti itu? Orang itu menjawab: Tidak ada, hanya dua potong roti ini saja. Maka selanjutnya berjalanlah keduanya, sehingga sudah sampai ke sebuah negeri yang sudah hancur. Terlihat di dalam sebuah lubang yang terbuka tiga keping emas. Lalu orang itu bertanya: apakah ini emas? Al Masih menjawab: benar, ini adalah logam dari emas dan aku akan memberikan semuanya untuk anda. 

Lalu pergilah Al Masih dan tinggallah orang itu ditempatnya dengan kegembiraan karena telah mendapatkan emas itu. Pada suatu saat, lalu ia di kunjungi oleh tiga orang dan tiba-tiba membunuhnya serta merampas emas dari tangannya. Kemudian Si pembunuh, ketiganya bersepakat, bahwa salah satu dari mereka agar ada yang pergi mencari makanan ke sebuah desa. Kedua orang yang tinggal dan menjaga emas itu, kemudian berencana dan sepakat untuk membunuh temannya yang mencari makanan dan membagi harta karun itu menjadi dua bagian. Akan tetapi sebaliknya, orang yang pergi membawa makanan juga berfikir untuk membunuh keduanya dengan cara menaruh racun pada makanan yang ia bawa, agar emas itu dapat dikuasainya sendiri. Lalu iapun meletakkan racun pada makanan itu. Ketika ia sampai dengan mambawa makanan ke tempat kedua temannya yang sedang menunggui emas, maka oleh kedua orang temannya yang sudah menunggu, langsung di bunuhlah si teman pembawa makanan tersebut. Setelah temannya mati, keduanya merasa aman dan kemudian keduanya makan dari makanan yang telah dibubuhi racun oleh temannya yang bunuh tersebut, akhirnya setelah makan, matilah keduanya.

Pada saat Al Masih kembali beliau melihat kesemuanya berbaring dalam keadaan mati, lalu beliau mengucapkan: Demikianlah dunia ini membunuh pecinta-pecintanya. 
(Wallahua’lamu bisshowab)
Labels: kisah sufi

Kesaksian pedagang Yahudi Makkah dan Yahudi penduduk Yatsrib

12:13 AM | Posted by Dedi Haryono
Intisari riwayat Hakim dari Aisyah ra: Pada malam kelahiran Rasulullah seorang pedagang Yahudi yang tinggal di Makkah bertanya kpd sekumpulan orang-orang Quraisy: Apakah ada anak yang lahir di antara kalian pada malam ini? Mereka menjawab: kami tidak tahu….


Si Yahudi menjelaskan: Pada malam ini lahir Nabi terakhir ummat ini, Ahmad (yang terpuji). Kalau kalian  salah, berarti dia lahir di Palestina. Di antara dua pundaknya ada tahi lalat hitam kekuningan. Setelah mereka pulang ke rumah masing-masing, sebahagian mereka mendapat kabar bahwa di malam itu lahir seorang anak dari Abdullah bin Abdul Muthalib yang diberi nama Muhammad.

Keesokan harinya mereka mengabarkan berita tersebut kepada si Yahudi, lalu ia minta bersama-sama melihat bayi tersebut. Saat matanya tertumpu pd tahi lalat (baca: khatam al-nubuwah) di bagian belakang, antara kedua bahunya, tiba-tiba si Yahudi jatuh pingsan. Setelah siuman, orang-orang Quraisy bertanya: Ada apa  denganmu, teman? Jawabnya: Kenabian telah hilang dari bani Israel, al-Kitab telah lepas dari tangan mereka….

Tentang kesaksian Yahudi Yatsrib, Ibnu Ishak meriwayatkan dengan nara sumber dari Hassan bin Tsabit: “Saat aku masih kecil, usiaku sekitar tujuh atau delapan tahun masih segar dlm ingatanku, seorang Yahudi berteriak keras di bangunan yang tinggi di Yatsrib (sekarang Madinah): “Hai orang-orang Yahudi…!”

Setelah orang-orang berkumpul, mereka bertanya: “Ada apa, kenapa?“ Jawabnya: “Malam ini telah muncul bintang tanda kelahiran Ahmad.”

Ibnu Ishak bertanya kepada anak Hassan bin Tsabit: “Berapa usia Hassan bin Tsabit saat kedatangan Rasulullah saw ke Madinah?” Dia menjawab: 60 tahun, dan Rasulullah saw di waktu itu 53 tahun.

"ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMADINIL FATIHI LIMA UGHLIQO WAL KHOTIMI LIMA SABAQO NAN SHIRIL HAQQI BIL HAQQI WAL HADI ILA SHIROOTIKAL MUSTAQIEM WA 'ALA ALIHII HAQQO QODRIHII WA MIQDARIHIL 'ADHIM"
Labels: Keutamaan Nabi





Tiga nasihat dari burung untuk sang pemburu

10:18 PM | Posted by Dedi Haryono
Pada suatu hari, ada seseorang menangkap burung. Burung itu berkata Kepadanya, Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku. Nanti aku beri kau tiga nasihat. Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.


Orang itu setuju, lalu ia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun engkau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal. Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan. Disampaikannya nasihat yang kedua, Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.

Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia berkata, Wahai manusia malang! Dalam diriku terdapat dua permata besar, kalau saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya. Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun katanya, setidaknya, katakan padaku nasihat
yang ketiga itu! Si burung menjawab, Alangkah tololnya kau meminta nasihat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali. Sudah kukatakan padaku agar jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu.
Aku pun tidak cukup besar untuk menyimpan dua permata besar! Kau tolol! Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia.

(Catatan: Dalam lingkungan darwis, kisah ini dianggap sangat penting untuk mengakalkan fikiran siswa sufi, menyiapkannya menghadapi pengalaman yang tidak boleh dicapai dengan cara-cara biasa. Di samping penggunaannya sehari-hari di kalangan sufi, kisah ini terdapat juga dalam karya klasik Rumi, Matsnawi. Kisah ini juga ditonjolkan dalam Kitab Ketuhanan karya Fariduddin Aththar, salah
seorang guru Rumi. Kedua tokoh sufi itu hidup pada abad ke tiga belas)

Sumber: http://musyoma.weebly.com/
Labels: kisah sufi











Oct 9, '08 2:41 AM
untuk semuanya

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru.
"Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru. "Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.
Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."


Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu
dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
http://hikmah-sufi.blogspot.com/2008/04/guru-sufi-dan-muridnya.html

0 comments:

Poskan Komentar