Ebook dan latihan Toefl

Kamis, 16 Agustus 2012

Manfaatkanlah 5 Hal Sebelum Datangnya 5 Hal


Manfaatkanlah 5 Hal Sebelum Datangnya 5 Hal

 

Syaikh ‘Abdul-‘Adhim Al-Badawi (Al-Ashalah nomor 18, 15 Muharram 1419)
Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwasannya beliau berkata kepada seorang laki-laki untuk menasihatinya :

إغتنم خمسا قبل خمس : حياتك قبل موتك وصحتك قبل سقمك وفراغك قبل شغلك وشبابك قبل هرمك وغناك قبل فقك
”Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain) : Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).
Hadits ini merupakan nasihat yang lengkap dan sangat berharga dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi
wasallam. Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang memiliki sifat kasih dan saying kepada umatnya, sehingga beliau menerangkan perkara-perkara yang sangat dibutuhkan olehmereka.
Allah menerangkan sifat beliau dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رّحِيمٌ
”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, penderitaanmu terasa berat olehnya, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah : 128).
Sesungguhnya kaum muslimin termasuk kita sangat membutuhkan nasihat ini. Kita saksikan hari-hari berlalu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, tetapi simpanan kebaikan kita tidak tambah banyak. Kita masih banyak menyia-nyiakan hidup kita untuk untuk bermain dan melakukan perbuatan sia-sia. Orang-orang banyakmelewati waktu yang sangat berharga hanyalah untuk menikmati musik, lagu, TV, berbagai permainan, serta kesenangan lainnya, sekedar mengikuti nafsu syahwat.
Dengarlah dan perhatikanlah firman Allah berikut ini :
وَأَنفِقُواْ مِن مّا رَزَقْنَاكُمْ مّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولُ رَبّ لَوْلآ أَخّرْتَنِيَ إِلَىَ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصّدّقَ وَأَكُن مّنَ الصّالِحِينَ * وَلَن يُؤَخّرَ اللّهُ نَفْساً إِذَا جَآءَ أَجَلُهَآ وَاللّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata,”Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sebentar saja, sehingga aku dapat bersedekah dan akumenjadi orang-orang shalih”. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Munafiquun : 10-11).

