Senin, 13 Juni 2011




OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN

SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK

(Arbain Rambey)

Dalam seminggu terakhir ini, pembaca surat kabar di Medan seakan di bom bardir dengan iklan-iklan dengan tulisan putih di dasar hitam itu mengajak agar masyarakat Batak Toba di mana pun berada untuk mengusir perusahaaan yang merusak lingkungan Bona Pasogit.
Lingkungan Bona Pasogit adalah bahasa sub-etnik Batak Toba untuk menyebut daerah tempat tinggal mereka di Sumatra Utara, tepatnya di sekitar Danau Toba. Pemasang iklan itu adalah Parbato atau Pertungkoan Batak Toba, sebuah organisasi kesukuan yang berdiri pada bulan Agustus 1997.
Membicarakan Batak Toba, sebetulnya kita cuma membicarakan satu buah sub-etnis dari suku Batak saja. Sub-etnis Batak lainnya adalah Batak Angkola, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pakpak dan Batak Karo.
Watak keras tampak jelas pada Ompu Monang yang aslinya bernama Daniel Napitulu. Kata-kata kerasnya kerap diungkapkannya di berbagai media masa menyangkut kelestarian lingkungan.
Di satu sisi, kehangatan kekerabatan membawa arus positif. Rasa tanggung jawab pada pendidikan dan perawatan seorang anak bisa melebar pada paman-pamannya. “ Itu sisi positif kebudayaan  kami yang harus dipertahankan”. Kata Ompu Monang. Sedangkan sisi negatif kek
erabatan Batak Toba menurut Ompu Monang adalah penghaburan uang dari waktu. Dalam sebuah pesta Batak, orang bukan kerabat yang hadir akan sangat kesal menunggu sampai selesainya acara keluarga yang sangat bertele-tele.
Sudah berkali-kali Parbato menyelenggarakan seminar untuk membahas penyelewengan adat Batak Toba semacam itu. Namun hasil seminar masih terbatas pada cetakan hasil seminar saja. Belum ada juga tindakan nyata mengatasi keborosan adat ini. Untuk mengatasi kebuntuan ini, Ompu Monang akhirnya “mengorbankan” diri sendiri. Pada pesta perkawinan anak perempuannya pertengahan Desember mendatang, ia melaksanakannya dengan cara menurut dia efisien namun tidak keluar dari adat Batak Toba.
Akhirnya, masih dengan semangat mengingatkan bahwa gerakan etnis masih perlu, Ompu Monang berkata lagi, “ Itu yang aku bilang. Sebagai Parbato, aku mau supaya organisasi ini tidak cuma ngomong. Perbuatan nyata adalah nasehat terbaik.”

KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH

DAN MODANG DEWASA INI
Inventarisasi Sebuah Proses Pemiskinan
(Franky Raden)

Persis pada awal bulan Maret tahun lalu saya berangkat menuju daerah pedalaman Kalimantan Timur dimana suku Dayak Kenyah dan Modang berdiam. Daerah pemukiman suku Dayak Kenyah dan Modang yang akan saya bahas ini berada di wilayah Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan Kota Tenggarong.
Suku Kenyah, konon juga suku Modang, berasal dari daerah pegunungan yang bernama Apokayan di sebelah utara Kalimantan Timur. Daerah ini adalah daerah yang terisolir. Saat itu mereka masih hidup dalam keutuhan bentuk kebudayaan dan sistem nilai mereka yang asli. Namun setelah masuk misionaris Belanda yang membawa agama Kristiani ke daerah ini tahun 30-an mulai timbul bermacam-macam persoalan baru dalam tubuh masyarakat mereka, misalnya konflik antara mereka yang sudah pindah ke agama baru dengan mereka yang bersikeras memluk kepercayaan lama.



