Kamis, 01 Maret 2012


Sekolah : dari Athena ke Cuernavaca

Mendengar kata “sekolah” pada umumnya seseorang akan membayangkan suatu tempat dimana orang-orangnya melewatkan sebagian dari masa hidupnya untuk belajar atau mengkaji sesuatu.
Kata itu unmumnya mem
ang diacukan pada suatu system, suatu lembaga, suatu organisasi besar, dengan segenap kelengkapan perangkatnya : sejumlah orang yang belajar dan atau mengajar, sekawanan bangunan gedung, secakupan peralatan, serangkaian kegiatan terjadwal, selingkupan aturan, dan sebagainya, dan seterusnya.
Padahal, dalam bahasa aslinya, yakni kata skhole, scola, scolae atau schola (Latin), kata itu secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. Nah, apa dulunya tak terjadi Si Jan atau Si Jack, yang menyebut kata itu dalam bahasa ibu mereka dengan ejaan school, yakni asal mula kata sekolah dalam bahasa kita sekarang?
Sebenarnya tak ada yang keliru. Pangkal perkaranya bias dilacak kembali jauh ke belakang ke zaman Yunani Kuno, zaman dan tempat asal-muasal kata tersebut.
Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Mereka perlu butuh untuk mereka ketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan kata atau istilah skhole, scola, scolae atau schola. Keempatnya punya arti sama : “waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar” (leisure devoted to learning).
Lama kelamaan, kebiasaan mengisi waktu luang mempelajari sesuatu itu akhirnya tidak lagi semata-mata jadi kebiasaan kaum lelaki dewasa atau sang ayah dalam susunan keluarga pati masyarakat Yunani Kuno. Kebiasaan itu juga kemudian diberlakukan bagi para putra-putri mereka, terutama anak laki-laki, yang diharapkan nantinya dapat menjadi pengganti sang ayah. Karena desakan perkembangan kehidupan yang kian beragam dan kian menyita waktu, sang ayah dan sang ibu merasa bahwa mereka pun tak lagi punya waktu untuk mengajarkan banyak hal kepada putra-putrinya. Karena itu, mereka kemudian mengisi waktu luang anak-anak mereka dengan cara menyerahkannya pada seseorang yang dianggap tahu atau pandai di suatu tempat dimana mereka juga dulunya pernah ber-skhole. Di tempat itulah anak-anak bias bermain, berlatih melakukan sesuatu, belajar apa saja yang mereka anggap memang patut untuk dipelajari, sampai tiba saatnya kelak mereka harus pulang kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa sebagaimana lazimnya.
Maka, sejak saat itulah beralih sebagian dari fungsi scola matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu). Itulah pula sebab mengapa lembaga pengasuhan ini kemudian biasa juga disebut “ibu asuh” atau “ibu yang memberikan ilmu” (alma mater).
Waktu terus berlalu. Para orangtua makin terbiasa saja mempercayakan kepada orang-orang atau lembaga-lembaga pengasuh pengganti mereka di luar rumah tersebut, dalam jangka waktu yang semakin lama dan dengan pola yang semakin teratur pula. Karena makin banyak anak yang harus diasuh, maka mulai pula diperlukan lebih banyak pengasuh yang bersedia meluangkan waktunya secara khusus untuk mengasuh anak-anak di suatu tempat tertentu yang telah disediakan, dengan peraturan yang lebih tertib dan dengan imbalan jasa berupa upah dari para orang tua anak-anak itu.
Adalah seorang John Amos Comenius, melalui mahakaryanya yang kemudian dianggap sebagai fons et erigo nya ilmu pendidikan (tepatnya : teori pengajaran), yakni kitab Didactica Magma, melontarkan gagasan pelembagaan pola proses pengasuhan anak-anak itu secara sistematis dan metodis, terutama karena kenyataan memang adanya keragaman latar belakang dan proses perkembangan anak-anak asuhan tersebut yang memerlukan penanganan khusus.
