Rabu, 15 Mei 2013




Diam tertindas apa bangkit melawan..
Kami (Katanya) Mahasiswa sepertinya bukan bahan percobaan..
Ibarat paradoks dengan keseluruan anomali yang berlainan dengan kenyataan yang coba disisip para kalangan manusia terdidik dengan coba mempraktekan hamparan percobaan baru yang kemungkinan tidak cocok lagi diterapkan. Namun terkadang selalu disesuaikan. Kataa Orang dikenal dengan term/istilah Ta’arufan, Ospek, Orisimaru, Opak, Ormik, Pomaru, kegiatan Ramah tamah atau selain sebagainya namun serupa intinya.
Bila dilihat, mari kita telisik bersama rangkaian yang telah menjadi perhatian cukup lama dan setidaknya berhasil terselenggarakan oleh sejumlah besar institusi Perguruan Tinggi di Indonesia. Membentang mulai sekitar Sabang hingga utara benua kangguru (Merauke), polemik tersebut tak ubahnya seakan  mewabah dan terus merambat “liar’ dihias kesan akan ciri khas “aneka Ritual: yang berusaha dicangkokkan pada masa subur perkenalan.
Selanjutnya, jika membuka arsip sejarah, pekan orientasi ini ternyata telah ada sejak tempo lalu, bahkan lebih tua dari pada Budi Oetomo ataupun serekat dagang islam di Indonesia. Sekitar zaman kolonial Belanda tepatnya di Stovia atau sekolah pendidikan dokter hindia belanda (1898-1927). Pada masa itu, Mahasiswa baru digiring untuk menjadi “budak” sang kakak kelas (tingkat) dan menuruti serta menjalankan aturanataupun pekerjaan-pekerjaan seperti halnya membersihkan ruangan senior. Dan berkelanjutan ke masa Geneeskundinge Hooge School (GHS/1927-1942). Pada masa itu, kegiatan seperti ini menjadi lebih formal meskipun masih bersifat sukarela.
Hingga, pasca awal kemerdekaan hal tersebut masih lazim terjadi dilakukan hingga puncak kataris kegelisahan itu timbul di era 60-an dengan timbulnya kesan kontra akan efek yang ditimbulkan. Namun, anehnya kegiatan seperti itu seakan tak ada matinya dan terus digencarkan.
Beberapa hal kadang menjadi patokan akan dasar bagi para pihak penyelenggara kegiatan seperti ini : satu-satunya alasan yang terbilang lumayan logis-lah yakni mencipta “character building” pada tiap-tiap calon “agent of change”. kata Abdul Rahman, Mahasiswa baru jurusan Teknik, disalah satu Perguruan Tinggi Negeri.
olehnya menurut penulis, sebagaimana fungsi dan tujuan dari Mahasiswa itu yakni, bertindak sebagai Social control, Agent of change dan bahkan iron Stock. Semoga para Mahasiswa baru dapat memahami serta pula bagi kalian mahasiswa lama atau bisa jadi bahkan kelamaan jadi mahasiswa dapat mengejewantahkan apa yang dimiliki ataupun telah diketahui bersama akan makna-makna tadi.
Akhir kata, Semoga prosesi perkenalan atau ta’arufan tersebut bukanlan sebagai media atau sarana penjerumusan kearah yang berlainan (negative). Mengingat Psike itu bukan hanya semata apa yang anda lihat, tapi, apa yang akan terjadi nanti (berikutnya)
Wallahu ‘alam, wassalam…

from:http://filsafat.kompasiana.com/2013/08/15/kuliah-di-indonesia-diawali-pembodohan-masa--583834.html

0 comments:

Poskan Komentar