Minggu, 01 Januari 2012




Revolusi Hijau dan Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa
Oleh : Sediono M.P. Tjondronegoro

            Pelaksanaan Revolusi Hijau sekitar tahun 1960-an ini mengacu pada program intensifikasi pertanian tanaman pangan. Program tersebut mengantarkan beberapa teknologi baru dalam teknik pertanian (agronomi) di negara-negara berkembang. Di Indonesia sendiri sebenarnya program intensifikasi demikian sudah mulai diterapkan pada tahun 19
37. Sejak awal tujuan program ini di bawah nama yang berbeda adalah untuk meningkatkan produksi tanaman pasi yang untungnya juga peningkatan tersebut dapat diusahakan tanpa mengubah struktur sosial pedesaan. Revolusi yang dimaksud mengacu pada perubahan serentak tingkat produksi tanaman (hijau) pangan seperti jagung, gandum , dan padi. Hasil Revolusi Hijau ditunjang oleh perkreditan rakyat, koperasi, rehabilitasi pengairan, dan sebagainya.
            Rencana untuk mencapai keswasembadaaan beras pada dasarnya sudah lama dirumuskan oleh Departemen Perencanaan Nasional (Depernas) dalam Rencana Pembangunan Semesta (1961-1969). Sasaran dari Depernas tersebut ternyata tidak berhasil dicapai, ini terlihat dari lebih dari satu juta ton beras diimpor oleh pemerintah Indonesia pada periode 1961-1964. Pendirian Koperasi Pertanian (Koperta) di daerah pedesaan dikelola oleh elit dan birokrasi dan bukan enterpreneur. Sejak tahun1963-1964 program swasembada bahan makanan diintensifikasikan  dengan pendekatan bimbingan Massal (BIMAS). Paket Bimas yang dibeikan mencakup kredit ( natura pupuk buatan, obat-obatan, bibit unggul dan biaya hidup petani (tunai untuk semusim (cost of living)).
            Ternyata petani golongan menengah dan petani kecil atau miskin dengan luas tanah garapan 0,5 ha merasa bahwa kredit yang ditawarkan, walaupun menarik juga menimbulkan risiko yang relatif besar. Tanah hasil garapan sampai 0,75 ha rupanya belum memberikan surplus yang mencukupi benar untuk bisa menjaga-jaga apabila ada musibah yang menimpa penggarap.

Analisis perubahan sosial

1) Deskripsi perubahan sosial  
            Bacaan menceritakan tentang proses perubahan sosial dalam masyarakat akibat Revolusi Hijau. Dengan diawali suksesnya program BIMAS oleh staf pengajar dan mahasiswa IPB dalam meningkatkan hasil padi di daerah Karawang, diadaptasi secara nasional untuk program peningkatan pangan nasional. Revolusi Hijau dengan beberapa program paketnya, mengakibatkan adanya perubahan sosial dalam masyarakat yaitu perubahan pola budaya dan struktur sosial. Perubahan pola budaya tampak pada perubahan nilai trdisional yang bersifat kekerabatan pada mulanya brubah nilai ekonomi yang memperhitungkan untung dan rugi. Hubungan yang mulanya sakap-menyakap menjadi sewa-menyewa, gejala komersialisasi, penggunaan sarana-sarana transportasi, komunikasi informasi dengan teknologi yang lebih maju dan pola konsumsi ala perkotaan, serta memodernisasi dalam pertanian. Perubahan struktur sosial tampak pada perubahan dalam organisasi sosial, sistem pelapisan sosial, dan kelembagaan sosial (Bimas, Inmas, sistem pengairan, dan sistem sewa walau belum ada organisasi baru dari masyarakat). Perubahan tersebut meliputi perubahan struktur dan kuantitas, kecuali pada pelapisan sosial dimana yang berubah hanya komposisinya.

2) Bentuk perubahan dari struktur sosial
            Perubahan pada jumlah personilnya biasanya diikuti dengan berubahnya jumlah masyarakat yang ada di desa karena sebagian dari mereka pindah ke kota. Yang terjadi adalah perubahan mata pencaharian dari petani menjadi penjual jasa atau pedagang kecil.
            Perubahan pada ciri hubungan antara bagian-bagian dari struktur sosial, pada bacaan tampak pada hubungan antara petani yang semula hubungan sakap-menyakap menjadi sewa menyewa, hubungan patron-klien yang semula kekeluargaan menjadi hutang piutang.
            Perubahan fungsi-fungsi dari struktur sosial dalam bacaan tampak para petani yang sudah tidak dapat bercocok tanam lagi karena penguasaan lahan oleh petani kaya, akan cenderung menuju kota akibat pandangan kehidupan kota yang lebih menjajikan, walaupun berbeda dalam kenyataan.
            Perubahan dalam hubungan diantara beragam struktur dalam bacaan tampak pada perubahan jumlah serta komposisi lapisan petani yang menyebabkan adanya perubahan keanggotaan KUD. Petani lapisan atas dan bawah memilih tidak menjadi anggota KUD., sedangkan petani lapisan menengah banyak yang menjadi anggota KUD karena bermanfaat untuk mereka.
            Berkembangnya struktur sosial baru dalam bacaan tampak pada komersialisme dan pola konsumsi ala masyarakat perkotaan, juga perkembangan masyarakat yang semakin individualistik. Arah perubahan sosial dari bacaan adalah unilinier dan laju perubahannya revolusioner.
            Tingkatan dan aspek perubahan dari struktur sosial :
  • Grup                : Kelompok petani kaya dengan cepat ikut serta dalam program Bimas, Inmas, dan Insus setelah mengetahui program ini.
  • Organisasi        : KUD mengalami perubahan jumlah dan komposisi.
  • Institut atau pranata     : Munculnya LSM-LSM dalam masyarakat.
  • Masyarakat       : Masyarakat pedesaan cenderung meniru pola masyarakat kota yang individualistik dan konsumtif.
3) Faktor utama sumber perubahan dalam bacaan
            Faktor utama sumber perubahan pada bacaan yaitu inovasi dan difusi karena telah mendorong perkembangan Revolusi Hijau sehingga menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pertanian yang ternyata berdampak pada perubahan sosial. Dan dalam hal kependudukan yaitu urbanisasi.
4) Dampak dari perubahan sosial
  • Dampak negati : Terjadinya pencemaran lingkungan, hubungan patron-klien yang telah meregang, teradinya kesenjangan sosial.
  • Dampak positif            : Peningkatan dalam produktivitas padi.

0 comments:

Poskan Komentar

thanks you

Kemudahan mendapatkan buku dengan IPB Bookstore