Syaikh ‘Abdul-‘Adhim Al-Badawi (Al-Ashalah nomor 18, 15 Muharram 1419)
1. Memanfaatkan hidup sebelum datang kematian
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberi nasihat kepada seseorang supaya memanfaatkan hari-hari selama hidupnya sebelum matinya. Hidup merupakan nikmat yang besar. Hari-hari dalam kehidupan merupakan kenikmatan. Karenanya setiap kali bangun dari tidurnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengucapkan :
الحَمْـدُ لِلّهِ الّذي أَحْـيانا بَعْـدَ ما أَماتَـنا وَإليه النُّـشور
”Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami dan hanya kepada-Nya tempat kembali” (HR. Bukhari).
Hal itu disebabkan oleh karena pada hari itu seseorang berkesempatan bertaubat dan memperbanyak perbuatan baiknya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
خيركم من طال عمره وحسن عمله
”Sebaik-baik kalian adalah orang yang panjang usianya dan bagus amalnya” (HR. At-Tirmidzi).
Orang yang berusia panjang disertai dengan amal shalih, dia akan mencapai derajat yang tinggi serta kenikmatan yang abadi. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membedakan dua orang shahabat (yang beliau persaudarakan), shahabat pertama meninggal dunia, tujuh hari kemudian disusul oleh shahabat yang kedua. Diriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin Khalid As-Sulami :
أخى رسول الله صلى الله عليه وسلم بين رجلين فقتل أحدهما ومات الأخر بعده بجمعة أو نحوها فصلينا عليه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما قلتم فقلنا دعونا له و قلنا اللهم اغفرله وألحقه بصاحبه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فأين صلاته بعد صلاته وصومه بعد صومه إن بينهما كما بين السماء والأرض
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan dua orang laki-laki. Lalu salah seorang di antara keduanya meninggal, kemudian yang satunya meninggal juga sepekan setelah itu. Kami menshalatinya, lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Apa yang kalian ucapkan?”. Mereka menjawab : “Kami berdoa untuknya, kami katakana,”Ya Allah, ampunilah dia dan pertemukanlah dia dengan saudaranya”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Dimana (pahala) shalat orang ini setelah shalatnya (orang yang meninggal lebih dahulu)? Dimana (pahala) puasa orang ini setelah puasanya (orang ini)? Jarak antara kedua shahabat ini seperti jarak langit dan bumi” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).
Perhatikanlah wahai saudaraku – semoga Allah merahmati kita – bagaimana seorang yang mati di atas ranjangnya bias melebihi saudaranya yang mati syahid, derajatnya melampaui derajat saudaranya hanya karena waktu satu pekan yang Allah karuniakan kepadanya (lalu waktu itu dimanfaatkan untuk beramal shalih). Bagaimana kalau dia hidup satu tahun lagi atau lebih ?
Marilah kita manfatkan hidup kita, wahai saudar-saudaraku!
Hendaknya kita sadar, bahwa kematian itu datangnya tiba-tiba.
Kematian itu tidak mengenal usia tertentu, dia tidak mengenal waktu-waktu tertentu dan juga penyakit-penyakit tertentu. Hal ini bertujuan supaya manusia mewaspadainya, menyiapkan diri untuk menemui kematian.
Wahai hamba-hamba Allah, janganlah kalian menjadikan agama sebagai mainan!! Janganlah kalian tertipu oleh kehidupan dunia!! Janganlah tipuan-tipuan itu membuatmu tertipu dari Allah.
إِنّ اللّهَ عِندَهُ عِلْمُ السّاعَةِ وَيُنَزّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنّ اللّهَ عَلَيمٌ خَبِيرٌ
”Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakan besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya” (QS. Luqman : 34).
Allah sudah memberitahukan kepada kita bahwa orang-orang yang sudah mati meminta supaya mereka dikembalikan di dunia ketika mereka tahu betapa berharganya hidup. Allah berfirman :
حَتّىَ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبّ ارْجِعُونِ * لَعَلّيَ أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلاّ إِنّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىَ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
(Demikianlah keadaan orang-orang itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata,”Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (QS. Al-Mukminuun : 99-100).
Qatadah rahimahullah berkata,”Demi Allah, dia tidak meminta dikembalikan agar bisa berkumpul dengan keluarganya, tidak pula supaya bisa mengumpulkan harta atau memnuhi nafsu syahwatnya. Akan tetapi dia meminta hidup kembali supaya bisa berbuat taat” (Tafsir Ibnu Katsir 3/225).
Allah berfirman :
يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَـَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ. وَأَنفِقُواْ مِن مّا رَزَقْنَاكُمْ مّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولُ رَبّ لَوْلآ أَخّرْتَنِيَ إِلَىَ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصّدّقَ وَأَكُن مّنَ الصّالِحِينَ
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagaian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kami; lalu ia berkata : “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sebentar saja, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Al-Munafiquun : 9-10).
Semua orang yang melanggar syari’at akan menyesal ketika sakaratul-maut. Mereka meminta ditangguhkan walaupun hanya sesaat untuk mendapatkan kembali apa yang mereka tinggalkan. Satu hal yang mustahil !! Semua yang terjadi telah berlalu, tidak akan kembali !
Allah berfirman :
وَأَنذِرِ النّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الّذِينَ ظَلَمُوَاْ رَبّنَآ أَخّرْنَآ إِلَىَ أَجَلٍ قَرِيبٍ نّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتّبِعِ الرّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُوَاْ أَقْسَمْتُمْ مّن قَبْلُ مَا لَكُمْ مّن زَوَالٍ. وَسَكَنتُمْ فِي مَسَـَكِنِ الّذِينَ ظَلَمُوَاْ أَنفُسَهُمْ وَتَبَيّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الأمْثَالَ
Danberikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dhalim : “Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang singkat, niscaya kami akan memathi seruan-Mu adan akan mengikuti rasul-rasul”. (Kepada mereka dikatakan) : “Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa, dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan” (QS. Ibrahim : 44-45).

