Senin, 13 Juni 2011


“ Drug Trafficker “ dari Cianjur
Oleh : Irfan Budiman, Rian Suryalibrata, dan Upik
Ikhtisar Bacaan
            Merika Franola alias Ola tetap tegar meski sudah divonis mati oleh majelis hakim pimpinan Asep Irawan di Pengadilan Negeri Tangerang. Sebaliknya, sepupu Ola, Rani Andriani merasa sulit melupakan vonis mati tersebut. Jalan hidup Ola sangatlah berliku. Setamat SMA di Cianjur, Jawa Barat, Ola merantau ke Jakarta dan menjadi disc jocker. Dari pekerjaan itu, ia memperoleh seorang anak akibat hubungan intim. Anaknya ia beri nama Eka Prawira. Untuk menghidupi anaknya, ia tetap bekerja sebagai disc jocker.
            Pada Oktober 1997, Ola bertemu dengan
Tajudin, pria asal Nigeria, di apartemennya.Tajudin alias Tonny mengaku berbisnis pakaian jadi. Setelah pertemuan itu, mereka berpacaran dan mengontrak satu rumah di kawasan Kebonsirih, Jakarta Pusat. Lalu Ola hamil dan akhirnya mereka menikah. Pada awal perkawinannya, mereka bahagia. Tetapi kebahagiaan mereka hanya sekejap karena sifat asli Tony yang kasar sudah terlihat. Bahkan Ola sempat masuk rumah sakit. Walaupun begitu, Ola tetap mencintai Tony. Karena menurut Ola, Tony mempunyai semacam magic yang dapat membuatnya takut dan selalu mengalah. Ola merasa senang jika Tony sering tidak ada di rumah. Kepergian Tony yang sering, ternyata membuat Ola menjadi tahu bagaimana sosok Tony yang sebenarnya yaitu sebagai pengedar narkotika. Bisnis itu dimulai lagi oleh Tony sejak kelahiran anak pertama mereka. Tonypun mengajak serta Ola. Ola tidak dapat menolak karena ia takut kepada Tony. Ia sering mengantar pesanan ke Jakarta. Tapi tak sepeserpun ia mendapat upah dari Tony. Kalaupun mendapat upah, uang itu habis untuk biaya pengobatan Ola akibat siksaan Tony.
            Ola mengaku terpaksa berbisnis narkotika. sebagai pengatur lalu lintas narkotika jenis heroin dan kokain. Ola pun memiliki banyak nama samaran. Penghasilan Ola sebesar US$ 200 dari potongan upah kurir yang mencapai US$ 3.000 untuk setiap kali mengirim kurir ke luar negeri. Pada akhir 1999, Ola pergi ke Eropa dan Argentina untuk mencari jalur pengiriman narkotika yang aman. Kehidupan Ola dan Tonypun semakin meningkat. Kerabat Ola, Rani dan Deni, yang kesulitan meminta bantuan ke Ola. Rani meminjam uang untuk melunasi utangnya di bank. Sedangkan Deni terlanjur dipinjami uang oleh Tony. Dan akhirnya, keduanya ikut dalam bisnis narkotik yaitu sebagai kurir. Awalnya mereka berdua tidak mengetahui bahwa yang mereka jalani adalah bisnis haram. Bahkan keduanya sampai menjalankan bisnis itu ke luar negeri. Tetapi pada saat mereka sadar, mereka tidak mampu mengelak karena Tony mengancam memukuli Ola.
            Tertangkapnya Ola dan kedua sepupunya, hanya mengungkap sebagian kecil kiprah Tony. Tony merupakan koordinator bagi sebagian warga Nigeria yang menjadi pengedar narkotik di Indonesia. Jaringan narkotik Tony yang rapi dan selalu lolos, akhirnya tercium juga oleh petugas kepolisian. Pada tanggal 12 Januari 2003, petualangan mereka harus berakhir ketika Ola dan kedua sepupunya beraksi di Bandara Soekarno-Hatta. Polisi menemukan 3,5 kilogram heroin dalam tas Rani dan 3 kilogram kokain dalam tas Deni. Sedangkan Ola dibekuk di tempat parkir. Polisi juga menemukan barang bukti di rumah Ola. Pada hari yang sama, Tony dan keempat temannya tewas pada saat penyergapan di rumahnya. Informasi tentang keberadaan Tony didapatkan dari keterangan Ola.
            Menurut Alex Bambang, yang memimpin operasi penangkapan,Ola termasuk pemain sandiwara yang handal. Alex mengatakan Ola sangat profesional dalam menjalankan tugasnya. Dia pintar berbohong, berperilaku manis, dan lemah lembut. Alex tidak percaya kalau Ola terpaksa menjalani bisnis ini. Karena menurutnya, kalau terpaksa tidak akan sampai keterusan. Menurut penyelidikan polisi, pekerjaan itu telah digeluti oleh ola sebelum dia bertemu dengan Tony. Dan dugaan ini diperkuat oleh jaksa Mursidi dan hakim Asep.

0 comments:

Poskan Komentar