Minggu, 01 Januari 2012




SISTEM  STATUS DAN PELAPISAN
MASYARAKAT SISTEM STATUS
YANG BERUBAH

Runtuhnya Sistem Kolonial dalam Abad Kedua Puluh
(W.F. Wertheim)

Sekitar tahun 1900, Belanda berhasil menegakan kekuasaannya di seluruh kepulauan Indonesia. Di pulau-pulau seberang, uanglah terutama yang melakukan pendobrakan terhad
ap sistem asli yang lama. Pada pedagang kota di Indonesialah yang pada pokoknya melakukan pemberontakan menentang tradisi dan kekuasaan suku. Keresahan di daerah pertanian yang mulai ketara di pulau-pulau seberang dalam tahun 1920an bukanlah hanya merupakan pengaruh kemiskinan sebagai petani sebagai akibat dimobilisasikannyahak milik tanah, tetapi juga disebabkan karena perlawanan yang dilakukan para petani yang baru saja menjadi kaya terhadap struktur tradisional.
Lagipula, sepanjang ada hubungannya dengan pertentangan antara kepentingan petani bumiputera dengan kepentingan pengusaha Barat yang dalam masalah penanaman karet terjadi pada tahun-tahun kritis. Perlawanan di daerah pertanian ini juga mempunyai warna kebangsaan, suatu kecenderungan yang diperkuat oleh kenyataan bahwa pemerintah biasanya bertindak bukan hanya sebagai pelindung dari kekuasaan tradisional para ketua adat, tetapi juga dari perkebunan-perkebunan Barat.
Semenjak tahun 1900, di Jawa dapat pula diperhatikan bertambah meningkatnya perbedaan profesi. Orang Indonesia semakin banyak bekerja di bidang perdagangan di bandingkan dengan sebelumnya, mula-mula sebagai pedagang menengah. Perkembangan selanjutnya ketika masa depresi tahun 30an, suatu kelas bumiputera yang tumbuh telah mulai ada mendobrak susunan masyarakat tradisional lama dan melakukan pengaruh yang bersifat individual. Terlepas dari bentuk pendidikan yang di berikan dan sebagaimana lumrahnya pendidikan itu saja telah mendobrak struktur masyarakat pertanian. Dengan demikian, pendidikan telah mencipatakan suatu kelas baru kaum cendikiawan atau setengah yang menduduki suatu posisi khusus dalam masyarakat. Usaha pribadi untuk naik dalam tingkat-tingkat sosial dalam masyarakat ini tidak mengambil bentuk perjuangan untuk memperoleh laba dari perdagangan atau dari suatu pekerjaan bebas, tetapi dalam suatu perjuangan untuk mencapai pengakuan resmi dengan perantaraan ijazah.
Ikatan-ikatan tradisional memainkan peranan dalam usaha mengumpulkan sejumlah uang untuk memungkinkan seorang anak pergi belajar, karena beberapa orang anggota keluarga harus ikut serta membelanjai sekolah anak itu, sedangkan seluruh keluarga berusaha untuk mengambil untung dari padanya. Dengan demikian, pendidikan telah menciptakan seluruh kelas orang Indonesia yang mempunyai pendidikan Barat sampai tingkat tertentu.
Baru setelah tahun 1990, pendidikan terbuka untuk sejumlah besar orang-orang Indonesia. Permintaan akan tenaga terlatih selalu meningkat. Tetapi untuk pengangkatan yang meminta pendidikan tinggi yang pada umumnya untuk sementara waktu hanya dapat diisi oleh orang-orang Indo, maka diadakan skala gaji khusus, disesuaikan dengan tingkat hidup golongan Indo yang lebih tinggi.
Persaingan yang semakin hebat dalam suatu masyarakat dimana karena adanya suatu sistem ekonomi yang deminan, serta terdapat lebih banyak lamaran dari pada kesempatan kerja, telah menyebabkan para anggota kaum borjuis mempersatukan barisan untuk mencapai solidaritas kelompok. Di pihak lain, di kalangan orang-orang Indonesia terdapat kecenderungan yang lebih besar untuk mengadakan persatuan. Wanita-wanita Indonesia dengan rasa harga diri semakin lama semakin mengindahkan bekerja sebagai pembantu rumah tangga merangkap selir bagi laki-laki eropayang tidak kawin. Dalam tahun kemelut, perjuangan persaingan ini menjadi lebih hebat. Dengan demikian, bahkan sebelum perang kedudukan istimewa yang diduduki orang Eropa dan orang Cina, sebagai halnya dengan kaum bangsawan feodal. Terdapat suatu kecenderungan yang kuat ke arah suatu sistem nilai yang baru berdasarkan kemakmuran individu dan kemampuan intelektual seseorang, tetapi perkembangan ini pada umumnya masih ditahan, baik oleh sisa-sisa struktur feodalmaupun kolonial.


SITUASI SOSIAL DUA KOMUNITAS

DESA DI SULAWESI SELATAN

(Mochtar Buchori dan Wiladi Budiharga)

Desa Maricaya Selatan

Komunitas Maricaya Selatan ini tampaknya terdiri dari 5 golongan masyarakat yang menempati 3 lapisan pokok yaitu:
  1. Golongan pejabat dan kelompok profesional di lapisan atas;
  2. Golongan alim ulam, golongan pegawai dan golongan pedagang di lapisan menengah;
  3. Golongan buruh di lapisan bawah.
Dilihat dari segi ekonomi dalam masyarakat Mericaya Selatan terdapat 3 lapisan masyarakat, yaitu:
  1. Lapisan ekonomi mampu;
  2. Lapisan ekonomi menengah;
  3. Lapisan ekonomi miskin.
Berdasarkan penelitian yang ada dapat di katakan bahwa masyarakat Maricaya Selatan ini golongan buruh miskin merupakan kelas yang agak tercampak. Para pejabat dan kelompok profesional yang termasuk golongan ekonomi mampu dan menduduki lapisan sosial atas tampaknya secara keseluruhan adalah orang-orang yang mendapat pendidikan perguruan tinggi.
Media cetak yang beredar dalam masyarakatnya terdiri dari koran dan majalah yang lazimnya digemari dan terbeli oleh keluarga-keluarga dari kalangan atas. Terdapat pula yang melaporkan bahwa anggota masyarakat yang tidak mampu membeli koran dan majalah tersebut sering meminjam atau turut membaca dari mereka yang mampu membelinya.
Desa Polewali (Semi Urban)
Dalam masyarakat Polewali terlihat adanya tiga lapisan masyarakat yang tersusun seperti tabel di bawah ini;
Ulama, Pemangku Adat dan Pejabat
Atas
Pedagang
Menengah
Buruh
Bawah
Dilihat secara ekonomi, masyarakat Polewali ini nampak terdiri dari 3 lapisan, yaitu lapisan orang “kaya”, kelompok orang yang berkejayaan “sedang” dan kelompok “miskin”. Dikalangan atas, antara pemangku adat dan alim ulama di satu pihak dengan para pejabat terdapat perbedaan yang cukup menyolok dalam gaya hidup mereka.
Para warga Polewali dari kelas menengah tampaknya lebih mengikuti gaya hidup sederhana yang diperlihatkan oleh para pemangku adat dan alim ulama. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa dalam masyarakat Polewali, pendidikan adalah suatu hal yang mereka junjung tinggi.
Sebagai rangkuman dapat di katakan bahwa masyarakat Polewali pada dasarnya adalah suatu masyarakat yang lugas mengisi kehidupan mereka sehari-hari dengan berbagai usaha untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang terdapat dalam lingkungan mereka.

 Analisa bacaan

Bacaan 1
a. Ukuran kekayaan:

0 comments:

Poskan Komentar