Syaikh ‘Abdul-‘Adhim Al-Badawi (Al-Ashalah nomor 18, 15 Muharram 1419)
2. memanfaatkan kesehatan dan waktu luang
Kesehatan adalah mahkotanya orang sehat. Kesehatan tidak terlihat nilainya kecuali oleh orang yang sakit. Demikian juga waktu luang adalah nilai yang sangat tinggi yang tidak disadari kecuali oleh orang yang sibuk.
Diriwayatkan oleh Al-’Allamah Syam yang bernama Jamaluddin Al-Qasimi rahimahullah. Beliau jalan kaki bersama teman-temannya kemudian beliau melewati warung kopi. Beliau lihat di warung itu banyak orang yang sedang bermain. Beliau diam sejenak, lalu beliau ditanya tentang diamnya itu, kemudian beliau berkata,”Kalau seandainya mereka menjual waktu mereka kepadaku, aku pasti akan membelinya”.
Wahai hamba-hamba Allah, marilah kita manfaatkan kesehatan kita! Kita manfaatkan untuk puasa, shalat malam, berjihad, beribadah ke masjid, menuntut ilmu, dan lainnya. Marilah kita manfaatkan sebelum diuji dengan sakit. Ketika itu kita berharap untuk bisa puasa tapi tidak mampu. Berharap bisa shalat sambil berdiri, tapi tidak bisa berdiri. Berharap bisa berangkat menuju masjid, tapi kedua kaki tidak kuat untuk menyangga badan. Maka kita akan menyesali hari-hari ketika kita masih mampu melakukan semua ibadah, tapi tidak memanfaatkannya!
Hendaknya kita isi waktu-waktu luang kita dengan amalan-amalan shalih yang berguna bagi kita sendiri. Sebab di saat sibuk kita akan berharap bisa mempunyai waktu luang untuk membaca buku dan menghadiri pengajian, tapi tidak mendapatkan waktu itu. Kita pun akan menyesali waktu-waktu yang telah tersia-siakan.
Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, jika kita sudah memanfaatkan waktu sehat dan waktu luang untuk taat kepada Allah, lalu kita sakit atau melakukan perjalanan jauh, maka akan dituliskan buat kita pahala seperti pahala amalan yang dilakukan ketika sehat dan luang. Sebagaimana telah dijelaskan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :
إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا
”Apabila seorang hamba sakit atau dalam perjalanan, maka dituliskan baginya pahala seperti apa yang ia lakukan ketika ia sehat dan tidak melakukan perjalanan” (HR. Bukhari).
Akan tetapi kebanyakan manusia melalaikan hal itu. Oleh karenanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
نعمتان مغبون فـيهما كثير من الناس : الصحة والفراغ
”Ada dua nikmat dimana banyak orang yang rugi (atas kedua nikmat itu), yaitu nikmat sehat dan waktu luang” (HR. Bukhari).
Kata Maghbuun ( مغبون ) dalam hadits di atas pada dasarnya terjadi pada jual beli. Dengan ini Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ingin menjelaskan bahwa orang rugi secara hakiki adalah orang sehat dan memiliki waktu luang lalu tidak bisa memanfaatkan keduanya. Ibaratnya orang memiliki permata yang sangat mahal lalu ditukar dengan kotoran hewan yang tidak berharga.
Ibnu Baththal rahimahullah berkata,”Maksud hadits ini adalah seseorang tidak akan memiliki waktu senggang sampai ia berkecukupan secara ekonomi serta berbadan sehat. Barangsiapa yang memperoleh hal tersebut (berkecukupan dan berbadan sehat) maka hendaklah ia bertekad agar tidak rugi dengan cara mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya. Di antara syukur kepada-Nya adalah dengan mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa meremehkan hal ini, dialah orang yang rugi”.
Ibnu Jauzi rahimahullah berkata,”Terkadang ada orang yang memiliki badan sehat namun tidak memiliki waktu luang disebabkan oleh pekerjaannya. Terkadang jugaada orang yang kaya tetapi dia sakit. Jika ada orang yang memiliki kedua hal tersebut, lalu dia malas untuk berbuat taat, maka dialah orang yang rugi”.
Untuk lebih jelasnya, dunia ini adalah lading, di sana ada perniagaan yang keberuntungannya akan nampak di akhirat. Barangsiapa menggunakan waktu luang dan waktu sehatnya untuk berbuat taat kepada Allah, maka dia adalah orang yang berbahagia. Barangsiapa yang menggunakannya untuk berbuat maksiat maka dialah orang yang rugi. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan dan sehat akan diiringi oleh sakit”.
Ath-Thiibi rahimahullahmengatakan,”Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membuat permisalan bagi mukallaf (orang yang telah dibebani beban syari’at) dengan seorang pedagang yang punya modal. Pedagang ingin mencari untung dengan tetap menjaga keutuhan modalnya. Caranya adalah dengan memilih orang untuk dimodali dan dia harus jujur dan benar supaya tidak rugi. Kesehatan dan waktu luang adalah modal. Maka semestinya seorang hamba mengisinya dengan keimanan dan memerangi hawa nafsu dan setan, supaya meraih keuntungan di dunia dan akhirat. Janganlah dia mentaati hawa nafsu dan setan agar modal dan keuntungannya tidak hilang sia-sia. Kehilangan modal dan keuntungan adalah kerugian yang besar”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya di awal bab Ar-Riqaaq, kemudian diiringi dengan hadits Anas dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :
اللهم لا عيش إلا عيش الأخرة
”Ya Allah, tidak ada kehidupan (hakiki) kecuali kehidupan akhirat” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibnul-Munayyir rahimahullah berkata,”Hubungan maksud hadits yang diriwayatkan Anas radliyallaahu ‘anhu dengan hadits Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma adalah banyak orang tertipu dengan kesehatan dan waktu luang, karena mereka lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ingin menunjukkan bahwa kehidupan yang mereka geluti tidakada artinya sedikitpun, sedangkan kehidupan yang mereka tinggalkan, itulah kehidupan yang sebenarnya. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya maka dialah orang yang rugi”.
Oleh karena itu Salafush-Shalih lebih tamak terhadap waktu dibandingkan kita. Di antara kita ada yang tidak tahu bagaimana memanfaatkan waktunya, bagaimana mengisi waktu luangnya? Kita terkadang mendengar dua orang yang berkata kepada temannya : “Ayo kita habiskan waktu, atau menghilangkan waktu”. Sementara pada salaf sangat tamak pada menit, bahkan detik waktu. Kita lihat mereka saling menasihatkan hal itu.
Inilah dia Ibnul-Jauzi rahimahullah yang berkata kepada putranya,”Wahai anakku, barangsiapa yang mengucapkan subhaanallaahi wabihamdihi maka ditanmkan untuknya satu pohon kurma di surga. Perhatikanlah, orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya, alangkah banyaknya pohon kurma yang disia-siakan”.
Diriwayatkan dari sebagian Salaf, jika dikatakan kepadanya : “Berhentilah, saya ingin berbicara dengan Anda”; maka dia menjawab : “Tahanlah (jalannya) matahari”.
Sebagian ulama salaf jika mereka didatangi tamu, maka dia akan memuliakan tamunya itu dan menjamunya dengan sebaik-baiknya. Jika para tamunya itu berlama-lama di sana, maka dia akan mengatakan : “Tidakkah kalian segera pulang?”.

