Minggu, 01 Januari 2012



SALURAN PEMERATAAN INFORMASI DI PEDESAAN :
KORAN MASUK DESA ATAU JARINGAN KOMUNIKASI SOSIAL ?
Oleh : M. Alwi Dahlan
Ikhtisar Bacaan
                         Saluran informasi untuk masyarakat pedesaan sekarang bertabah sebuah lagi. Dengan Proyek Koran Masuk Desa, lambat laun akan tumbuh koran-koran lokal yang terbit di desa untuk keperluan desa itu sendiri. Rencana ini menarik. Berbagai sarana informasi telah diperkenalkan dengan tujuan yang baik berupa media masa, saluran kelembagaan atau saran
a interpersonal. Sarana baru adalah televisi. Radio dan kaset telah terjangkau oleh kebanyakan orang di pelosok-pelosok. terdapat kegiatan informatif baru untuk mempercepat berkembangnya komunikasi, misalnya kelompok pendengar, kelompok baca dan kontak tani. Usaha ini adalah adaptasi dari pranata-pranata tradisional seperti arisan, selametan,juga pernikahan sebagai saluran informasi.
            Surat Keputusan Menteri Penerangan tentang proyek ini adalah KMD bertujuan untuk meningkatkan gairah penerbit dan jangkauan pers untuk menjangkau daerah pedesaan. Implisit dari tujuan ini bertujuan pula untuk menaikkan oplah surat kabar. KMD akan menciptakan bnyak lowongan kerja bagi wartawan-wartawan khusus, misalnya reporter berita pedesaan. Pemerataan kesempatan berusaha adalah tujuan utama KMD, yaitu pengembangan industri pers itu sendiri dan pemerataan yang dimaksud diarahkan pada bidang tersebut. Fokus pemikirannya adalah bahwa informasi merupakan penunjang dari media.
            KMD sendiri tidak akan dibagikan secara gartis. Dengan demikian harga KMD sampai ditempat tidak akan begitu murah. Ada juga masalah kemampuan membaca. Kebiasaan membaca masih rendah apalagi membaca ulasan mengenai masalah pembangunan atau berita yang berat. Jika dihadapkan kepada media masa dengan televisi atau radio maka orang desa cenderung memilih media elektronik yang lebih mudah dipahami. KMD sebenarnya mempunyai prospek untuk berhasil sampai ketingkatan tertentu. Tidak semua rakyat desa itu buta huruf, miskin, kurang tanggap dan beum mengerti nilai informasi. Usaha penyebaran KMD belum tentu mencapai hasil yang sama di semua tempat. Pemerataan informasi mempunyai cakupan yang lebih luas, sasaran yang berbeda serta tujuan akhir yang lebih jauh dari sekedar penyorotan fisik. KMD secara selektif memberikan kesempatan lebih baik kepada yang agak mampu dari pada yang betul-betul tidak mampu. Sehingga perbedaan pemilikan informasi antara keduanya makin besar.
            Media mungkin dapat menyebarkan pengetahuan baru dan membangkitkan perhatian, tetapi perananya jauh lebih sedikit untuk sampai ke adaptasi. KMD sebenarnya sudah merupakan suatu inovasi yang dapat membawakan perubahan ke masyarakat sasarannya di desa. Tetapi menghadapi keterbatasan terutama dalam menjalankan fungsinya. Sebagai umumnya pendekatan komunikasi pembangunan yang lainnya di Indonesia, KMD juga bertolak dari model komunikasi dua langkah (two step flow) pada dasarnya menyatakan bahwa arus informasi mengalir dari media ke para pemuka pendapat dan dari mereka itu kebagian-bagian masyarakat yang kurang aktif. Peranan dan pengaruh media massa juga tergantung pada komunikasi interpersonal dalam masyarakat. Banyak kasus yang menunjukan bahwa masyarakat elit menahan informasi yang relevan yang sampai kepadanya. Informasi dan inovasi baru terkadang dipergunakan hanya untuk keuntungan diri sendiri dengan cara merugikan orang lain, termasuk orang miskin. Masalah seperti ini adalah lazim dalam data penyaluran informasi.
            Penilitian mengenai jaringan komunikasi sosial mendapatkan beberapa kesimpulan cukup untuk mempetanyakan asumsi yang dipergunakan untuk merancang arus komunikasi pembangunan, diantaranya yaitu jaringan komunikasi dalam masyarakat sangat informal, pemuka formal tidak dengan sendirinya memimpin jaringan itu, pemua pendapat tidak dapat dikenali dan dietahui dari fungsinya dalam pranata informal yang tradisional, Jaringan komunikasi sosial yang banyak jumlahnya pada desa-desa, kepemukaan pendapat bukan polimorfik tetapi pada umumnya monomorfik, golongan rakyat miskin lebih banyak berkaitan dengan petani pemilik dari pada sesama petani penggarap.
            Dari gambaran ini terlihat bahwa pemasukan informasi bagi masyarakat elit tidak dapat dianggap sebagai pemerataan kepada rakyat banyak. Informasi yang didapat belum tentu sampai pada lapisan bawah. Akibat dari ketimpangan ini antara elit dan golongan yang lebih miskin menjadi semakin besar. Salah satu pemecah masalah ini adalah denganmempergunakan media yang mudah yaitu dengan menyediakan TV umum, tetapi dengan mempertimbangkan kemampuan daya serap mereka. Ini berarti perlunya cara informasi khusus yang relevan dan dapat dirasakan manfaatnya bagi mereka.











