Senin, 13 Juni 2011


Resume
SISTEM STATUS DAN PELAPISAN MASYARAKAT SISTEM STATUS YANG BERUBAH
Oleh: W.F. Wertheim
            Pelapisan masyarakat kolonial menurut garis ras yang lazim terjadi di Pulau Jawa ternyata mulai meluas kepulau-pulau lain namun yang lebih menonjol sebagai pelapisan masyarakat adalah uang. Uang telah melakukan pendobrakan terhadap sistem yang lama sehingga kesejahteraan materi menjadi ukuran utama dalam menentukan prestise dalam kemasyarakatan. Semenjak tahun 1990 di Jawa semakin meningkat perbedaan profesi, bertambah meluasnya ekonomi uang dan hubungan dengan barat memunculkan lapangan kerja baru sehingga timbul kelompok baru yang naik sampai ke tingkat atas karena kemampuan teknis.
            Berdasarkan hasil sensus terkesan bahwa oran
g Indonesia yang bekerja di bidang perdagangan untuk kepentingan orang lain masih sedikit, mereka biasanya sebagai pedagang bebas kecil. Selain itu pendidikan mempunyai pengaruh terhadap skala tradisional prestise kemasyarakatan dan kewibawaan orang tua. Pelapisan juga terjadi pada struktur pendidikan masyarakat pertanian. Umumnya orang-orang mendapat pendidikan pertanian cenderung mencari pekerjaan di kota-kota besar karena prestise yang tinggi. Hal ini terjadi karena pada masyarakat Indonesia nilai tinggi diberikan kepada pekerja yang bersifat intelek.
            Dengan demikian pendidikan telah menciptakan sebuah kelas baru bagi kaum cendikiawan atau setengah cendikiawan yang menduduki suatu kelas khusus dalam masyarakat sehingga mereka cenderung menjadi lebih individualis. Keberadaan mereka di Indonesia mampu mendobrak susunan kemasyarakatan Jawa dan pelapisan kolonial hal ini menjadikan sistem kolonial rubuh.
            Ketika dinding pembeda ras semakin hilang ketegangan justrs semakin bertambah di kalangan masyarakat. Perbedaan dapat dilihat terlihat sangat jelas dari segi pendapatan. Hingga saat ini pendapatan tertinggi dimiliki orang Eropa dan terendah adalah orang Indonesia. Walaupun diskriminasi hukum dan sosial telah banyak berkurang tetapi hal tersebut masih membuat rasa sakit hati pada masyarakat Indonesia. Garis batas sosial yang mulai mencair mengakibatkan timbulnya kelompok masyarakat yang tidak puas terhadap status mereka dan ada persaingan dalam masyarakat karena perbedaan sistem ekonomi. Timbulnya pelapisan sosial atau status sosial mempengaruhi sistem nilai kemasyarakatan di Indonesia.