Syaikh ‘Abdul-‘Adhim Al-Badawi (Al-Ashalah nomor 18, 15 Muharram 1419)
2. memanfaatkan kesehatan dan waktu luang
Kesehatan adalah mahkotanya orang sehat. Kesehatan tidak terlihat nilainya kecuali oleh orang yang sakit. Demikian juga waktu luang adalah nilai yang sangat tinggi yang tidak disadari kecuali oleh orang yang sibuk.
Diriwayatkan oleh Al-’Allamah Syam yang bernama Jamaluddin Al-Qasimi rahimahullah. Beliau jalan kaki bersama teman-temannya kemudian beliau melewati warung kopi. Beliau lihat di warung itu banyak orang yang sedang bermain. Beliau diam sejenak, lalu beliau ditanya tentang diamnya itu, kemudian beliau berkata,”Kalau seandainya mereka menjual waktu mereka kepadaku, aku pasti akan membelinya”.
Wahai hamba-hamba Allah, marilah kita manfaatkan kesehatan kita! Kita manfaatkan untuk puasa, shalat malam, berjihad, beribadah ke masjid, menuntut ilmu, dan lainnya. Marilah kita manfaatkan sebelum diuji dengan sakit. Ketika itu kita berharap untuk bisa puasa tapi tidak mampu. Berharap bisa shalat sambil berdiri, tapi tidak bisa berdiri. Berharap bisa berangkat menuju masjid, tapi kedua kaki tidak kuat untuk menyangga badan. Maka kita akan menyesali hari-hari ketika kita masih mampu melakukan semua ibadah, tapi tidak memanfaatkannya!
Hendaknya kita isi waktu-waktu luang kita dengan amalan-amalan shalih yang berguna bagi kita sendiri. Sebab di saat sibuk kita akan berharap bisa mempunyai waktu luang untuk membaca buku dan menghadiri pengajian, tapi tidak mendapatkan waktu itu. Kita pun akan menyesali waktu-waktu yang telah tersia-siakan.
Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, jika kita sudah memanfaatkan waktu sehat dan waktu luang untuk taat kepada Allah, lalu kita sakit atau melakukan perjalanan jauh, maka akan dituliskan buat kita pahala seperti pahala amalan yang dilakukan ketika sehat dan luang. Sebagaimana telah dijelaskan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :
إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا
”Apabila seorang hamba sakit atau dalam perjalanan, maka dituliskan baginya pahala seperti apa yang ia lakukan ketika ia sehat dan tidak melakukan perjalanan” (HR. Bukhari).
Akan tetapi kebanyakan manusia melalaikan hal itu. Oleh karenanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
نعمتان مغبون فـيهما كثير من الناس : الصحة والفراغ
”Ada dua nikmat dimana banyak orang yang rugi (atas kedua nikmat itu), yaitu nikmat sehat dan waktu luang” (HR. Bukhari).
Kata Maghbuun ( مغبون ) dalam hadits di atas pada dasarnya terjadi pada jual beli. Dengan ini Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ingin menjelaskan bahwa orang rugi secara hakiki adalah orang sehat dan memiliki waktu luang lalu tidak bisa memanfaatkan keduanya. Ibaratnya orang memiliki permata yang sangat mahal lalu ditukar dengan kotoran hewan yang tidak berharga.
Ibnu Baththal rahimahullah berkata,”Maksud hadits ini adalah seseorang tidak akan memiliki waktu senggang sampai ia berkecukupan secara ekonomi serta berbadan sehat. Barangsiapa yang memperoleh hal tersebut (berkecukupan dan berbadan sehat) maka hendaklah ia bertekad agar tidak rugi dengan cara mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya. Di antara syukur kepada-Nya adalah dengan mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa meremehkan hal ini, dialah orang yang rugi”.
