Senin, 13 Juni 2011


MANFAAT KEARIFAN EKOLOGI TERHADAP PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP
Studi Etnoekologi di Kalangan Orang Biboki

Oleh : Yohanes Gabriel Amsikan

Wilayah Biboki, yang menjadi dasar pembuatan tulisan ini, merupakan daerah sabana yang merupakan suatu padang rumput yang luas. Keadaan ini menuntut orang-orang Biboki untuk menggantungkan mata pencahariannya pada aspek pertanian. Daerah sabana itu dahulu merupakan hutan yang cukup luas. Akan tetapi, ak
ibat dari pembabatan hutan yang disertai pembakaran, banyak lahan menjadi gundul atau ditumbuhi alang-alang.
Menusul timbulnya padang sabana, secara perlahan dikembangkan sistem pertanian baru, yaitu perladangan sistem balik tanah dengan menggunakan peralatan tradisional. Perubahan lingkungan tersebut tidak ditanggapi secara negatif oleh masyarakat Boboki karena mereka memiliki strategi dan kriteria tersendiri mengenai lingkungan yang kaya dan baik. Aktivitas penggalian pengetahuan ekologi masyarakat petani, khususnya di kalangan orang Biboki memiliki implikasi positif dan strategis terhadap pemeliharaan lingkungan hidup.
Misalnya, dalam sistem pertanian. Masyarakat Biboki menganut sistem pertanian ladang berpindah. Cara ini dianggap dapat mengembalikan kelembapan dan kesuburan tanah dalam kurun waktu 8-10 tahun dan sistem ini dapat dilakukan secara berulang kali. Tetapi pada kenyataannya, tanah yang mereka tanami tidak pulih sebagaimana yang mereka harapkan. Hal ini membuktikan asumsi dari Steenis, bahwa manusialah yang telah menyebabkan degenerasi atau penurunan kualitas dari lingkungan. Kearifan ekologi yang terdapat pada tindakan masyarakat di Biboki ini, adalah mereka melakukan upaya untuk melangsungkan kehidupannya yang selaras dengan lingkungan tanah kering yang mereka kenal. Tanah kering yang akhirnya ditumbuhi ilalang mereka gunakan untuk mengembangkan sektor lain yang kurang berkembang yaitu peternakan. Padang ilalang tersebut mereka gunakan untuk memberi makan ternak mereka.
Tanah menurut masyarakat Biboki dipersepsikan sebagai “Ibu” yang memelihara dan memberikan kesuburan. Selain itu mereka mengaggap tanah dihuni oleh roh-roh, sehingga mereka selalu meminta izin sebelum menggunakan tanah tersebut, walaupun hanya sejengkal. Masyarakat Biboki masih memegang teguh kebenaran-kebenaran yang dikisahkan turun temurun melalui mitos-mitos. Semuanya itu harus dilakukan agar dunia (Makrokosmos) tidak kehilangan keseimbangannya. Selain itu kearifan ekologi Biboki juga tercemin terhadap perhatian sesama mereka terhadap sejumlah pantangan. Mereka meyakini jika pantangan itu dilanggar akan mengakibatkan malapetaka bagi mereka.
Akan tetapi pada beberapa tahun terakhir ini, pemerintah banyak mengeluarkan keputusan yang banyak bertentangan dengan masyarakat Biboki. Hal ini sebenarnya pemerintah kurang mengetahui bagaimana perilaku orang Biboki, mereka memiliki pola  perilaku yang berbeda, karena mereka memiliki pemikiran yang berbeda dengan pemerintah mengenai lingkungan. Kedekatan mereka dengan lingkungan membuat mereka mengetahui jenis klasifikasi tanah yang baik, untuk melangsungkan kehidupan mereka, sedangkan pemerintah  bedasarkan pemahaman ilmiah. Kelihatan disini bahwa unsur yang dipakai untuk mengukur keharmonisan dan keselarasan, bahkan kelestarian lingkungan dalam pandangan orang Boboki adalah apabila semua komponen yang ada dalam suatu lingkungan benar-benar berfungsi. Sebaliknya apabila ada satu komponen rusak dan tidak berfungsi, maka seluruh komponen juga akan merasa ikut terganggu.  Maka dari itu, dapat dimengerti mengapa himbauan pemerintah untuk melestarikan alam gagal ,oleh masyarakat Biboki.

0 comments:

Poskan Komentar