Bacaan II
KONDISI SOSIO-KULTURAL DALAM
ERA TELEVISI TRANSIONAL
Oleh : Veven S.P Wardhana
Ikhtisar Bacaan
            Revolusi dalam komunikasi dan informasi telah dan kian menampakan sosoknya. Revolusi komuniksi, revolusi informasi, siaran televisi transional, semuanya tidak mungkin dibendung. Laju pesatnya revolusi teknologi tidaklah mungkin dibendung sekedar lewat surat keputusan, surat imbauan, ataupun bahkan surat keharusan. Batas wilayah geografis dan politis menjadi tiada artinya lagi. Siaran televisi transnasional telah menembus batas-batas itu. Dengan rontoknya batas-batas wilayah ini, sebuah wilayah yang jauh terpencil pun menjadi bagian dari pergaulan dunia. Siaran transnasional, terutama jika dikaitkan dengan kondisi sosial kuktural masyarakat penerima siaran, pada akhirnya telah menjadikan masyarakat tidak lagi terisolasi. Dengan masuknya tayangan transnasional, masyarakat menjadi punya banyak pilihan. banyak pilihan. Siaran yang tidak lagi monopolitis dari negeri tepat tinggalnya, mlainkan juga dari berbagai stasiun. Siaran itu juga mempunyai muatan tata nilai. Sehingga banyak tata nilai yang ditawrakan.
            Dengan adanya siaran televisi transnasional yang memiliki muatan tatnilai tak semata sebagai hiburan itu pun akhirnya menjadi langsung tanpa sensor sampai pada masyarakat. Berbagai tata nilai pun diterima oleh masyarakat. Sehingga informasi pun tak lagi dibatas-batasi dan disensor. Berbagai tata nilai yang masuk, nantinya akan meniscayakan kristisasi masyarakat, selain pendewasaan sikap. Denagn berbagai alternatif tata nilai, dengan kecepatan informasi, masyuarakat akan jadi semakin kritis menghadapi persoalan. Dan sikap pun jadi lebih demokrat, leboh toleran, lebih tidak monopolitis, danlebih tidak tiranik. Apakah nilai sosio-kultural lama akan ditinggalkan ataukah tidak, hadirnya kesenian modern di Indonesia bisa dijadikan referensi. Siaran transnasional pada akhirnya bukan saja telah merobek batas dan otonomisasi sebuah wilayah tetapi juga mencairkan perekat kesadaran kolektif masyarakat penerimanya. Nilai-nilai sosial dan kultur lama akan dipertanyakan. Ikatan tradisi, ikatan lama, ikatan subkultur akan sangat mungkin menjadi luntur.

0 comments:

Poskan Komentar