SITUASI SOSIAL DUA KOMUNITAS DESA DI SULAWESI SELATAN
Oleh : Mochtar Buchori dan Wiladi Budiharga
  1. Desa Maricaya Selatan
Komunitas Maricaya Selatan terdiri dari lima golongan masyarakat yang menempati tiga lapisan pokok yaitu, pertama golongan pejabat dan kelompok profesional di lapisan atas, kedua golongan alim ulama, pegawai serta golongan pedagang lapisan menengah dan ketiga golongan buruh di lapisan terbawah. Dalam masyarakat yang bersifat heterogen dan cukup berlapis-lapis ini mulai terlihat adanya usaha-usaha untuk menciptakan iklim sosial yang lebih cair. Hal ini terlihat dengan adanya usaha-usaha awal untuk menembus dinding-dinding antar lapisan serta dinding-dinding antar golongan.
Dilihat dari segi ekonomi dalam masyarakat Maricaya Selatan terdapat tiga lapisan masyarakat yaitu pertama, lapisan ekonomi mampu yang terdiri dari para pejabat dan kelompok profesional lainnya. Kedua, lapisan ekonomi menengah: alim ulama, pegawai, dan kelompok wirausaha. Ketiga, lapisan ekonomi miskin yang terdiri dari para buruh.
Berdasarkan dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa golongn buruh miskin merupakan kelas yang agak tercampakan. Orang-orang pada golongan masyarakat menengah masih mudah terjadi kontak sosial dengan golongan-golongan lainnya. Para pejabat dan golongan profesional lainnya yang termasuk dalam golongan ekonomi mampu dan lapisan sosial atas, tampaknya secara keseluruhan adalah orang-orang yang mendapat pendidikan perguruan tinggi.
Gambaran tentang latar belakang pendidikan para orang tua yang tercatat di masyarakat menengah dan lapisan bawah tidak dapat diketahui dari data yang ada. Yang tersedia adalah data tentang penggunaan kesempatan pendidikan oleh para orang tua. Kesempatan pendidikan bagi anak-anak di masyarakat ini tersedia cukup luas dari tingkat TK s.d. perguruan tinggi. Dari statistik pendidikan yang ada dewasa ini diperkirakan mereka yang telah lulus SD 54% diantaranya meneruskan ke SMP. Dari mereka yang tamat SMP 65% diantaranya melanjutkan ke SMA. Dari mereka yang tamat SMA 20% saja diantaranya melanjutkan ke perguruan tinggi. Kesan umum yang dapat ditarik bahwa masyarakat Maricaya Selatan tampak berusaha memanfaatkan kesempatan pendidikan yang tersedia seoptimal mungkin.
Sama halnya ketika masyarakat yang tidak mampu membeli media massa/Koran untuk mengetahui berita dan informasi mereka berusaha meminjam atau turut membaca dari mereka yang mampu membeli.
  1. Desa Polewali
Dalam masyarakat Polewali terlihat ada tiga lapisan masyarakat yang tersusun pula. Pertama, lapisan atas diantaranya para Ulama, pemangku adat dan pejabat. Kedua, lapisan menengah terdapat para pedangan dan ketiga lapisan bawah yaitu para buruh. Kedudukan pemangku adat dipegang oleh seorang Bugis, sedankan alim ulama ada ditangan orang Mandar dan Toraja. Sedangkan dalam kelompok buruh terdapat orang Jawa, Makassar dan Toraja.
Dilihat dari sisi ekonomi masyaraka Polewali terbagi tiga lapisan pula. Pertama, lapisan kaya diisi para pejabat lalu lapisan kedua yang jumlahnya sekitar 55% diisi para pegawai dan sekitar 10% diisi oleh lapisan ketiga para buruh. Dikalangan atas para alim ulama dan pemangku adat sepihak dengan para pejabat dan di pihak lain terdapat perbedaan yang cukup mencolok dalam gaya hidup mereka. Para pemangku adat dan alim ulama nampaknya hidup secara lugas, mereka menggunakan kekayaan secara hati-hati. Masyarakat Polewali dari kelas menengah tampaknya mengikuti lebih mengikuti gaya hidup sederhana yang diperlihatkan oleh alim ulam dan pemangku adat. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah hal yang di junjung tinggi oleh masyrakat Polewali.

Analisis kedua bacaan

  1. Sistem stratifikasi
-          Proses terbentuknya
-          Dasar ukuran
  1. Mobilitas Sosial

Proses terbentuknya stratifikasi sosial berdasarkan teori dari Karl Marx terbagi menjadi tiga yaitu karena adanya pembagian kerja dalam masyarakat, konflik sosial dan hak kepemilikan pribadi. Dan dari dasar ukuran stratifikasi sosial ada 4 yaitu, pertama ukuran kekayaan, kedua adalah ukuran kekuasaan, yang ketiga ukuran kehormatan dan yang keempat adalah ukuran ilmu pengetahuan.
Pada kedua bacaan mobilitas sosial yang terjadi adalah mobilitas sosial yang terbuka dimana masyarakat dari kelas yang lebih rendah bisa naik dan menyamai kelas yang ada di atasnya.

Analisis
Bacaan 1
Bacaan 2
1. Sistem stratifikasi
a. Proses terbentuknya






b. Dasar ukuran
   Pada bacaan 1 ini terlihat bahwa sistem stratifikasi yang terjadi di desa Maricaya Selatan adalah karena adanya konflik sosial antara masyarakat lapisan atas dan bawah.

   Yang menjadi dasar ukuran stratifikasi pada bacaan 1 ini adalah ukuran kekayaan dan ilmu pengetahuan
   Dalam bacaan 2 pula dapat terlihat bahwa stratifikasi cenderung terbentuk karena ada konflik sosial di masyarakat antara kelas atas dengan bawah.


   Ilmu pengetahuan menjadi dasar ukuran yang utama namun kekayaan juga sedikit banyak berperan disini
2. Mobilitas sosial
   Tergambar pada bacaan 1 ini bahwa adanya mobilitas sosial secara vertikal khususnya ke atas banyak bermunculan cendikiawan baru yang dimana para cendikiawan ini mendapat sebuah kelas khusus didalam kehidupan masyarakatnya.
   Demikian pula di bacaan 2 adanya mobilitas sosial secara vertikal, hal ini di dasari dengan alasan karena cukup banyak masyarakat Polewali yang menganggap pendidikan penting sehingga kehidupan mereka dapat terangkat.


2 comments: