KRS

KRS
Minggu, 01 Januari 2012

OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
 Arbain Rambey

Pembaca surat kabar di Medan seakan dibombardir dengan iklan yang mengajak agar masyarakat Batak Toba mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pagosit. Lingkungan Bona Pasogit adalah bahasa sub-etnik Batak Toba untuk menyebut daerah tempat tinggal mereka di Sumatera Utara, tepatnya di sekitar Danau Toba. Pemasang iklan itu adalah Parbato atau Pertungkoan Batak Toba, sebuah organisasi kesukuan yang berdiri pada bulan Agustus 1997. Gerakan kesukuan ini menimbulkan pertanyaan, tidakkah gerakan kesukuan merupakan langkah mundur di tengah aru
s globalisasi. Tetapi menurut Ompu Monang, ketua Parbato sejak 1997, banyak masalah hanya bisa didekati secara etnis. Dia juga memaparkan pentingnya tiap etnis di Indonesia punya kesadaran diri untuk menggalang solidaritas kecil yang akhirnya berguna untuk solidaritas Indonesia secara keseluruhan.Batak toba merupakan salah satu sub-etnis suku Batak. Streotip Batak Toba seperti streotip orang batak pada umumnya. Watak keras tampak jelas pada Ompu Monang. Tetapi dibalik sikapnya itu Ompu Monang memiliki banyak “kehangatan” khas Batak.
            Ompu Monang yang nama aslinya Daniel Napitupulu, mengaku bahwa namanya sekarang diambil dari nama cucu pertamanya. Pemakaian nama itu merupakan salah satu kehangatan kekerabatan orang Batak. Selain itu, kehangatan kekerabatan orang batak terlihat pada upacara perkawinan. Di satu sisi, kekerabtan ini membawa arus positif yaitu rasa tanggung jawab pada hal pendidikan dan perawatan seorang anak bisa melebar pada paman-pamannya.Sedangkan sisi negatifnya adalah pemborosan uang dan waktu. Pemborosan uang dapat dilihat pada saat acara perkawinan, tepatnya pada acara pengulosan. Karena masing-masing orang akan memberikan uos tersebut kepada mempelai. Padahal, setelah itu ulos-ulos itu dijual lagi.Contoh lainnya yaitu pada pembangunan makam-makam Batak Toba yang nilainya dapat mencapai ratusan juta per makamnya. Pemborosan waktu juga dapat dilihat pada acara perkawinan yaitu saat pemberian nasehat.Karena akan ada ratusan orang yang memberikan nasehat.
            Untuk membahas penyelewengan tersebut, Parbato sering mengadakan seminar. Bahkan pada pesta perkawinan anak perempuannya, ia akan melaksanakan dengan caranya sendiri namun tidak keluar dari adat Batak Toba.Di pesta itu dia membatasi orang yang memberikan kain ulos dan tidak ada acara pemberian nasehat. Hal itu dilakukan dengan harapan bisa menjadi pemutus penyelewengan adat boros itu karena menurutnya perbuatan nyata adalah nasehat terbaik.




ANALISIS RAGAM KEBUDAYAAN
UNSUR
Wujud
Idiil
Aktivitas
Fisik
1. Bahasa
Kaidah berbahasa.
Suka berbicara ceplas-ceplos dan keras.
memanggil Daniel Napitulu dengan sebutan Ompu Monang.
2. Sistem Teknologi
Modernisasi masyarakat.
Cara pembuatan kain ulos dengan menggunakan mesin.
Mesin pembuat kain ulos.
3. Sistem Ekonomi
Adat Batak Toba yang negatif.
Pemborosan uang saat acara pernikahan dan pembuatan makam
Kain ulos dan makam keluarga.
4. Organisasi Sosial
Hubungan kekerabatan sub-etnis yang erat dalam budaya Batak Toba sehingga terhimpun dalam satu organisasi.
Mengajak masyarakat Batak Toba untuk mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pasogit.
Organisasi Parbato atau Pertungkoan Batak Toba.
5.   Sistem Pengetahuan
Orang Batak merasa memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.
Menyekolahkan anak-anak mereka.
Orang Batak Toba tidak ada yang banyak di Indonesia dan Orang Batak yang berprofesi sebagai dokter relatif banyak.
6. Kesenian
Kekerabatan
Acara perkawinan Batak Toba yang memberikan mempelai kain ulos.
Pengulosan.
7. Sistem Religi




a.                Integritas kebudayaan : Seminar dan usaha-usaha yang dilakukan oleh Parbato untuk mengatasi penyelewengan adat dan mengembalikan kebudayaan Batak yang asli.
b.                Diversitas kebudayaan : Ciri khas orang Batak yang selalu berbicara ceplas-ceplos dan berwatak keras.


KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH DAN MODANG DEWASA INI INVENTARISASI SEBUAH PROSES KEMISKINAN
Franky Raden

            Daerah pemukiman suku dayak Kenyah dan Mondang yang terletak di wilayah Kecamatan Ancalong,Tenggarong merupakan daerah terisolir. Dulunya daerah ini masih masih hidup dalam bentuk keutuhan kebudayaan dan sisitem nilai mereka yang asli. Tetapi setelah kedatangan Belanda yang membawa agama Kristiani,banyak terjadi konflik diantara mereka dan berujung pada perpecahan. Selain masalah keagamaan, kesulitan memperoleh barang kebutuhan barumenjadi penyebab timbulnya konflik. Karena konflik tersebut, ada diantara mereka yang memutuskan untuk meninggalkan daerah asalnya. Inilah awal dari proses pemiskinan yang menggerogotisetiap sisi kehidupan mereka.
            Suku Dayak kenyah dan Mondang saat ini hidup di sepanjang Sungai Kelinjau. Dan para pendatang ini dapat menguasai arus perekonomian suku Dayak. Dilihat dari sepintas lalu kehidupan mereka sehari-hari kelihatan berkecukupan. Namun kenyataannya tidak demikian. Akhirnya, kondisi perekonomianlah yang menjadi salah satu faktor yang paling kuat dalam mengakibatkan kegoncangan dan memojokkan kehidupan orang-orang Dayak. Kondisi ini juga berdampak pada kebudayaan dan kesenian mereka yang terdistorsi. Contohnya, Lamin yang merupakan manifestasi dari tata cara pemerintah dan susunan masyarakat serta merupakan titik sentral dari aktivitas kehidupan mereka dalam ruang penghayatan kebersamaan yang eksistensial, akhirnya tereduksi menjadi bangunan megah yang mati karena setiap keluarga saat ini sudah mempunyai rumah sendiri. Akibat dari proses desentralisasi ini yaitu kesenian menjadi terpisah dari kehidupan sehari-hari mereka. Terciptanya kondisi demikian ini, tidak dapat dilepaskan dari penanganan dan tanggungjawab pemerintah daerah. Tetapi usaha dari pemrintah ini hanya menjebak mereka ke dalam masalah yang rumit.
            Faktor terjahat yang menggoncangkan kehidupan masyarakat Dayak adalah munculnya penguasa hutan yang mendadak mengunci hutan untuk daerah perladangan yang menjadi sumber kehidupan mereka. Ini membuat mereka pontang-panting berusaha mencari alternatif hidup lain. Menurut suku Dayak, tanggalnya sebuah roda kehidupan yang menggerakkan seluruh sistem nilai mereka, merupakan titik awal dari munculnya khaos. Dari sini jelas bahwa proses pemiskinan yang mereka alami adalah proses pemiskinan nilai secara keseluruhan di tiap sisi kehidupan. Fakta yang dekat dari signifikan masalah ini terlihat jelas pada kehidupan suku Dayak Umak Tau di kampung Tanjung Manis. Kampung ini adalah kampung yang paling miskin dan rawan di seluruh kecamatan. Tetapi, di dalam diri mereka terdapat jiwa gotong royong dan kooperatif. Mereka dan suku Dayak lainnya sangat merindukan cara hidup yang lama.
            Sekarang menjadi jelas bahwa masalah kemiskinan di negeri kita bukan hanya masalah bagaimana manusia dapat dapat hidup layak. Tetapi yang lebih mendasar adalah bagaimana menghormati dan memberi hak hidup mereka di atas nilai kultur tradisi sendiri. Hikmah dan kesadaran akan dimensi nilai ini harus diambil untuk membangun strategi politik bangsa kita. Masalah yang dihadapi oleh suku Dayak ini sebenarnya adalah miniatur masalah yang terjadi di Indonesia. Masuknya sistim nilai kota mendadak membuat mereka sadar bahwa bahwa mereka miskin. Reaksi mereka kemudian adalah lekas-lekas menjual harta kebudayaan mereka yang laku kepada orang kota atau menjadi pengemis di hadapan orang-orang asing. Dalam bentuk ekstrimnya melalui turisme ini kita menjual bangsa sendiri yang belum siap sama sekali dihadapkan secara frontal demikian kepada suatu jaringan mekanisme kehidupan modern yang manifestasinya dihadapan mereka hanyalah kelimpahan materi.
            Terciptanya masalah ini mebuktikan bahwa masyarakat kita masih berada dalam kondisi yang anarkhis, tidak ada yang superior antara satu dengan yang lainnya. Kita yang saat ini berada pada posisi yang aktif dan memiliki otoritas seharusnya dapat mengerem proses tersebut kalau kita menyadari bahayanya. Dan saat ini masalah yang harus kita hadapi adalah bagaimana membawa dan memanfaatkan semua posisi dan kemungkinan itu untuk kepentingan negara dan masyarakat banyak.

Analisis Ragam Kebudayaan
UNSUR
WUJUD
Idiil
Aktivitas
Fisik
1. Bahasa
Kaidah Berbahasa
Cara berbicara yang sarat dengan kata-kata yang bernada tinggi
Pantun dan cerita-cerita historis
2. Sistem Teknologi
Teknologi modern
Menggunakan barang dari kota
Radio, kaset, jam tangan, sepatu, mesin jahit.
3. Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi yang mengadaptasi sistem masyarakat kota
·       Berladang dan Bertani
·       Praktik ijon dan jual beli dengan tengkulak
·       Barter
Uang, pasar, perahu dagang, warung dagang dan kebutuhan harian.
4. Organisasi Sosial
Masyarakat
Mengunci hutan untuk daerah perdagangan
Lembaga sosial desa penguasa hutan
5.   Sistem Pengetahuan
Pendidikan
Pendidikan  formal dan pendidikan informal yang mengajarkan tentang kesenian.
Sekolah formal pemerintah.
6.Kesenian
Melestarikan kesenian
Masyarakat sudah meninggalkan Lamin karena sudah mempunyai rumah sendiri
Musik tradisional dan Lamin
7. Sistem Religi
Kepercayaan tehadap nenek moyang dan misionaris Belanda yang membawa agama kristiani
Memuja roh nenek moyang dan sebagian orang Dayak ada yang berpindah agama.
Upacara dan tempat ibadah

a.                Integrasi kebudayaan                      :Pendatang baru yang dapat menguasai arus perekonomian suku Dayak.
b.                Diversitas kebudayaan                    :Sebagian masyarakat suku Dayak yang tetap mempertahankan kepercayaannya dan tidak bersedia berpindah agama.

1 comments:

thanks you