Melanjutkan tradisi Comenius, adalah seorang berkebangsaan Swiss, Johann Heinrich Pestalozzi, pada abad-18, tampil dengan gagasan yang lebih terinci. Orang ini melangkah lebih jauh dengan mengatur pengelompokan anak-anak asuhannya secara berjenjang, termasuk perjenjangan urutan kegiatan (kemudian disebut “pelajaran”) yang harus mereka lalui secara betahap. Juga pengaturan tentang cara-cara mereka harus melalui pelajaran tersebut pada setiap tahapan menurut batasan-batasan khas dan terbaku. Upaya yang kemudian dikenal dengan nama “Sistem Klasikal Pestalozzi” ini, akhirnya menjadi cikal-bakal pola pengajaran sekolah-sekolah modern yang kita kenal sekarang dengan perjenjangan kelas dan tingkatannya.
Sebegitu jauh, skhole nya masyarakat Yunani Kuno pun menjadi suatu tradisi mendunia dengan berbagai keragaman bentuk pengembangan dan penyesuaiannya di berbagai tempat. Memang, orang-orang Yunani Kuno bukanlah bangsa pertama dan satu-satunya yang memulai tradisi sekolah. Konon, bahkan sebelum Socrates dan muridnya, Plato, menyelenggarakan academia atau lyceum di Athena, bangsa Cina Purba kabarnya juga sudah memulainya pada 2000 tahun sebelum Jesus lahir. Dan, konon, itulah lembaga sekolah tertua di dunia yang pernah diketahui sampai saat ini. Juga, kaum Brahmin India sudah membangun Sekolah-sekolah Veda mereka setengah abad sesudahnya. Sejarah pin mencatat bahwa hamper semua bangsa di dunia ini sesungguhnya memiliki tradisi pola pengasuhan anak dan lembaga peresekolahannya sendiri-sendiri, tentu saja dalam ragam bentuk, sifat dan sebutan yang berbeda-beda.
Pun, nenek moyang kita di Nusantara memiliki tradisi serupa yang diwarisi dari tradisi anak benua India dan kemudian juga dari tradisi jazirah Arab. Tetapi, untuk menjelaskan pengertian sekolah seperti yang kenal dan fahami dalam bentuknya yang umum saat ini, maka akar keberadaan dan alur kesejarahannya yang berpangkal pada zaman dan tradisi Yunani Kuno itulah yang mesti ditelusuri, yang kemudian kita warisi melalui tradisi sekolah-sekolah colonial, berkat kebijaksanaan “politik balas-budi” (etische politiek) kaum sosialis-humanis, Belanda dan Inggris, kala itu.
Ah, kalau begitu, mudah saja menerangkan bagaimana kiranya kata sekolah yang semula cuma berarti pengisian waktu luang, kini bermakna dan mewujudkan diri sebagai suatu system kelembagaan pendidikan yang kadangkala dan celakanya sekaligus, diartikan sebagai wujud hakekat pendidikan yang kadangkala dan celakanya sekaligus, diartikan sebagai wujud hakekat pendidikan itu sendiri. Kata itu mestinya memang difahami dalam konteks kesejarahannya sebagai bagian dari keseluruhan perkembangan peradaban umat manusia dimana lembaga itu mewujudkan diri.
Kesadaran kesejarahan kontekstual inilah yang teramat penting untuk memahami hakekat dinamika semua lembaga kemasyarakatan kita, termasuk lembaga sekolah : bagaimana sebenarnya ia mewujud pada saat ini, sebagai hasil dari suatu perjalanan panjang di masa lalu, dank e arah mana mestinya ia ditujukan untuk menghadapi masa depan yang sangat boleh jadi akan berbeda sama sekali.
..apakah kita sedang bergerak kea rah pendidikan yang diperluas dan menyusun rencana dengan gagasan bahwa perembangan individu adalah suatu praxis, ataukah kita justru sedang menuju kea rah scolae dalam arti kata yang sebenarnya?” (sepenggalan kalimat dari salinan naskah Deklarasi Cuernavaca 1971)

0 comments:

Poskan Komentar