Ibnu Jauzi rahimahullah berkata,”Terkadang ada orang yang memiliki badan sehat namun tidak memiliki waktu luang disebabkan oleh pekerjaannya. Terkadang jugaada orang yang kaya tetapi dia sakit. Jika ada orang yang memiliki kedua hal tersebut, lalu dia malas untuk berbuat taat, maka dialah orang yang rugi”.
Untuk lebih jelasnya, dunia ini adalah lading, di sana ada perniagaan yang keberuntungannya akan nampak di akhirat. Barangsiapa menggunakan waktu luang dan waktu sehatnya untuk berbuat taat kepada Allah, maka dia adalah orang yang berbahagia. Barangsiapa yang menggunakannya untuk berbuat maksiat maka dialah orang yang rugi. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan dan sehat akan diiringi oleh sakit”.
Ath-Thiibi rahimahullahmengatakan,”Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membuat permisalan bagi mukallaf (orang yang telah dibebani beban syari’at) dengan seorang pedagang yang punya modal. Pedagang ingin mencari untung dengan tetap menjaga keutuhan modalnya. Caranya adalah dengan memilih orang untuk dimodali dan dia harus jujur dan benar supaya tidak rugi. Kesehatan dan waktu luang adalah modal. Maka semestinya seorang hamba mengisinya dengan keimanan dan memerangi hawa nafsu dan setan, supaya meraih keuntungan di dunia dan akhirat. Janganlah dia mentaati hawa nafsu dan setan agar modal dan keuntungannya tidak hilang sia-sia. Kehilangan modal dan keuntungan adalah kerugian yang besar”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya di awal bab Ar-Riqaaq, kemudian diiringi dengan hadits Anas dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :
اللهم لا عيش إلا عيش الأخرة
”Ya Allah, tidak ada kehidupan (hakiki) kecuali kehidupan akhirat” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibnul-Munayyir rahimahullah berkata,”Hubungan maksud hadits yang diriwayatkan Anas radliyallaahu ‘anhu dengan hadits Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma adalah banyak orang tertipu dengan kesehatan dan waktu luang, karena mereka lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ingin menunjukkan bahwa kehidupan yang mereka geluti tidakada artinya sedikitpun, sedangkan kehidupan yang mereka tinggalkan, itulah kehidupan yang sebenarnya. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya maka dialah orang yang rugi”.
Oleh karena itu Salafush-Shalih lebih tamak terhadap waktu dibandingkan kita. Di antara kita ada yang tidak tahu bagaimana memanfaatkan waktunya, bagaimana mengisi waktu luangnya? Kita terkadang mendengar dua orang yang berkata kepada temannya : “Ayo kita habiskan waktu, atau menghilangkan waktu”. Sementara pada salaf sangat tamak pada menit, bahkan detik waktu. Kita lihat mereka saling menasihatkan hal itu.
Inilah dia Ibnul-Jauzi rahimahullah yang berkata kepada putranya,”Wahai anakku, barangsiapa yang mengucapkan subhaanallaahi wabihamdihi maka ditanmkan untuknya satu pohon kurma di surga. Perhatikanlah, orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya, alangkah banyaknya pohon kurma yang disia-siakan”.
Diriwayatkan dari sebagian Salaf, jika dikatakan kepadanya : “Berhentilah, saya ingin berbicara dengan Anda”; maka dia menjawab : “Tahanlah (jalannya) matahari”.
Sebagian ulama salaf jika mereka didatangi tamu, maka dia akan memuliakan tamunya itu dan menjamunya dengan sebaik-baiknya. Jika para tamunya itu berlama-lama di sana, maka dia akan mengatakan : “Tidakkah kalian segera pulang?”.

0 comments:

Posting Komentar