Di daerah yang sekarang ini mayoritas penduduk perkampungan sepanjang sungai Kelinjau adalah suku Dayak Kenyah dan Modang terbagi menjadi beberapa suku.
Akibat yang mendasar dari proses desentralisasi ini, kesenian menjadi terpisah dari kehidupan sehari-hari mereka. Kesenian menjadi suatu peristiwa yang ditentukan secara temporal. Musnahnya bentuk dan peristiwa kesenian ini bukan saja berarti hilangnya dimensi religius yang kental dalam kehidupan dimana mereka mendapat kesempatan mengalami kembali kondisi ruang dan waktu yang sakral melalui aktus estetik yang merupakan lorong untuk mendekat dan meleburkan diri mereka dengan totalitas kosmos, tetapi ini juga berarti hilangnya wadah submilasi yang justru perlu pada saat mereka berada dalam kondisi psikologis yang depresi seperti sekarang ini. Selain hilangnya dimensi religius ini mereka juga kehilangan dimensi nilai-nilai sosial dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Terciptanya kondisi demikian dalam segala isi kehidupan suku Dayak yang bermukim di daerah baru ini saja tidak dapat di lepaskan dari penanganan dan tanggung jawab pemerintah daerah yang menerima bahkan menganjurkan mereka hidup di wilayahnya. Suku Dayak ini jelas merupakan suatu tipologi masyarakat yang sangat unik.
Faktor terjahat yang menimpali kegoncangan dalam kehidupan masyarakat Dayak adalah munculnya penguasa-penguasa hutan ini (pemilik HPH) mendadak mengunci hutan untuk daerah perladangan yang menjadi sumber kehidupan mereka. Dalam suatu tipologi masyarakat tradisional seperti suku Dayak, tanggalnya sebuah roda kehidupan yang menggerakkan seluruh sistem nilai mereka, merupakan titik awal dari munculnya khaos. Kekhaosan ini yang memproses masyarakat mereka makin tenggelam, makin miskin, bukan hanya material juga spiritual.
Dari sini jelas bahwa proses pemiskinan yang mereka alami adalah proses pemiskinan nilai secara keseluruhan di tiap sisi kehidupan. Saat ini tingkat kehidupan ekonomi masyarakat Dayak boleh dibilang tidak terlampau buruk, kecuali kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Tetapi proses pemiskinan yang terjadi pada masyarakat Dayak bukan hanya dalam konteks masalah itu, melainkan dalam konteks pemiskinan suatu kualitas dan ruang gerak kehidupan. Fakta yang dekat dari signifikasi masalah ini terlihat jelas pada kehidupan suku Dayak Umak Tau di kampung Tanjung Manis. Kampung ini adalah kampung yang paling miskin dan rawan di seluruh kecamatan. Penduduk mereka pun tidak banyak (40kk) namun disisi lain suku Umak Tau ini justru merupakan satu-satunya masyarakat Dayak ysng masih memiliki wadah untuk ruang gerak sistem nilai tradisi.
Sekarang menjadi jelas bahwa masalah kemiskinan di negeri kita bukan hanya masalah bagaimana manusia Indonesia dapat hidup layak dari kriteria tingkat kehidupan ekonomi mereka belaka. Peletakkan masalah untuk apa yang terjadi pada masyarakat Dayak ini adalah bagaimana sekelompok manusia dapat hidup mandiri di dalam ruang gerak kultur tradisi mereka sendiri. Masalah yang dihadapi masyarakat Dayak ini kalau kita mau berrefleksi sebenarnya adalah miniatur masalah yang terjadi di Indonesia, dimana masuknya sistem nilai kebudayaan barat ini yang tiba-tiba memaksa kesadaran kita untuk melihat fenomena kehidupan bangsa Indonesia dalam konteks masalah kemiskinan yang diidentifisir melalui kriteria tingkat kehidupan ekonomi yang berlaku di sana.
Terciptanya semua masalah itu, baik yang terjadi secara mikro di desa-desa Kalimantan, Bali dan Nias maupun yang terjadi secara makro di negara ini membuktikan bahwa masyarakat kita, baik yang tinggal di desa ataupun kota, baik orang-orang yang biasa maupun kaum intelektual sebenarnya masih berada dalam kondisi yang arkhanis, tidak ada yang superior antara satu dengan yang lainnya.



0 comments:

Poskan Komentar