Minggu, 01 Januari 2012


Bacaan I
SISTEM PONDOK
Wariso Ram

Ikhtisar Bacaan
           
            Kondisi yang serba tidak cukup seperti tidak mempunyai modal, tidak memiliki pendidikan yang tinggi dan terbatasnya lahan pertanian mendorong para migran sirkuler untuk melakukan usaha mandiri secara kecil-kecilan. Mereka yang bergerak di bidang usaha sisa ini bia
sanya mereka memulai usaha dengan modal yang terbatas. Namun mereka mempunyai pengalaman cukup tentang proses produksi karena mereka pernah bekerja sebagai karyawan pembuat barang-barang. Sehingga hal itu dijadikan modal besar yang berharga untuk mengembangkan usahanya.
            Adapun yang tergolong usaha sisa ini antara lain adalah usaha membuat dan menjual makanan atau minuman murah, usaha transport jarak dekat non mesin, usaha pengumpulan barang bekas untuk di daur ulang, usaha jual beli kebutuhan sehari-hari yang tidak tahan lama dan usaha kerajinan. Usaha ini biasanya didasarkan pada azas kerukunan atau azas kekeluargaan, karena jenis usaha ini bersifat padat karya.
            Macam-macam sistem pondok yang dipandang dari besarnya sumbangan tenaga kerja migran sirkuler (penghuni pondok boro) dalam proses produksi dan penjualan hasil tergolong dalam 4 kelompok. Pertama, sistem pondok dimana setiap anggota mempunyai kedudukan yang sama. Jumlah anggota antara 8-12 orang. Contohnya di Kotamadya Bogor, sistem ini dilakukan oleh para migran sirkuler dari Demak dengan menjual keramik dari Kecamatan Mayong (Kabupaten Kudus, Jateng). Sistem ini dilandasi azas kekeluargaan atau azas kegotongroyongan yang cukup kuat karena didalamnya terdapat hubungan yang erat antara anggota yang satu dengan yang lainnya, dengan hasil keuntungan dibagi sama rata sehingga sistem ini disebut sistem pondok gotong royong.
            Kedua, sistem pondok dimana pemilik pondok berkedudukan seperti kepala rumah tangga dan kedudukan para penghuni pondok boro seperti anggota rumah tangga. Sistem ini terdiri dari jumlah anggota yang sedikit, belum adanya pembagian tugas, dilandasi azas kekeluargaan, dimana pemilik pondok menyediakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh migran sirkuler. Sistem ini biasanya oleh pondok yang menggunakan tenaga migran sirkuler dari desa yang jauh. Contoh dalam pondok boro penjual bakso dari Malang dan pondok boro penjual sate ayam dari Madura. Sistem ini biasanya dikenal dengan sistem pondok rumah tangga.
            Ketiga, sistem pondok dimana dikenalnya diferensiasi tenaga yang bertugas dalam proses produksi dengan tenaga yang bertugas dalam pemasaran hasil produksi. Kedudukan pemilik pondok seperti majikan. Tugas karyawan bekerja untuk proses produksi sedangkan majikan memberikan upah, penginapan, jaminan hidup (pangan), dan sedikit bantuan bila karyawan menderita sakit. Resiko kerugian dalam penjualan ditanggung oleh si penjual tapi kadang-kadang ditanggung oleh majikan. Contoh pondok boro porduksi tahu dari Sumedang dan Bumiayu. Sistem pondok ini mempunyai karyawan puluhan, oleh karena itu sistem pondok ini lebih mirp perusahaan perseorangan.
            Keempat, sistem pondok dimana pemilik pondok tidak terlibat dalam kegiatan produksi maupun pemasaran barang tetapi hanya menyewakan tempat penginapan, alat-alat dan mesin. Sehingga para migran sirkuler berperan sebagai penyewa, produsen kecil, dan penjual hasil produksinya. Disini terlihat sistem kekeluargaan kurang erat. Sistem ini dilaksanakan pondok boro produksi tahu oleh migran sirkuler Ciamis dan Cimanggu. Karena pemilik pondok dan migran sirkuler ditandai hubungan sewa menyewa, maka disebut sistem pondok sewa. Disamping keempat sistem itu, sistem pondok campuran dan sistem pondok tidak mempunyai karyawan. Jika dilihat dari jenis kegiatan penghuninya, sistem boro dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu pondok boro buruh, pondok boro penjual, dan pondok boro produksi.

1 comments: