Minggu, 01 Januari 2012


Perubahan Ekologi Pertanian: dari Revolusi Hijau ke System of Rice Intensification
Oleh: Rina Mardiana dan Soeryo Adiwibowo

Pola adaptasi ekologi manusia yang terdapat dalam bacaan pearatama adalah  masyarakat yang secara dinamis mampu mengadaptasi SRI ke dalam pertanian mereka dan alam mengalami perubahan akibat campur tangan manusia, contohnya konversi lahan subur.
Determinasi lingkungan yang terdapat dalam bacaan adalah kebiasaan orang NTT, mengkonsumsi makanan selain beras, seperti kacang-kacangan, ubi dan jagung. Contoh possibilisme lingkungan dalam bacaan adalah teknologi yang membantu pertanian yang dapat dikatakan sebagai faktor penentu.
Ekologi budaya yang terdapat dalam bacaan  yaitu digunakannya SRI sebagai teknik pertanian baru yang mendekatkan petani dengan teknologi sederhana, terjadinya
peningkatan produksi pertanian dikarenakan para petani menggunakan SRI, dan faktor demografi, pola pemukiman, struktur kekerabatan, tata guna tanah, dan tenurial yang merupakan unsur-unsur dimana kebudayaan berinteraksi dengan alam.



Bacaan 2 :
Manfaat Kearifan Ekologi Terhadap Pelestarian Lingkungan Hidup -Studi Etnoekologi di Kalangan Orang Biboki
Oleh: Yohanes Gabriel Amsikan

Pada bacaan ini, pola adaptasi ekologi yang terdapat dalam masyarakat Biboki bersifat dinamis dan berlangsung terus-menerus  yaitu  pada proses penyatuan dengan alam mulai dari cara yang primitif sampai modern-bijaksana. Tidak hanya manusia dan kebudayaan yang menyesuaikan diri dengan alam, namun alam juga mengalami perubahan akibat campur tangan manusia, contohnya tanah gundul akibat sistem tebas-bakar, namun dengan tanah gundul yang ditumbuhi rumput, masyarakat Biboki dapat melakukan kegiatan beternak.
Determinasi lingkungan, contoh yang terdapat dalam bacaan: masyarakat Biboki tidak mengandalkan sektor pertanian saja, tetapi juga mereka mengandalkan sektor peternakan karena tanah yang gundul itu dapat dijadikan tempat mengembalakan hewan ternak.
Sedangkan possibilisme lingkungan contohnya saat pemerintah memberikan larangan-larangan dan peraturan, maka pemerintah dapat menjadi faktor penentu karena merubah kebudayaan atau kebiasaan masyarakat Biboki.

0 comments:

Poskan Komentar